Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 17 Agu 2019 13:30 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Kisah Naskah Proklamasi Versi Sjahrir & Tugu Kemerdekaan di Cirebon

Sudirman Wamad
detikTravel
Tugu Proklamasi yang berada di sekitar Alun-alun Kejaksan Cirebon (Sudirman Wamad/detikcom)
Tugu Proklamasi yang berada di sekitar Alun-alun Kejaksan Cirebon (Sudirman Wamad/detikcom)

FOKUS BERITA

Saga Naskah Proklamasi
Cirebon - Sejarah mencatat, Cirebon merdeka lebih dulu dari Jakarta dengan Naskah Proklamasi dari Sjahrir. Tugu Proklamasi Cirebon jadi saksi sunyi peristiwa itu.

Tanggal 15 Agustus 1945 merupakan hari bersejarah bagi Cirebon. Tepat 74 tahun lalu, tokoh nasional dr Soedarsono memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Dia adalah dokter di RS Oranje yang sekarang bernama RSUD Gunung Jati.

Dia kemudian menjadi Mendagri pada Kabinet Sjahrir II. dr Soedarsono juga merupakan ayah dari mantan Menteri Pertahanan (Menhan) era Presiden SBY, Juwono Soedarsono.

Pembacaan naskah Proklamasi dilakukan di Alun-alun Kejaksan Cirebon pada 15 Agustus 1945, dua hari sebelum Sukarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Tanda dari pembacaan proklamasi itu adalah sebuah Tugu Proklamasi di perempatan Kejaksan, Cirebon. Sebuah tugu yang pelan-pelan juga dilupakan oleh orang Cirebon sendiri.

Tulisan prasasti peringatan kemerdekaan (Sudirman/detikcom)Tulisan prasasti peringatan kemerdekaan (Sudirman/detikcom)
detikcom mengunjungi tugu itu, Jumat (16/8/2019). Hampir tidak ada tanda bahwa itu adalah monumen yang sangat penting. Sebuah prasasti terpasang di sana, sepertinya menunjukan pengakuan Presiden Sukarno pada tahun 1946, terhadap apa yang dilakukan dr Soedarsono dan tokoh pemuda di Cirebon.

"Batoe pertama diletakkan pada tanggal 17-VIII-1946 Djam 10.30 oleh P. Toean Presiden Bersama Ketua Dewan Perdjoeangan Daerah Tjirebon sebagai lambang persatoean antara pemerintah dan ra'jat dalam perdjoeangan menegakkan Republik Indonesia yang 100 % merdeka," begitu tulisan pada prasasti.

Sejarawan dan budayawan Cirebon, Nurdin M Moer menyebutkan Soedarsono tergabung dalam kelompok Sutan Sjahrir. Memang waktu itu terjadi pergolakan-pergolakan untuk memproklamasikan bangsa Indonesia.

"Kemudian, muncul dari kelompok Sjahrir yang mendelegasikan Soedarsono untuk membacakan Naskah Proklamasi di Alun-alun Cirebon, sekarang jadi Alun-alun Kejaksan," kata Nurdin saat berbincang dengan detikcom di kediamannya di Perumnas Cirebon, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon.

Sejarawan dan budayawan Cirebon Nurdin M Moer (Sudirman Wamad/detikcom)Sejarawan dan budayawan Cirebon Nurdin M Moer (Sudirman Wamad/detikcom)
Nurdin menyebutkan sejumlah literatur juga menyebutkan adanya pembacaan proklamasi di Cirebon, yang lebih awal dibandingkan proklamasi kemerdekaan di Jakarta. Nurdin menyebutkan Soedarsono membacakan Naskah Proklamasi setelah mendapatkan kabar dari Sjahrir tentang pemberitaan Jepang yang menyerah kepada sekutu.

"Soedarsono melakukan hal itu setelah menerima berita dari Syahrir, bahwa Radio BBC London memberitakan tentara Jepang telah menyerah kepada sekutu pada 14 Agustus 1945," kata Nurdin.

Selain sejumlah literatur, Nurdin juga mengaku saat remaja pernah diceritakan tentang terjadinya pembacaan naskah proklamasi yang dilakukan Soedarsono oleh ayahnya, Moch Hasyim. Saat itu, lanjut Nurdin, ayahnya tinggal tak jauh dari Alun-alun Kejaksan.

"Kebetulan saksi mata bapak saya sendiri. Tinggalnya 200 meter dari alun-alun, ya sehingga bisa cerita kepada saya. Hanya dihadiri puluhan orang," katanya.
Alun-alun Kejaksan (Sudirman Wamad/detikcom)Perempatan Kejaksan (Sudirman Wamad/detikcom)
Selain memproklamirkan kemerdekaan di Alun-alun Kejaksan, kelompok Syahrir juga membacakan naskah Proklamasi di Alun-alun Ciledug Cirebon. Nurdin menyayangkan Naskah Proklamasi versi Sjahrir yang dibacakan Soedarsono itu hilang.

"Sekarang tidak tahu, apakah naskah versi Syahrir atau sama seperti yang Sukarno bacakan. Kita pernah cari tahu tapi tidak ketemu, kita cari di Arsip Nasional dan daerah tak ketemu," katanya.

Selain kehilangan naskah, dikatakan Nurdin untuk membuktikan secara detil pembacaan naskah tersebut juga sulit karena kehilangan saksi hidup. Terlebih lagi, teks Proklamasi yang dibacakan Soedarsono itu tak begitu mendapat sambutan dari masyarakat.

"Ini terjadi karena Proklamasi tersebut lahir dalam friksi ideologis di kalangan pemuda pergerakan dan ketidakberdayaan Sjahrir untuk membujuk Bung Karno dan Bung Hatta mempercepat Proklamasi. Di samping itu juga pamor Bung Karno di mata rakyat lebih kuat dibandingkan Sjahrir. Sehingga, Proklamasi di Cirebon tidak bergema di seluruh Nusantara," katanya.

Wisatawan yang mengisi libur HUT Kemerdekaan RI di Cirebon, coba yuk mampir melihat tugu proklamasi Cirebon ini. Letaknya dekat sekali dengan Masjid Agung At Taqwa dan Alun-alun Kejaksan. Tinggal mendekat ke lampu merah, tugu itu berdiri sendirian di sana, menunggu untuk kembali dikenali oleh para anak bangsa.

Simak Video "Jokowi di HUT RI: Fokus ke SDM, Budi Pekerti Penting"
[Gambas:Video 20detik]
(rdy/fay)

FOKUS BERITA

Saga Naskah Proklamasi
BERITA TERKAIT
BACA JUGA