Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 22 Mei 2019 11:30 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Mengenal Sejarah Tanah Abang yang Ramai Aksi Massa

Johanes Randy Prakoso
detikTravel
Pasar Tanah Abang Blok A terkini (Trio Hamdani/detikcom)
Pasar Tanah Abang Blok A terkini (Trio Hamdani/detikcom)
Jakarta - Kondisi Tanah Abang pagi ini masih ramai akibat aksi para demonstran. Jauh ke belakang, Tanah Abang menjadi saksi bisu dari masih kebun sampai Geger Pecinan.

Jauh sebelum jadi pusat grosir terbesar di Asia Tenggara, dahulu Tanah Abang atau yang disebut warga Betawi sebagai Tenabang mengawali perjalanannya sebagai kebun di Jakarta Pusat.

Penulis Abdul Chaer dalam bukunya yang berjudul Tenabang Tempo Doeloe (2017) menjelaskan, kalau dahulu Tanah Abang merupakan area yang rimbun serta asri.

Saat itu, Tanah Abang masih dikuasai Belanda atau VOC. Baru di tahun 1648, seorang Kapitan China bernama Phoa Beng Gam meminta izin pada VOC untuk menggarap lahan kosong tersebut dan menanaminya dengan pohon-pohon yang menghasilkan.

Dari asal muasal, nama Tanah Abang merujuk pada warna tanah di sana yang berwarna merah atau abang. Sebutan itu pun pertama kali disematkan oleh balatentara Mataram yang menyerbu Batavia di tahun 1628,

Blok B Pasar tanah AbangBlok B Pasar tanah Abang (Rengga Sancaya/detikcom)
Wartawan senior dan budayawan Alwi Shahab atau yang dikenal sebagai Abah Alwi juga menuliskan dalam catatannya, perihal Tanah Abang yang mulai berkembang di tahun 1735 di bawah anggota dewan Hindia Belanda Yustinus Vink seperti dikutip detikcom, Rabu (22/5/2019).

Di tahun tersebut, Yustinus pun mendirikan Pasar Tanah Abang berbarengan dengan Pasar Senen. Sayang, denyut nadi pasar sempat terganggu di tahun 1740 saat terjadi kerusuhan antara Belanda dan etnis Tionghoa atau yang dikenal lewat Geger Pecinan.

Tak sedikit pedagang dari etnis Tionghoa yang tewas saat itu. Kawasan Kali Besar di Kota pun menjadi saksi bisu, bagaimana air di sungai itu berwarna merah akibat jenazah yang dibuang di sana.

Keramaian yang kerap terjadi di Tanah AbangKeramaian yang kerap terjadi di Tanah Abang (Rengga Sancaya/detikcom)
Perlahan, tragedi berdarah itu mulai terlupakan lewat derap pembangunan Paar Tanah Abang yang dimulai kembali tahun 1881. Saat itu pasar mulai dibangun kembali. Aktivitas perdagangan pun kembali hidup.

Hanya saja, pasar tak kembali beroperasi penuh seperti sediakala. Saat itu Pasar Tanah Abang hanya dibuka pada hari Sabtu hingga dikenal juga dengan Pasar Sabtu. Adapun seiring dengan perjalanannya, pasar juga dibuka di hari Rabu.

Stasiun Tanah AbangStasiun Tanah Abang (dok ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
Kemajuan Tanah Abang pun kian melejit di era pemerintahan Gubernur Jakarta Ali Sadikin di tahun 1972. Di bawah kepemimpinan Bang Ali, Pasar Tanah Abang dibangun hingga tiga lantai dan 4 blok.

Perdagangan di Pasar Tanah Abang pun kian mantap setelah hadirnya Stasiun Tanah Abang. Keramaiannya pun kian menjadi pada momen bulan Ramadhan seperti sekarang.

Di masa kepemimpinan Presiden Jokowi, tak jarang nama Pasar Tanah Abang diperkenalkan pada duta besar dan tamu penting dari negara tetangga seperti bos Facebook Mark Zuckerberg dan lainnya. (rdy/fay)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA