Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 29 Jun 2020 14:44 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Napak Tilas Kota Kuno Abad 8 di Thailand

nhe_firmansyah
detikTravel
kalasin thailand
Foto: nhe_firmansyah/d'Traveler
Jakarta -

Thailand tidak hanya punya Bangkok dan Phuket. Kamu juga bisa ke Kalasin, kota dengan wisata sejarah abad ke-8 yang menarik.

Berkunjung ke wisata sejarah seakan-akan membuat kita bernostalgia dengan kisah zaman dahulu kala. Sejarah memang mengajarkan kita sebuah kebaikan untuk diteladani pada zaman mendatang. Di cerita kali ini, saya ingin berbagi perjalanan saya di Provinsi Kalasin Thailand setahun yang silam, setelah sebelumnya saya bercerita tentang perjalanan di museum dinosaurus Sirindhorn.

Kalasin memang jauh dari Bangkok, namun kawasan ini juga menyimpan sejuta kenangan. Seperti kota kuno dan beberapa atraksi festival. Saya menuju ke Kalasin dari kota Khon Kaen dengan waktu tempuh selama 2 jam menggunakan mobil. Adapun jarak dari Bangkok ke Kalasin kurang lebih 600 km.

Tidak ada penerbangan langsung dari Bangkok ke Kalasin. Pesawat akan mendarat di Khon Kaen dan harus melanjutkan ke Kalasin lewat jalan darat. Semua lokasi yang saya kunjungi kali ini gratis alias tanpa biaya tiket masuk.

Kunjungan pertama adalah reruntuhan kota kuno yang terletak di kabupaten Kamalasai. Orang-orang lokal menyebut kota kuno tersebut sebagai Fa Daet Sung Yang. Menurut catatan sejarah, dulunya kota kuno ini dikelilingi oleh gundukan tanah dan terdapat sungai yang membelah gundukan tanah tersebut. Dari temuan arkeologis, kota ini telah dihuni oleh manusia sejak zaman pra-sejarah.

Setelah itu, selama abad ke-8 sampai ke-10 pada periode kerajaan Dvaravati, kota ini menjadi lebih berkembang dan maju. Bukti peradaban periode tersebut adalah reruntuhan yang terdapat di dalam dan di sekitar kota kuno. Salah satu diantaranya adalah penanda batas kota dari batu berelief yang menggambarkan kisah Jataka dan kehidupan Buddha. Beberapa batu berelief telah disimpan di Wat Pho Chai Semaram di kabupaten Kamalasai dan sebagian lainnya tetap berada di lokasi reruntuhan.

Bukti peradaban yang lain adalah Phra That Yaku yang berbentuk seperti stupa Mahligai di komplek candi Muara Takus Riau. Phra That Yaku dibangun pada beberapa periode. Alas Phra That Yaku bagian bawah dibangun pada periode kerajaan Dvaravati, alas bagian tengah dibangun pada periode kerajaan Ayutthaya, serta bagian badan dan puncak Phra That Yaku dibangun pada periode kerajaan Rattanakosin.

Phra That Yaku terletak di tengah kota kuno Fa Daet Sung Yang. Phra That Yaku juga merupakan bangunan yang disisakan ketika terjadi perang di kota kuno Fa Daet Sung Yang. Selain itu, yang cukup menarik perhatian saya adalah ketika bedug dan gong gamelan berada di dekat Phra That Yaku. Saya tidak tahu persis apa fungsi alat-alat tersebut di Phra That Yaku.

Setelah dari kota kuno, saya mengunjungi wisata gratis lainnya. Di sekitar lokasi reruntuhan kota kuno Fa Daet Sung Yang, penduduk lokal mengadakan festival minta hujan dan kedamaian desa. Banyak umbul-umbul warna-warni khas Isan. Mereka percaya jika umbul-umbul dipasang tinggi maka hujan akan segera turun.

Festival tersebut adalah festival tahunan yang diadakan sepanjang bulan April dan Mei. Di sekitar lokasi festival juga banyak orang yang berjualan makanan dan souvenir khas festival. Sepuluh kilometer dari kota kuno, saya mampir di festival padi. Festival ini menampilkan bangunan candi khas Thailand yang terbuat dari padi yang baru dipanen. Mungkin mereka membuat festival tersebut sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panennya.

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikTravel, nhe_firmansyah dan sudah tayang di d'Travelers Stories.



Simak Video "Tolak Mundur Meski Didemo 10 Ribu Orang, Ini Kata PM Thailand"
[Gambas:Video 20detik]
(sym/sym)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA