Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 22 Des 2020 07:12 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Di Jakarta Keladi Lagi Naik Daun, di Papua Malah Dimakan

Hari Suroto
detikTravel
Jenis Keladi Sexy Pink
Foto: Ilustrasi tanaman keladi (Instagram @kebunnya_bro)
Jayapura -

Di tengah pandemi COVID-19, banyak orang hobi memelihara tanaman hias seperti keladi. Di Jakarta, keladi memang lagi naik daun, tapi di Papua malah biasa saja.

Di masa pandemi ini, banyak orang kaya yang membelanjakan uangnya untuk membeli tanaman keladi. Bahkan ada yang berani menukar mobil dengan tanaman keladi. Jenis tanaman ini pun menghiasi halaman rumah mewah di kota-kota besar Indonesia.

Bahkan keladi liar yang tumbuh di tepi jalan pun diserbu emak-emak. Tidak hanya itu, demi tanaman keladi bahkan ada orang yang berani masuk hutan hanya demi berburu tanaman ini.

Namun hal tersebut tidak berlaku bagi masyarakat Sentani, Jayapura, Papua. Tanaman keladi atau dalam bahasa setempat disebut dengan bete, dianggap sebagai tanaman biasa saja, bukan sesuatu tanaman yang luar biasa.

Bagi masyarakat Sentani, tanaman keladi bukanlah tanaman hias, melainkan tanaman untuk dimakan. Umbinya paling enak dimakan dan disajikan pada acara-acara penting.

Tidak hanya umbinya saja yang dimakan, batang dan daun keladi juga merupakan bumbu utama masakan khas Sentani yaitu presto ikan danau dengan wadah gerabah.

Cara memasaknya yaitu batang dan daun keladi dikeringkan terlebih dulu di perapian. Sebelumnya, siapkan dulu wadah gerabah yang bagian dalamnya telah ditaruh anyaman bambu sebagai alas.

Di atas anyaman bambu itu, taruhlah ikan yang sudah dibersihkan. Ikan ini bisa ikan mujair atau ikan gabus Sentani. Setelah itu ditambah air secukupnya dan garam.

Baru di atasnya ikan tadi, ditaruh batang dan daun keladi kering. Kemudian wadah gerabah dipanasi di atas bara api selama sekitar satu jam.

Garam dan bumbu batang keladi akan merasuk dalam ikan. Selain itu, ikan akan terasa empuk sampai tulang. Rasanya tentu saja enak!

Penggunaan batang dan daun keladi merupakan bentuk kearifan lokal yang diwariskan secara turun temurun di Papua. Ternyata, batang dan daun keladi mengandung polifenol yang terbukti menurunkan kolesterol.

Ikan mujair dan ikan gabus Sentani memang memiliki kandungan lemak tinggi, jadi untuk menyeimbangkannya digunakanlah batang dan daun keladi.

Keladi merupakan jenis tanaman yang ditanam pertama kali pada masa prasejarah, 8000 tahun yang lalu di Papua dan Papua Nugini, di saat manusia prasejarah di Pulau Jawa, Bali, Sumatera dan wilayah Indonesia barat lainnya masih hidup berpindah-pindah, berburu dan meramu hasil hutan.

Saat itu, justru manusia prasejarah yang hidup di Papua dan Papua Nugini sudah hidup menetap. Mereka hidup dengan bercocok tanam keladi.

Hal tersebut dapat diketahui dari hasil penelitian arkeologi di daerah Kuk, Lembah WAGHI, Papua Nugini. Di sana ditemukan saluran drainase untuk pertanian keladi pada 8.000 tahun yang lalu.


---
Artikel ini dibuat oleh Hari Suroto dari Balai Arkeologi Papua dan diubah seperlunya oleh redaksi.



Simak Video "Gerak Kementan Tingkatkan Ekspor Tanaman Hias"
[Gambas:Video 20detik]
(wsw/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA