Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 21 Feb 2021 11:44 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Kilas Balik Taman Sari Yogyakarta

Tim Detikcom
detikTravel
Tamansari Yogyakarta
Foto: Kristina/detikcom
Jakarta -

Taman Sari Yogyakarta, destinasi yang selalu ramai wisatawan. Yuk, intip sejarah dan mitos yang ada di Taman Sari ini.

Tidak sekedar indah dan favorit wisatawan, bangun Taman Sari juga punya sejarah yang menarik untuk diketahui. detikcom telah merangkum nih, sejarah, mitos dan fakta menarik tentang Taman Sari Yogyakarta.

1. Sejarahnya

Situs Taman Sari telah berdiri sejak tahun 1785 yang ditandai dengan candra sengkala catur naga rasa tunggal (tanda istana baru) oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I. Hingga saat ini, bangunan Taman Sari Yogyakarta tersebut masih berdiri kokoh, meskipun pernah direnovasi akibat gempa di Yogyakarta pada 27 Mei 2006.

Kampung wisata Taman Sari dulunya memiliki danau yang cukup luas. Dilengkapi dengan parit dari Taman Sari menuju ke bangunan pusat keraton melalui segaran. Taman Sari yang sejatinya merupakan sebuah pesanggrahan, yang pada masa pembangunannya dipimpin langsung oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I dan Bupati Madiun Raden Rangga Prawirasentika dipercayakan sebagai penanggung jawab pelaksanaanya. Sedangkan konstruksinya oleh Bupati Kiai Tumenggung Mangoendipoero.

Tamansari YogyakartaTamansari Yogyakarta Foto: Bagus Kurniawan/detikcom

Bangunan Taman Sari dulunya mempunyai julukan yaitu 'The Fragrant Garden'. Taman ini memiliki luas 10 hektar lebih dengan 57 bangunan indah di atasnya. Diantaranya meliputi kolam pemandian, danau buatan dengan pulaunya, lorong bawah tanah, kanal air, jembatan gantung, dan beberapa jenis bangunan yang lain.

Pendirian Taman Sari bertujuan untuk ketenangan, istirahat, dan tempat berekreasi sultan dan keluarganya. Selain itu Taman Sari juga dipersiapkan sebagai sarana untuk benteng pertahanan dalam menghadapi musuh kerajaan.

Arsitek dari bangunan berasal dari Portugis sehingga corak dari bangunan Taman Sari ini bergaya seni arsitektur Eropa. Akan tetapi simbol Jawa yang ditonjolkan di sini nampak juga lebih dominan.

Taman Sari YogyakartaTaman Sari Yogyakarta Foto: Pradikta Kusuma/d'traveler

2. Disebut sebagai istana air

Menurut berbagai sumber, arsitektur megah dan indah di kompleks Taman Sari ini merupakan perpaduan dari berbagai macam budaya yang ada. Karena Sultan Hamengku Buwono I adalah seorang pecinta karya seni, dan Taman Sari ini merupakan karya arsitektur monumental pada masa kepemimpinannya.

Taman sari juga dikatakan sebagai istana air. Karena taman juga digunakan untuk tempat pemandian permaisuri serta para putri raja pada masanya.

Istana Air Taman Sari YogyakartaIstana Air Taman Sari Yogyakarta Foto: Lenny Permata/d'traveler

3. Memiliki lorong kedap suara dan masjid bawah tanah

Menariknya, di balik pesona Taman Sari tersembunyi sebuah masjid tersembunyi yang disebut Sumur Gumuling. Lokasinya hanya dapat dicapai dengan melewati lorong bawah tanah bernama Tajug yang seperti labirin.

Secara fungsi, lorong tersebut memang sengaja dibuat untuk mengelabui penjajah Belanda. Tepat di ujung lorongnya, terdapat area melingkar dengan satu titik di tengah yang dihubungkan oleh lima tangga di sekitarnya.

Diketahui kalau titik tengah ruangan itu dulu berfungsi sebagai mimbar bagi pemuka agama untuk berdakwah. Raja dan anggota keluarga pun biasa duduk di area lorong untuk melakukan sholat serta kegiatan keagamaan yang dahulu dilarang oleh Belanda.

Desain lorong yang memiliki dua lantai dan kedap suara pun semakin mendukung kekhidmatan umat untuk beribadah. Suara yang dikeluarkan di Sumur Gumuling akan saling memantul dan bergema layaknya seperti menggunakan pengeras suara, hanya saja secara tradisional.

[Gambas:Instagram]



4. Mitosnya, memiliki lorong yang bisa menembus pantai selatan

Adapyun mitos yang kental di Taman Sari adalah lorong yang ada di Taman Sari konon katanya bisa tembus sampai ke Pantai Selatan. Ada dua lorong bawah tanah di kawasan Tamansari tersebut yang pertama bernama Urung-urung (lorong) Timur dan Urung-urung Sumur Gumuling.

Lorong timur memiliki panjang 45 meter menghubungkan Pulo Panembung dan Pulo Kenanga. Sedangkan lorong Sumur Gumuling memiliki panjang 39 meter. Pada bagian yang hampir mencapai ujung lorong, terdapat mata air bernama Sumur Gumuling, yang dikelilingi lima anak tangga. Tepat di atas mata air ini adalah masjid bawah tanah.

[Gambas:Instagram]



Namun sebetulnya, Lorong Sumur Gumuling disebut lebih panjang lagi ke arah barat. Namun karena runtuh, bangunan tersebut dipugar pada tahun 1972 dan ditutup hingga tersisa 39 meter. Sebelum dipugar, konon kabar yang beredar secara turun-temurun di kampung tersebut, menyebutkan bahwa ujung lorong ini dapat tembus hingga ke pantai laut selatan.

Bahkan mitos lainnya mengatakan bahwa, Sumur Gumuling adalah tempat pertemuan antara Ratu Pantai Selatan atau Nyi Roro Kidul dengan Sultan Yogyakarta.

Sedangkan menurut salah seorang pengawas Tamansari mengatakan, Sri Sultan Hamengku Buwono I memang membangun Keraton dalam satu sumbu lurus imajiner, yang terhubung dengan Gunung Merapi dan Pantai Parangtritis. Sultan berharap ketiganya dapat bersinergi.

Tamansari YogyakartaTamansari Yogyakarta Foto: Bagus Kurniawan/detikcom


Simak Video "Warga Yogyakarta Sulap Selokan Bau Jadi Detinasi Wisata"
[Gambas:Video 20detik]
(sym/sym)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA