Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 18 Mar 2020 20:40 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Mengenal Rumah Si Pitung yang Tutup Karena Corona

Bonauli
detikTravel
Rumah Si Pitung di Marunda, Jakarta Utara, terus dilestarikan hingga kini. Salah satunya dengan melakukan perawatan. Yuk, intip foto-fotonya.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Siapa yang tak kenal si Pitung jagoan Betawi? Di Jakarta Utara ada Rumah Si Pitung yang kini ditutup untuk menghentikan penyebaran virus Corona di Jakarta.

Pencegahan penyebaran virus Corona terus dilakukan oleh Pemerintah Indonesia. Salah satu kebijakannya adalah menutup sementara sejumlah tempat wisata, termasuk Rumah Si Pitung.

Rumah Si Pitung juga dikenal dengan nama Museum Kebaharian Jakarta Situs Marunda. Sebelum ada wabah virus Corona, museum ini beroperasi setiap hari pukul 08.00-17 WIB.

Mengenal Rumah Si Pitung yang Tutup Karena CoronaFoto: Pradita Utama



Tarif di museum ini juga terjangkau. Untuk anak-anak atau pelajar hanya akan dikenakan biaya Rp 2 ribu, sedangkan mahasiswa dan umum dengan harga Rp 3 ribu dan Rp 5 ribu.

Meski dinamai Rumah si Pitung, namun museum ini bukanlah rumah aslinya. Menurut penelitian Ridwan Saidi yang dimuat di majalah Tani tahun 2008, Pitung merupakan seorang perampok dermawan asli Rawa Belong.

Museum ini dulunya adalah rumah milik Haji Safiudin, bandar perdagangan ikan.

Mengenal Rumah Si Pitung yang Tutup Karena CoronaFoto: Pradita Utama



Dari sini ada dua versi kisah yang berkaitan dengan rumah ini dan Si Pitung. Yang pertama, rumah ini pernah di rampok Pitung.

Yang kedua, Haji Safiudin menyerahkan sejumlah uang ke Si Pitung secara sukarela. Konon Haji Safiudin menjadi mitra kerjanya.

Pitung biasanya akan merampok orang kaya yang bekerja dengan Belanda, Hasial curiannya pun dibagikan kepada rakyat.

Pitung tak sendiri, ia bekerja sama dengan sepupunya yang bernama Ji. Namun Ji berhasil ditangkap danmati ditangan polisi.

Dalam menjalankan aksinya, Pitung menggunakan transportasi yang sudah ada, trem uap. Kereta apo dari Gambir ke Tanjung Priok pun sering jadi pilihan Pitung.

Kemampuan bela dirri Pitung didapatnya dari seorang guru bernama Na'ipin. Guru Na'ipin berhubungan erat dengan Mohammad Bakir seorang sastrawan Betawi akhir abad ke-19.

Dari Mohammad Bakir, Guru Na'ipin membangun hubungan dengan jaringan Jembatan Lima yang dipimpim Bang Sa'irin. Di dalam jaringan inilah ide pemberontakan dan perlawanan sepanjang abad ke-19 digagas.

Tahun 1886-1894, Si Pitung dianggap sebagai sosok yang meresahkan. Sehingga Snouck Hurgonje, penasihat pemerintah Hindia Belanda marah besar ke kepala polisi Batavia.

Berkat kelihaiannya, di tahun 1891 Pitung pernah tertangkap namun berhasil meloloskan diri. Saat di dalam penjara itu ia beberapa kali menyelundupkan surat yang ditujukan ke pengurus Masjid Al Alam Marunda.

Komplek museum ini juga memiliki Masjid Si Pitung. Masjid ini memiliki arsitektur mirip dengan Masjid di Demak namun lebih mungil. Ada beragam versi riwayat berdirinya masjid ini.

Ada yang mengatakan masjid ini dibangun Walisongo, ada juga yang mengatakan dibangun oleh Fatahilah. Masjid ini kira-kira dibangun pada tahun 1600-an dan konon sering digunakan si Pitung untuk mengaji dan berlatih silat.



Simak Video "Masjid di Irak Kembali Dibuka, Obati Rasa Rindu Salat Berjamaah"
[Gambas:Video 20detik]
(bnl/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA