Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 17 Apr 2022 04:15 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Masjid Majasem, Saksi Berkumpulnya Wali Songo di Klaten

Pohon belimbing Masjid Majasem di Desa Pakahan, Kecamatan Jogonalan.
Masjid Majasem. Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng
Klaten -

Klaten, yang dijuluki Kota Seribu Candi, memiliki sebuah masjid bersejarah yang hingga kini masih eksis. Masjid ini menjadi saksi penyebaran Islam di sana.

Masjid Majasem terletak di Dusun Majasem, Desa Pakahan, Kecamatan Jogonalan. Lokasinya tak jauh dari pusat Kota Klaten, hanya sekitar 15 menit bila ditempuh dengan kendaraan bermotor.

Masjid Majasem telah berusia ratusan tahun dan beberapa kali dipugar. Menurut penuturan Ketua Dewan Kemakmuran Masjid Majasem, Sugimin, masjid ini berdiri tahun 1385 dan sempat menjadi tempat Wali Songo berkumpul dan berdakwah.

Masjid yang mulanya dikenal sebagai Langgar Kalimasada itu tak hanya digunakan untuk dakwah. Wali Songo juga sempat menyusun rencana pembangunan Masjid Agung Demak di sana.

"Rapat disini untuk syiar agama dan saat mau membangun Masjid Demak. Langgar Kalimasada itu (didirikan) 1385 Masehi dan (Masjid) Demak itu 1475 Masehi," kata Sugimin.

Menurut dia, masjid tersebut sempat diperbaiki oleh Pangeran Ngurawan, seorang bangsawan dari Keraton Kasunanan Surakarta, pada 1780. Bangsawan itu lantas tinggal dan memimpin daerah Majasem yang memperoleh status tanah perdikan dari keraton.

"Pangeran Ngurawan ke sini 1780 Masehi, diberi tanah perdikan sebagai wilayah Keraton Kasunanan Surakarta. Ke sini didampingi empat abdinya," jelas Sugimin.

Pangeran Ngurawan, imbuh Sugimin, dimakamkan di belakang masjid bersama abdi dan keluarganya.

Selain kuno, masjid yang berumur beberapa abad itu juga memiliki keunikan lain. Ternyata, masjid itu pernah beberapa kali berganti nama.

Sebelum era kemerdekaan, masyarakat sekitar biasa menyebut masjid itu dengan nama Baitul Makmur.

"Awalnya ada penceramah bertanya nama masjid, karena tahun 1934 dibangun teras dinamai Baitul Makmur. Tahun 2003 saya ke keraton Surakarta menghadap Sinuhun PB XII menanyakan (nama) masjid itu bersama beberapa takmir," sambung Sugimin.

"Oleh Sinuhun diberikan nama lagi masjid Al Makmur," kata dia.

Masjid Majasem yang merupakan salah satu cagar budaya di Klaten.Masjid Majasem yang merupakan salah satu cagar budaya di Klaten. Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng

Nama itu bahkan juga tersemat dalam sebuah prasasti yang dipasang pada 2003 silam usai dipugar.

Kemudian, para pengurus masjid melaporkan hasil pemugaran ke Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah. Pada akhirnya, BPCB Jawa Tengah justru memberikan nama masjid sesuai nama kampungnya, Majasem.

Sekretaris DKM Masjid Majasem, Subagyo (49) menjelaskan sebagian besar bangunan utama masjid masih asli. Bangunan utama itu terdiri dari 16 tiang kayu jati utuh yang menyangga atap tanpa paku dan besi.

"Jadi tidak ada bahan besi, semua kayu jati. Kaitnya bukan mur dan baut tapi pasak kayu (pantek) untuk menyambungkan, yang pernah diganti cuma satu di atap tengah karena kayu aslinya sudah rapuh," tutur Subagyo.

Masjid Majasem secara fisik tidak sebesar masjid zaman sekarang. Bangunan asli masjid itu hanya 10x10 meter. Bangunan asli berbentuk joglo dengan tiga pintu masuk setinggi sekitar 2 meter.

Di tembok bangunan utama terdapat dua prasasti pemugaran tertulis, "Masjid Baitul Makmur, 1385 M, Majasem 06- 01- 2001". Satu lagi bertuliskan," Masjid Al Makmur, masjid perdikan yasanipun Ingkang Sinoehoen Kanjeng Soesoehoenan Pakoe Boewono ing Soerakarta 1780 M katetepaken tgl 2 Mei 2003 dening SISKS Pakoe Boewono XII,".

Di depan bangunan utama terdapat teras depan ukuran lebih luas bertahun 1934. Kompleks masjid menjadi satu dengan makam Pangeran Ngurawan yang berada di angun cungkup besar.

Berita ini sudah tayang di detikJateng. Untuk mendapatkan informasi seputar Semarang dan sekitarnya, kunjungi tautan ini.

Saksikan Juga Sosok Minggu Ini: Alfie Alfandy, Pendiri Bikers Dakwah Mantan Artis Pecandu Narkoba

[Gambas:Video 20detik]



(pin/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA