Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 11 Sep 2018 22:30 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Mitos Buaya Putih Penjaga Lawang Sanga Cirebon

Sudirman Wamad
Redaksi Travel
Sungai yang diyakini didiami buaya putih (Sudirman Wamad/detikTravel)
Sungai yang diyakini didiami buaya putih (Sudirman Wamad/detikTravel)
Cirebon - Ada mitos yang mengiringi Situs Lawang Sanga Cirebon. Masyarakat Cirebon meyakini di sekitar sungai yang lokasi berdekatan dengan situs terdapat buaya putih.

Situs Lawang Sanga lokasinya berada di Sungai Kriyan, Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Jawa Barat. Buaya putih yang hidup di Sungai Kriyan itu diyakini sebagai penjaga situs Lawang Sanga.

Lurah Keraton Kasepuhan Cirebon Mohamad Maskun menceritakan buaya putih yang hidup di Sungai Kriyan merupakan jelmaan salah seorang putra dari Sultan Sepuh I Syamsudin Martawijaya. "Buaya putih itu tak buas atau galak. Buaya tersebut merupakan anak dari sultan sepuh pertama yang dikutuk oleh sultan," kata Maskun saat ditemui detikTravel di Keraton Kasepuhan Cirebon, Senin (10/9/2018) kemarin.

(Sudirman Wamad/detikTravel)(Sudirman Wamad/detikTravel)

Maskun mengatakan anak dari Sultan Syamsudin yang dikutuk menjadi buaya putih memiliki nama Elang Angka Wijaya. Ia menceritakan awal mula dikutuknya Elang Angka Wijaya menjadi buaya putih.
Elang Angka Wijaya, lanjut dia, dikutuk lantaran tak nurut dengan Sultan Syamsudin.

"Elang Angka Wijaya ini memiliki kebiasaan kalau makan sambil tiduran, tungkurep gitu. Nah, sama sultan dinasehati agar setiap makan tak seperti itu. Tapi tetap tak nurut, sultan berucap anaknya kalau makan seperti buaya. Ucapan orang dulu kan manjur," ucap Maskun.

(Sudirman Wamad/detikTravel)(Sudirman Wamad/detikTravel)

Lebih lanjut, Maskun menceritakan awalnya buaya putih jelmaan Elang Angka Wijaya itu hidup di lingkungan keraton, tepatnya di salah satu kolam yang berada di bangunan Lunjuk Keraton Kasepuhan. Namun, lanjut dia, saat sudah besar buaya putih tersebut berpindah tempat ke Sungai Kriyan, yang memang lokasiny tak jauh dari keraton.

"Sultan merasa jengke dengan tingkah anaknya ini, karena tak nurut. Hingga akhirnya jadi buaya putih. Tentu ini juga harus menjadi pelajaran hidup," ucapnya.

Ia menambahkan masyarakat sekitar Sungai Kriyan masih mempercayai tentang mitos buaya putih tersebut. Bahkan, lanjut dia, ada tradisi tersendiri saat masyarakat sekitar melihat buaya putih.

"Tradisinya lempar tumpengan ke sungai kalau ada masyarakat yang melihat buaya putih. Sama-sama menjaga lingkungan," ucapnya. (bnl/aff)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED