Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 23 Okt 2018 21:30 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Letusan Tambora yang Bersejarah dan Potensi Wisatanya

Harianto Nukman
detikTravel
Gunung Tambora (dok. Istimewa)
Gunung Tambora (dok. Istimewa)
Mataram - Potensi geowisata di kawasan Gunung Tambora sangatlah besar. Tambora bahkan mencatatkan sejarah sebagai 'Most Historical Eruption in the World'.

Beberapa sumber mencatat, akibat letusan Gunung Tambora di tahun 1815, membentuk kaldera kering terbesar di Indonesia dan ketinggiannya berkurang dari sebelumnya sekitar 4.000 meter dan hingga kini menjadi 2.850 meter.

Tambora terbentuk oleh zona subduksi yang berada di bawahnya. Hal ini meningkatkan ketinggian Tambora hingga 4.300 meter dan menjadikan gunung ini pernah tercatat sebagai salah satu puncak gunung tertinggi di Indonesia.

Sekjend Ikatan Ahli Geologi Indonesia Daerah Nusa Tenggara, Kusnadi menjelaskan, karena sejarah letusan Gunung Tambora yang mendunia dan merupakan salah satu outstanding geological feature atau keunikan geologi yang berkelas dunia. Di samping itu ada pulau vulkanik Satonda dengan kekayaan geologi dan biodiversity yang unik.

"Akibat letusan itu, banyak sejarah yang tercatat seperti terkuburnya 3 kerajaan di lereng Tambora, yaitu Kerajaan Tambora, Pekat dan Sanggar. Perubahan iklim dunia, dan kekalahan tentara Napoleon diindikasikan karena kejadian letusan itu," papar Kusnadi, Selasa (23/10/2018).

(dok. Taman Nasional Gunung Tambora)(dok. Taman Nasional Gunung Tambora) Foto: undefined


Seperti diketahui, Pertempuran Waterloo terjadi pada 18 Juni tahun 1815 di dekat Kota Waterloo, sekitar 15 km selatan Brussel, ibukota Belgia. Perang ini merupakan pertempuran terakhir Napoleon. Dua bulan setelah letusan Tambora pada 15 April 1815. Kekalahan dalam perang itu menjadi catatan penutup tentang sejarah Napoleon sebagai Kaisar Prancis.

Kusnadi juga memaparkan tentang potensi pariwisata yang ada di Gunung Tambora terletak dari dampak letusannya. Tahun lalu, persisnya 24 November 2017, Tambora ditetapkan menjadi Geopark Nasional. Dia mengatakan tema dari Geopark Tambora adalah the most historical eruption in the world.

Selain itu, kata alumnus University of Twente Belanda ini, Satonda yang masuk dalam kawasan Geopark Tambora merupakan Gunung api tua yang pernah 2 kali meletus besar, sehingga terdapat 2 morfologi kaldera di dalamnya.

Di dalam tanah Satonda ditemukan biodiversity berupa stromatolit yang merupakan organisme purba dan hanya ditemukan di 3 lokasi di dunia.

"Apabila digabungkan antara keunikan geologi letusan, sejarah yang ada, dan keunikan biologi di sekitarnya, saya yakin Tambora akan menjadi bagian dari anggota Global Geopark Network," ujar Kusnadi.

 (dok. Taman Nasional Gunung Tambora) (dok. Taman Nasional Gunung Tambora) Foto: undefined


Tinggal sekarang, kata dia, cara pengelolaannya saja. Perbaiki infrastruktur sepanjang lokasi, perbanyak panel-panel informasi, sediakan kendaraan terjangkau dari Bandara Bima ke lokasi, taruh pusat informasi di Bandara Bima, perbaiki pelayanan masyarakat di lokasi, perbanyak dan perbaiki atraksi.

Di Tambora, tambah Kusnadi, banyak onggokan batuan yang bernilai penting secara geologi dan bisa jadi story telling yang menarik bagi wisatawan.

Ada nilai budaya juga seperti situs kerajaan yang terpendam oleh letusan Tambora yang dapat menceritakan dahsyatnya letusan Tambora dan bisa jadi media edukasi mitigasi bencana.

Harapan itu bisa tercapai dengan perencanaan dan action plan yang baik, karena geopark tidak terlepas dari aspek pengembangan ekonomi masyarakat, artinya masyarakat lokal harus terlibat dalam kemajuan geopark untuk kepentingan mereka sendiri. (wsw/aff)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED