Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 09 Agu 2019 08:25 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Kesemrawutan (Juga) Membayang di Terminal Pulogebang

Johanes Randy Prakoso
detikTravel
Melihat Suasana Terkini Terminal Pulo Gebang (Agung Pambudhy)
Melihat Suasana Terkini Terminal Pulo Gebang (Agung Pambudhy)

FOKUS BERITA

Terminal Rasa Bandara
Jakarta - Terminal bus di Indonesia identik dengan kesan semrawut. Hal ini juga menjadi tantangan untuk Terminal Pulogebang yang ingin tampil modern dan rapi.

Asap knalpot hingga teriakan dan serbuan calo yang menawarkan tiket bus, adalah sedikit gambaran akan terminal bus Indonesia. Sudah bukan rahasia umum, kalau gambaran itu masih lumrah terjadi di banyak terminal bus di Indonesia.

Akhir tahun 2016 silam, pihak Pemerintah dan Pemprov DKI Jakarta berusaha mengubah citra tersebut dengan melakukan soft launching Terminal Pulogebang di Jakarta Timur.

Digadang-gadang sebagai terminal rasa bandara sekaligus yang terbesar di Asia Tenggara, tak sedikit publik yang berharap banyak akan terminal yang satu ini.

Selang tiga tahun setelah peluncuran, detikcom pun kembali menyambangi Terminal Pulogebang pada Kamis pekan lalu (1/8/2019). Harus diakui, tak banyak yang berubah dari terminal tersebut.

Mulai dari pintu masuk terminal yang terkoneksi dengan parkiran, detikcom pun langsung dihampiri oleh sejumlah orang-orang seperti calo yang menanyakan tujuan. Mereka ini pun banyak dijumpai hingga lantai Mezzanine yang merupakan lokasi loket PO Bus. Tentunya hal ini membuat suasana jadi tak nyaman.

(Agung Pambudhy/detikcom)(Agung Pambudhy/detikcom)

Padahal detikcom datang pada saat jam makan siang yang cenderung lengang. Apabila datang di pagi atau sore hari, konon kondisi 'khas terminal' itu akan lebih terasa.

Tampak juga sejumlah UMKM yang berbaris di sepanjang lantai. Hanya saja belum ada tenant atau franchise populer seperti di mal. Lantai 3 Blok C yang sejatinya dimaksudkan sebagai foodcourt pun masih belum beroperasi.

Untuk sebuah terminal yang super besar, kesan kosong begitu terasa di Terminal Pulogebang. Malah dalam perjalanan menuju Blok D yang dikhususkan untuk angkot dan TransJakarta, bisa dijumpai orang hingga supir angkut yang asyik tidur di lantai hingga tangga jalan.

(Agung Pambudhy/detikcom)(Agung Pambudhy/detikcom) Foto: undefined

Sedangkan dari sisi pelayanan, petugas terminal tampak sigap membantu penumpang. Petugas keamanan pun mudah dijumpai di tiap lantai. Hanya agar lebih berimbang, detikcom pun menghampiri pihk pengelola terminal untuk mendapat gambaran lebih.

Di kantor pengelola, detikcom pun disambut oleh salah satu staff Dishub DKI Jakarta yang mengelola Terminal Pulogebang, Krisna Febriatma. Pertama soal calo, dijelaskan oleh Krisna bahwa tidak demikian.

"Karena mindset orang yang calo-calo itu. Mereka bukan calo, tapi karyawan PO yang kita data dan kita keluarkan edaran bahwa tiap karyawan PO harus mengenakan ID card," jelas Krisna.

Sejatinya para pengunjung bisa membeli tiket bus dengan nyaman di loket tiket PO Bus yang diinginkan. Hanya saja praktek para agen bus yang kerap menjaring calon penumpang di terminal sudah jadi barang lama yang tak terurai.

(Randy/detikcom)Staff Dishub DKI Jakarta yang mengelola Terminal Pulogebang, Krisna Febriatma (Randy/detikcom)

Menurut Krisna, hal itu lebih disebabkan karena sistem PO Bus yang masih konvensional dan berpatok pada sistem setoran. Sistem itu harus diubah agar praktek di lapangan berubah.

"Jadi pola operasional PO ini mereka berbeda-beda. ada yg masih sistemnya setoran, ada yang sedikit penumpang berangkat. Yang pola setoran ini harus diubah. Karena mereka kalau nggak memenuhi target mereka nombok. Makanya kita coba transisi ke tiket online," ujar Krisna.

Di luar para agen PO Bus yang banyak berkeliaran dan membuat suasana terminal kurang nyaman, tak banyak hal baru di Terminal Pulogebang pasca soft launching. Selaku pengelola, Krisna mengakui fakta bahwa terminal masih apa adanya. Perlu banyak hal dibenahi.

"Kita selama ini mengurus transportasi, tapi sudah ada minat dari beberapa vendor. Jadi kita memang proses transisi. Kita berjalan dan mengarah ke sana. Sayang kalau bangunan sebesar ini," ujar Krisna.

Sebagai satuan yang bekerja di bawah Dishub DKI Jakarta, mengelola terminal sekelas Pulogebang bukan perkara mudah. Apalagi sebelumnya mereka hanya fokus mengurus transportasi, bukan mengelola ruang publik sekelas bandara beserta fasilitas pendukungnya. Tentu perlu bantuan dari sejumlah stakeholder lain.

Fakta itu pun semakin sulit, mengingat posisi Terminal Pulogebang yang berada di pinggiran Jakarta Timur dan berbatasan langsung dengan Bekasi. Pembangunan di area perbatasan memang kerap jarang tersentuh, begitu pun di Terminal Pulogebang.

Itulah sedikit gambaran umum dari Terminal Pulogebang. Sekiranya juga mewakili mayoritas potret terminal bus di Jakarta dan kota besar lainnya di Indonesia, di mana perlu banyak dibenahi.

Simak Video "Kemenhub Rencana Bangun Terminal Sekelas Bandara"
[Gambas:Video 20detik]
(bnl/fay)

FOKUS BERITA

Terminal Rasa Bandara
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED