Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Senin, 24 Jan 2022 11:02 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

3 Desa Sukabumi, Tanam Padi Organik yang Tahan Puluhan Tahun

Kampung Adat Sinaresmi
Kampung Adat Sinaresmi Sukabumi (Foto: Ahmad Masaul Khoiri/detikcom)
Sukabumi -

Tiga kasepuhan atau desa wisata di Sukabumi ini sudah turun temurun menanam padi organik. Padi hasil panennya tak pernah dijual dan mampu disimpan hingga puluhan tahun.

Kasepuhan yang kami maksud adalah Kampung Adat Sinaresmi, Cipata Mulya, dan Ciptagelar. Selain tak dijual, nasi organiknya itu juga disajikan gratis sepanjang hari di dalam Imah Gede untuk para pengunjung.

"Pantangan bagi kami di antaranya ya tidak boleh bekerja di hari Jumat. Lalu, intinya tidak boleh menjual nasi dan itungannya cuma lauk saja kalau mau dikenai harga," kata Abah Asep Nugraha, pemimpin di Kasepuhan Sinaresmi pada tim detikcom beberapa waktu lalu.

Leluhur Kasepuhan Sinaresmi, Cipata Mulya, dan Ciptagelar berasal dari Bogor. Jadi tiga kasepuhan itu sudah memasuki Generasi ke-10.

"Buktinya itu masih ada prasasti di Bogor yang menunjukkan mereka leluhur kami di abad 16. Bidang kami di pertanian khusus padi lokal," terang dia.

Kampung Adat SinaresmiAbah Asep dari Kampung Adat Sinaresmi Sukabumi (Foto: Ahmad Masaul Khoiri/detikcom)
Kampung Adat SinaresmiKampung Adat Sinaresmi Sukabumi (Foto: Ahmad Masaul Khoiri/detikcom)

Filosofi menanam padi organik di Kasepuhan Sinaresmi, Cipata Mulya, dan Ciptagelar

Dalam menanam padi, Kasepuhan Sinaresmi, Cipata Mulya, dan Ciptagelar hanya boleh menanam satu kali dalam setahun. Karena, bumi itu dianggap sebagai ibu dan bapak langit.
"Jadi ya nggak ada makhluk setahun dua kali melahirkan. Menyeimbangkan manusia alam," kata Asep.

"Padi tidak untuk diperjualbelikan. Sifatnya itu kan konsumtif, tidak melihat kuantitas hanya kualitas. Karena padi di sini bisa disimpan sampai 50 tahun," imbuh dia.

Penanaman padi di Kasepuhan Sinaresmi, Cipata Mulya, dan Ciptagelar sudah tanpa menggunakan pupuk buatan atau jauh dari pestisida. Karena dengan menanam padi setahun sekali, unsur hara di sawah mereka pun masih terjaga.

"Padi itu sakral sekali. Ada padi perempuan dan laki2. Perlakuannya sama dan hati-hati dalam menanam karena sesuai hari lahir yang menanam dengan menunggu komando dari saya," terang Asep.

"Menanam padi di sini menurut dua bintang. Jika sudah muncul maka itu waktunya bertani," terang dia.

Padi-padi yang dihasilkan Kasepuhan Sinaresmi, Cipata Mulya, dan Ciptagelar akan disimpan di lumbung padi yang dinamakan leuit.
Satu lumbung besar bisa menyimpan 3.000 ikat padi dengan 1 ikatnya seberat3 kilogram.

"Leuit itu yang paling besar bisa menyimpan 2.000 ikat sampai yang paling kecil 500. Kalau sudah berumahtangga wajib memilikinya," terang Asep.

Kampung Adat SinaresmiLumbung padi di Kampung Adat Sinaresmi Sukabumi (Foto: Ahmad Masaul Khoiri/detikcom)

Rasa nasi organik Kasepuhan Sinaresmi, Cipata Mulya, dan Ciptagelar

Nasi organik di Kasepuhan Sinaresmi, Cipata Mulya, dan Ciptagelar bukan sembarang nasi. Karena, nasi di sana terlihat tidak bersih karena mampu bertahan hingga berhari-hari setelah dimasak.

Warna nasinya pun tidak seputih jika dikupas dengan penggilingan. Karena, Kasepuhan Sinaresmi, Cipata Mulya, dan Ciptagelar tidak menggunakannya dan hanya ditumbuk untuk mengupas padi.

Kami sempat mencoba nasi organik yang disajikan di Imah Gede, Kasepuhan Sinaresmi. Rasanya memang pulen dan berbeda dari nasi biasa yang terbilang lebih lembek.

Selain nasi kami juga menjajal kue basah terbuat dari ketela dengan gula aren asli. Semua bahan diambil dari ladang mereka dan rasanya memang tidak lebih manis tapi awet hingga kami bawa ke Jakarta.



Simak Video "Desa Wisata Hanjeli Buat Sandiaga Uno Terkesan"
[Gambas:Video 20detik]
(msl/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA