Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Sabtu, 05 Feb 2022 21:06 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Kebun Buah di Kulon Progo, Ada Durian Musang King, Sampai Alpukat Aligator

Embung Tonogoro Kulon Progo kini disulap jadi kebun buah premium
Foto: Jalu Rahman Dewantara/detikcom
Kulon Progo, DI Yogyakarta -

Kawasan objek wisata Embung Tonogoro, Banjaroyo, Kalibawang, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kini disulap menjadi area perkebunan buah kualitas super premium. Aneka buah seperti durian jenis musang king, durian bawor, alpukat kendil hingga alpukat aligator ditanam di kawasan tersebut.

Penanaman buah berkualitas super premium itu dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Kegiatan ini bagian dari program rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS) di Bukit Menoreh yang pelaksanaannya menggandeng PT Bharinto Ekatama (BEK).

"Saat ini kita berada di lokasi rehab DAS yang dilaksanakan oleh PT BEK, salah satu pemegang izin yang kita minta untuk menanam di lokasi Bukit Menoreh, sebagai bagian dari kewajiban yang harus mereka selesaikan terkait izin pakai kawasan," ucap Direktur Konservasi Tanah dan Air, KLHK, Muhammad Zainal Arifin, usai penanaman pohon di kawasan Embung Tonogoro, Sabtu (5/2/2022).

Arifin menjelaskan dalam program ini perusahaan mitra diminta untuk menanam bibit pohon buah-buahan karena memiliki kandungan air tinggi. Tujuannya untuk menjaga neraca hidrologi di Bukit Menoreh yang selama ini didominasi oleh pohon Sengon.

Embung Tonogoro Kulon Progo kini disulap jadi kebun buah premiumEmbung Tonogoro Kulon Progo kini disulap jadi kebun buah premium Foto: Jalu Rahman Dewantara/detikcom

Pohon Sengon sendiri bersifat menyerap air sehingga berpotensi mengganggu ketersediaan air untuk menyuplai DAS dari Bukit Menoreh. Di sisi lain, Bukit Menoreh telah dianggap sebagai menara air yang rutin mendistribusikan air untuk wilayah Kulon Progo, Jogja, dan Magelang.

"Kita mensubtitusi tanaman-tanaman yang ada di sini, kan lebih banyak dominasinya Sengon. Sengon ini adalah tanaman fast growing. Fast growing itu membutuhkan lebih banyak air daripada tanaman yang lain, sehingga dalam jangka waktu panjang, dia dapat mengganggu neraca hidrologi di bukit menoreh ini," ujar Arifin.

"Bukit Menoreh sebenarnya menara air alami yang menyuplai air ke Yogyakarta, Kulon Progo, Magelang dan sebagainya. Nah kita subtitusi dengan tanaman buah-buahan yang lebih evergreen. Hijaunya lebih lama, menampung air lebih lama, sehingga bisa membantu neraca hidrologi yang ada di sini," sambungnya.

Tak hanya merehabilitasi DAS, program ini juga menjadi upaya menyulap Embung Tonogoro sebagai area pengembangan kebun buah berkualitas super di kawasan perbukitan Menoreh. Buah-buah yang ditanam di kawasan ini pun dijamin bibit unggul dan bersertifikat. Akhirnya dipilih bibit buah durian musang king, durian bawor, alpukat kendil, dan alpukat aligator.

"Bibit-bibit ini adalah okulasi dan bersertifikat, dan teman-teman petani di sini sudah sangat paham dengan bibit-bibit yang baik, sehingga kalau kita sajikan bibit yang kurang baik mereka tidak mau menanam. Itu juga kita meminta tolong kepada teman-teman pemegang izin mereka harus menyediakan bibit super premium yang bernilai ekonomi tinggi, sehingga nantinya bisa dimanfaatkan teman-teman petani yang memiliki lahan di sini," ucap Arifin.

Nantinya pohon buah ini bakal dirawat kelompok tani, dan hasilnya bisa untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Sekaligus dengan harapan mengedukasi masyarakat sekitar untuk pengelolaan ekosistem DAS produktif.

"Nah sehingga masyarakat ikut meningkat kesejahteraannya, tapi juga membangun konsep pemulihan lingkungan membangun menara air alami yang ada di bukit Menoreh ini," ucap Arifin.

Rehabilitasi 250 Hektare Bukit Menoreh

Direktur PT BEK, Ignatius Wurwanto mengatakan pihaknya punya kewajiban menanam bibit pohon buah-buahan di lahan seluas 250 hektare. Lahan ini tersebar di Kabupaten Kulon Progo, dan Magelang (Jawa Tengah), dengan konsep penanaman model Agroforestri.

"Bharinto Ekatama punya kewajiban di 250 hektare, jadi kita meliputi 8 kecamatan, dan 17 desa, yang ada di Kabupaten Kulon Progo. Kemudian 1 kecamatan dan 1 desa di Kabupaten Magelang, semua konsepnya sama, adalah agroforestri," ucap Wurwanto di lokasi yang sama.

Wurwanto menjelaskan penanaman dilakukan sejak November 2021, dan hingga kini progresnya sudah mencapai lebih dari 80 persen. Rencananya total bibit yang ditanam sebanyak 110.000. Dari jumlah itu sebanyak 86.000 bibit pohon itu telah didistribusikan ke lokasi sasaran.

"Jadi respons petani lihat bibit itu bagus tentu bisa memberikan hasil yang bagus, mereka antusias untuk menanam. Ini sebetulnya salah satu trigger factor atau pendorong kenapa kegiatan ini jadi lebih cepat gitu. Jadi boleh dikatakan kurang dari 3 bulan yang awalnya kita rencanakan demikian itu bisa berjalan dengan bagus," ujarnya.

"Dan ditambahkan lagi untuk masa-masa ini, karena prediksi kita curah hujan ini sampai bulan Maret, ternyata ya mendukung itu ya. Harapannya dengan penanaman awal ini, inisiasi awal ini semuanya bisa berjalan dengan bagus dan kita bisa melanjutkan perawatan sampai 3 tahun ke depan hingga nanti diserahterimakan kepada pemangku melalui BPDASHL Serayu Opak dan Progo," sambungnya.

Wurwanto mengatakan setelah 3 tahun, pihaknya akan melakukan monitoring hasil penanaman tersebut. Ini dilakukan selain memastikan tanaman berbuah maksimal, juga untuk mengetahui ada tidaknya over produksi yang dikhawatirkan bisa memengaruhi harga jual hasil panen petani.

"Ini jadi PR berikutnya setelah penanaman semua kita laksanakan dan kita monitoring, kita pantau, kita rawat dalam 3 tahun, pasca itu yang menjadi PR kita soal pemanfaatan bagaimana produk agroforestri ini," pungkas Wurwanto.

Artikel ini telah tayang di detikJateng, baca artikel seputar Semarang, dan kota lainnya di Jawa Tengah di link ini



Simak Video "Menelusuri Gang Gendruwo di Kulon Progo yang Diselimuti Cerita Horor"
[Gambas:Video 20detik]
(ams/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA