Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 10 Jun 2019 18:20 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Ini Tempat Mengenal Bonsai di Kabupaten Semarang

Aji Kusuma Admaja
detikTravel
Pohon bonsai di Galeri Ungaran Bonsai Society (Aji Kusuma Admaja/detikcom)
Pohon bonsai di Galeri Ungaran Bonsai Society (Aji Kusuma Admaja/detikcom)
Kabupaten Semarang - Pohon bonsai identik sebagai salah satu budaya khas China dan Jepang. Hanya tak perlu jauh-jauh, ada Galeri Ungaran Bonsai Society di Kabupaten Semarang.

Galeri Ungaran Bonsai Society (UBS) berada Jalan Ki Sarino Mangunpranoto No. 6 Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang. Lokasinya cukup mudah dicari, sebab hanya berjarak 500 meter dari Terminal Ungaran.

Detikcom berksempatan menyambangi Galeri UBS. Sejak memasuki pintu gerbang, kedatangan kami sudah disambut oleh belasan bonsai yang begitu cantik dan memesona.

Ada beberapa jenis bonsai yang terletak di bagian depan galeri, mulai dari bonsai pohon asam, serut, cemara udang, lohansung dan tak ketinggalan bonsai pohon beringin.

"Yang kami pajang di depan ini, bonsai-bonsai siap kontes dan siap koleksi. Usianya masing-masing mulai dari hitungan lima tahun hingga ratusan tahun," jelas Arif sembari menemani detikcom melihat bonsai di halaman Galeri UBS, Senin (10/06/2019).

Ia menambahkan, berdasarkan pengalamannya memelihara bonsai sejak 2013 silam, bonsai bukan sekadar tanaman hias melainkan sebuah karya seni yang berpadu dengan ilmu botani.
Traveler bisa membeli atau belajar bonsai Traveler bisa membeli atau belajar tentang bonsai (Aji Kusuma Admaja/detikcom)
Selain itu, dalam merawat bonsai ketelitian sewaktu memilah bagian yang perlu dibiarkan tumbuh atau dipotong adalah kemampuan yang harus terus menerus dipelajari.

"Harus belajar dari dasar tentang merawat bonsai, oleh sebab itu, di UBS kami membangun kelas belajar yang bernama Ganesa Bonsai School (GBS) pada tahun 2016 hingga saat ini sudah lima angkatan yang belajar di GBS. Mereka belajar mulai dari pemilihan jenis pohon, pemupukan, pemotongan, perawatan hingga teknik membentuk pola pohon bonsai yang diinginkan. Terkait intensitas pembelajaran, setiap satu angkatan, kami buat 10 kali pertemuan, soal biaya bergantung kemampuan, yang jelas kami tidak menjual ilmu, hanya karena guru kita datangkan dari Jakarta, tiap pertemuan kita iuran untuk tiket dan akomodasi pengajar," jelas Arif.

Di bagian belakang Galeri UBS, terdapat kebun pembibitan bonsai dan saung yang digunakan untuk kelas GBS. Jumlah bonsai yang berada di belakang galeri, jumlahnya tak kalah banyak jika dibandingkan yang berada di bagian depan.
Beberapa tanaman tampak masih seperti pohon biasa, menurut Arif masih membutuhkan waktu beberapa tahun lagi supaya bibit tanaman bisa maksimal menjadi bonsai.

"Bonsai secara bisnis cenderung stabil, maka dari itu jangan takut merawat bonsai hingga bertahun-tahun. Semakin tua dan alami, maka semakin mahal harga bonsai, karena kita sendiri yang menentukan angkanya. Jadi bonsai Rp 50 ribu itu ada, tapi bonsai Rp 150 juta saya juga pernah jual. Jadi bukan angka, tetapi seni dan keindahan bonsai itu yang jadi nilai lebih," tegas Arif.
Lokasinya ada di Kabupataten Semarang Lokasinya ada di Kabupataten Semarang (Aji Kusuma Admaja/detikcom)
Ditemui detikcom saat memotong tanaman, salah seorang alumni kelas GBS, yang kini terjun sebagai trainer bonsai, Ahmad Syehman, mengaku senang bisa menekuni budidaya bonsai. Baginya, memelihara bonsai itu unik dan memiliki tantangan.

"Ya setiap bonsai itu berbeda, meski jenis tanamanya sama. Jadi nggak ada bonsai yang sama persis, nah di situlah tantangannya bagaimana saya bisa merawat bonsai supaya maksimal pertumbuhannya. Jadi perlu diperhatikan betul perkembanganya," terang Syehman.

Ia menambahkan, perawatan bonsai itu tergolong mudah, karena jenis pohon bibit bonsai memiliki daya tahan yang baik. Terlebih ia sampaikan, bonsai tergolong bisa hidup di berbagai kondisi dan cuaca.

"Kalau soal daya tahan, sebagian besar pohon bonsai itu kuat hidup di berbagai cuaca. Hanya ada beberapa saja, seperti cemara yang butuh udara dingin untuk hidup, atau serut yang malah tidak bisa hidup di daerah dataran tinggi. Kalau soal perawatan ya, dikontrol saja penyiraman dan pemupukan, jangan sampai telat atau berlebih," tandas Syehman (rdy/rdy)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA