Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 15 Sep 2019 21:50 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Kalondo Lopi, Tradisi Masyarakat Maritim di Bima

Herianto Nukman
detikTravel
Tradisi Kalondo Lopi di Bima (Forum Pokdarwis Bima/istimewa)
Tradisi Kalondo Lopi di Bima (Forum Pokdarwis Bima/istimewa)
Bima - Masyarakat nelayan di Bima, NTB punya ritual meluncurkan kapal menuju laut. Ritual itu disebut Kalondo Baga atau Kalondo Lopi.

Meluncurkan perahu atau menurunkan kapal menuju ke laut hanya ada pada masyarakat yang memiliki sejarah budaya kemaritiman yang cukup kuat.

Kalondo Baga dan Kalondo Lopi merupakan suatu ritual tradisi yang ada pada masyarakat pesisir yang sebagian besar hidupnya bekerja sebagai nelayan.

Kalondo dalam bahasa lokal suku Bima, berarti menurunkan atau meluncurkan. Sementara baga adalah perahu berukuran kecil yang memiliki bagang pada sisi samping dan lopi adalah sebutan untuk kapal yang berukuran besar.

"Kalau Kalondo Lopi itu adanya di Bonto dan Kolo untuk Kota Bima. Tapi yang biasa mereka buat di sana itu adalah bagang. Kalondo Baga," ujar Ketua Forum Pokdarwis Bima, Ihsan Iskandar, pada detikcom, Sabtu (14/9/2019) kemarin.

(Forum Pokdarwis Bima/istimewa)(Forum Pokdarwis Bima/istimewa)


Kolo adalah sebuah kelurahan yang letaknya berada di daerah pesisir utara Kota Bima. Masyarakat di sini sebagian besar sebagai petani dan nelayan. Ihsan menjelaskan waktu yang dibutuhkan untuk proses pembuatan bagang.

"Kalau proses tergantung ketersediaan biaya dan bahan. Kalau secara teknis, tukang bisa membuat satu bagang dalam waktu 3 atau 4 bulan saja. Itu pun tergantung seberapa banyak pekerja yang dipekerjakan," jelasnya.

Berbeda halnya dengan masyarakat di lingkar Gunung Sangiang Api di Kecamatan Wera, Kabupaten Bima. Dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membuat satu buah Lopi atau kapal pinisi berukuran besar. Pembuatannya pun masih menggunakan cara tradisional.

Dalam pengerjaannya, kapal ini ditukangi oleh hampir semua masyarakat Sangiang Api. Seorang tukang ahli disebut Panggita. Masing-masing orang punya bagiannya tersendiri, entah dek, buritan, dan bagian yang lainnya.

Prosesi pembuatan kapal pinisi ini juga jadi semacam pengikat orang-orang di Sangiang untuk terus hidup dalam kebersamaan dan harmonis. Tak hanya para orang tua dan pemuda, ibu-ibu dan anak-anak pun juga ikut membantu.

 (Forum Pokdarwis Bima/istimewa) (Forum Pokdarwis Bima/istimewa)


Setelah proses pembuatan dan perakitan kapal selesai, maka tibalah saatnya untuk acara puncak yang bernama Kalondo Lopi. Ritual acara ini adalah semacam pelepasan sang pinisi untuk yang pertama kali ke lautan.

Bagi warga yang tinggal di sekitar Gunung Sangiang Api, Kalondo Lopi ini dianggap sangat sakral dan jadi bagian terpenting dari seluruh rangkaian kegiatan pembuatan kapal sedari awal.

Begitu kapal sudah siap dan rampung dikerjakan, pada malam harinya masyarakat Sangiang Api akan mengadakan doa syukuran dan dilanjutkan dengan beramah tamah sampai tengah malam. Kemudian selepas salat Subuh, upacara peluncuran pun siap dilakukan.

Di momen itu semua orang bekerja sama untuk mendorong dan menarik perahu ini ke dalam laut. Tali dan rantai penarik berderit menandakan kapal yang bergerak maju sedikit demi sedikit. Butuh waktu yang cukup lama hingga akhirnya kapal ini menyentuh permukaan air laut.

Begitu sukses masyarakat pun langsung bersuka cita sejadi-jadinya. Seolah usaha yang telah mereka lakukan terbayar dengan memuaskan dan pantas. Benar-benar bikin takjub.







Simak Video "Cerita di Balik Kematian Sparta, Anjing Milik Bima Aryo"
[Gambas:Video 20detik]
(rdy/aff)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA