Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 09 Des 2020 16:37 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Ternyata Becak Jadi Transportasi Andalan di Wamena Papua

Hari Suroto
detikTravel
Lembah Baliem
Becak di Wamena, Papua (Foto: Hari Suroto Balai Arkeologi Papua)
Jakarta -

Tak hanya kota-kota di Jawa saja yang memiliki transportasi tradisional becak. Bagi traveler yang berkunjung ke Lembah Baliem Papua tentu tidak asing dengan keberadaan becak pula.

Di saat moda transportasi publik becak dilarang di Jakarta dan kota besar lainnya karena dianggap sebagai biang kemacetan, ternyata becak sangat mudah dijumpai di Wamena. Inilah transportasi andalan di ketinggian 1.650 meter di atas permukaan laut.

Becak di Wamena dapat dijumpai di depan Bandara Wamena atau di pasar seputaran Wamena yaitu Jibama, Sinakma, Potikelek dan Wouma. Becak-becak ini hilir mudik di jalanan seputaran Wamena mengangkut pelajar atau mama-mama dengan jualan hasil kebunnya.

Becak di Wamena bentuknya serupa dengan becak yang ada di Kota Makassar, ruang duduk penumpang sempit, sehingga lebih cocok untuk mengangkut satu orang penumpang beserta barang bawaannya.

Becak-becak ini didatangkan dari Makassar pada 1979 menggunakan kapal laut. Kemudian dari Bandara Sentani, Jayapura diangkut dengan pesawat kargo ke Wamena .

Mungkin becak di Wamena adalah satu-satunya becak berharga mahal di dunia, karena diangkut dengan pesawat serta sangat unik hanya dijumpai di dataran tinggi.

Adanya becak ini telah mengubah kebiasaan masyarakat Wamena, yang sebelumnya berjalan kaki dalam semua aktivitasnya. Mereka kemudian beralih naik becak untuk pergi ke sekolah atau pasar.

Kehadiran becak di Wamena, walaupun laju becak ini tidak secepat ojek sepeda motor, sangat membantu warga, serta menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari warga.

Becak sudah menjadi salah satu alat transportasi penting dan favorit serta ramah lingkungan digunakan masyarakat di Kota Wamena.

Lembah BaliemBandara Sentani Jayapura (Foto: Hari Suroto Balai Arkeologi Papua)

Yang unik adalah sangat sulit menjumpai Suku Dani berkoteka naik becak. Mereka lebih suka berjalan kaki.

Hal ini karena pada masa lalu ada Operasi Koteka yang mengharuskan penumpang becak atau kendaraan umum lainnya harus menggunakan celana bukan koteka.

Becak telah menjadi simbol modernitas dan ikon khas Wamena.

Ongkos naik becak ini tergantung jarak, untuk jarak terdekat biasanya Rp 10.000, selebihnya akan dikenakan kelipatan Rp 5000 atau 10.000.

Namun untuk mencegah terjadi kesalahpahaman dan kekecewaan, sebaiknya melakukan penawaran dan kesepakatan bersama sebelum naik becak tersebut.

Untuk melindungi keberadaan becak tetap eksis, pemerintah Kabupaten Jayawijaya telah membuat peraturan daerah becak. Dalam perda ini juga diatur hanya pemuda Suku Dani saja yang boleh menjadi pengayuh becak.

Bagi traveler yang ingin berfoto dengan pengayuh becak Wamena, bisa dilakukan dengan terlebih dahulu meminta izin pada pengayuhnya. Tentu saja setelah menyewa becaknya berkeliling seputaran Wamena.

---

Artikel ini dibuat oleh Hari Suroto dari Balai Arkeologi Papua dan diubah seperlunya oleh redaksi.



Simak Video "Dishub Bandung Tertibkan Becak yang Membandel"
[Gambas:Video 20detik]
(msl/msl)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA