Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 26 Sep 2019 10:55 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Kuliner Memek Khas Simeulue Sarat Filosofinya Lho

Johanes Randy Prakoso
detikTravel
Kuliner memek khas Simeulue (Randy/detikcom)
Kuliner memek khas Simeulue (Randy/detikcom)
SImeulue - Beberapa waktu lalu kuliner memek khas Simeulue sempat ramai perihal namanya yang dianggap provokatif. Padahal, kuliner ini ternyata sarat filosofi.

Pada 29 Agustus hingga 5 September 2019 lalu Tim detikcom bersama Bank BRI datang ke Pulau Simeulue di Provinsi Aceh dan melihat berbagai ragam budaya di sana. Salah satu yang menarik adalah tentang kuliner memek khas Simeulue yang sempat viral beberapa waktu lalu.

Secara kata, kuliner memek ini memang merap dikonotasikan dengan alat kelamin wanita atau sesuatu yang bermakna negatif. Padahal, makanan yang masuk Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) tahun 2019 ini punya arti yang sangat berbeda.

Pedagang yang tengah membuat kuliner memek di Pantai Lantik (Randy/detikcom)Pedagang yang tengah membuat kuliner memek di Pantai Lantik (Randy/detikcom)

Hal itu pun diluruskan oleh Kadispar Simeulue, Abdul Karim saat dijumpai detikcom di kediamannya. Dijelaskan olehnya, bahwa memek itu berasal dari bahasa Simeulue yang sama sekali tidak negatif.

"2019 ini makanan tradisional kami memek sudah dipatenkan. Itu artinya bahwa rekan-rekan di luar sana mendengar kata memek mohon jangan dikonotasi dengan kata lain, tapi memek itu adalah bahasa kami yang berarti mengunyah beras," ujar Karim.




Diceritakan oleh Karim, dahulu masyarakat Simeulue kerap menghabiskan banyak waktu untuk berjalan kaki ke rumah kerabat atau sanak saudara. Begitu pun kalau ke masjid yang dulu masih belum sedemikian banyak. Mereka pun membawa beras ketan di jalan untuk bekal.

"Dulu kalau jalan ke masjid dari rumah itu jauh. Mau Jumatan jalannya bisa satu sampai dua hari lamanya. Mereka itu bawa beras untuk dikunyah atau dimakan di jalan. Buat isi perut saja," ujar Karim.

Beras ketan yang dicampur pisang dan air santan (Randy/detikcom)Beras ketan yang dicampur pisang dan air santan (Randy/detikcom)

Agar tahan lama, beras ketan yang tadinya basah pun disangrai sampai kering dan berwarna merah kekuningan. Setelah sampai pada proses itulah, beras ketan jadi lebih awet dan dapat dikonsumsi lebih lama.

"Mereka bawa beras lalu jalan ke hutan, nemu pisang. Wah, ini enak juga dimakan dengan beras," lanjut Karim.

Dalam prosesnya, masyarakat Simeulue pun mencampurkan beras ketan yang telah disangrai dengan pisang untuk memperkaya rasanya. Tak cuma itu, mereka pun lalu mencampurkan air santan kelapa untuk memperkaya rasanya.




Dari proses panjang itulah, kemudian kuliner memek lahir. Untuk memakannya, traveler pun harus mengunyah beras ketan atau melakukan kegiatan memek dalam bahasa Simeulue sebelum dapat menelannya.

Mungkin sensasinya seperti makan sereal dengan susu, hanya saja lebih kaya rasa dan sarat karbohidrat serta protein dari pisang. Di Simeulue, kuliner ini pun dijual seharga Rp 5 ribu saja untuk satu gelas.

Selain di pusat Kota Sinabang, traveler bisa menjumpai kuliner memek di sejumlah tempat wisata seperti Pantai Lantik dan lainnya. Jadi, memek khas Simuelue bukan sesuatu yang negatif ya.

Ikuti terus berita tentang ekspedisi di pulau-pulau terdepan Indonesia di tapalbatas.detik.com!

Simak Video "Kembangkan Pariwisata, Pengusaha Resort Temui Kendala"
[Gambas:Video 20detik]
(rdy/krs)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA