Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 01 Mei 2022 08:33 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Masjid Agung Jamik Singaraja Bukti Toleransi Beragama Sejak Lama

Masjid Agung Jamik Singaraja, di Jalan Imam Bonjol, Kelurahan Kampung Kajanan, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, Bali, Jejak Toleransi Antar Umat Beragama Sejak Jaman Kerajaan Buleleng.
Masjid Agung Jamik Singaraja (Made Wijaya Kusuma/detikBali)
Jakarta -

Masjid Agung Jamik Singaraja menjadi bukti toleransi beragama di Buleleng, Bali sudah ada sejak zaman kerajaan. Budaya khas Bali berpadu dengan Islam.

Masjid itu kokoh berdiri di Jalan Imam Bonjol, Kelurahan Kampung Kajanan, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, Bali. Masjid itu diperkirakan berdiri sekitar tahun 1830.

Di masjid itu bisa ditemukan pintu gerbang yang memiliki ornamen dan ukiran khas Bali serta Al-Quran bersejarah yang ditulis langsung oleh keturunan raja pertama Buleleng Ki Barak Panji Sakti yang telah memeluk agama islam bernama Gusti Ngurah Ketut Jelantik Celagi.

Pengurus masjid sekaligus Seksi Budaya dan Sejarah di Masjid Agung Jamik Singaraja Lalu Ibrahim (34) mengungkapkan awalnya masyarakat Islam yang bermukim di Kampung Kajanan, Kampung Bugis, dan Kampung Baru hanya memiliki satu masjid, yakni Masjid Keramat/masjid kuno yang terletak di Jalan Hasanudin Singaraja.

Dulu, Mesjid Keramat juga biasa digunakan sebagai tempat ibadah salat lima waktu dan salat Jumat. Namun karena jumlah umat muslim di wilayah itu kian hari semakin berkembang, mengakibatkan daya tampung masjid keramat tidak memadai lagi.

Makanya, pemuka umat ketiga kampung tersebut akhirnya mengajukan permohonan kepada Raja Buleleng saat itu yakni Anak Agung Ngurah Ketut Jelantik Polong (Keturunan VI Anak Agung Ngurah Panji Sakti) untuk kesediaannya memberikan lahan untuk mendirikan sebuah masjid yang representatif.

Baca Juga: Kisah Masjid Agung Jamik, Jejak Toleransi Zaman Kerajaan Buleleng

"Karena kedekatan raja dengan umat Islam di sini, umat di sini juga membantu perjuangan Gusti Panji Sakti merebut Blambangan, Pasuruan dan perang dengan Klungkung dulu, maka diberikanlah tanah 16 are untuk membangun masjid di jalan Imam Bonjol. Pembangunannya diawasi oleh Gusti Ngurah Ketut Jelantik Celagi (kerabat raja yang telah menjadi mualaf) dan Abdulah Mascatty yang merupakan tokoh penggerak masa pada saat itu," ujar Ibrahim.

***

Artikel selengkapnya bisa dibaca di detikBali, klik di sini.



Simak Video "Sensasi Seru Sailing Yacht, Bali "
[Gambas:Video 20detik]
(fem/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA