Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Minggu, 06 Nov 2022 21:07 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Kisah Makam Keramat di Ambarawa yang Terancam Tol Bawen-Jogja

Ria Aldila Putri
detikTravel
Makam Nyi Pedelingan, di Lonjong, Ngampin, Ambarawa, Kab Semarang. Foto diunggah pada Kamis (3/11/2022).
Foto: Makam keramat di Ambarawa (Ria Aldila Putri/detikJateng)
Ambarawa -

Proyek pembangunan ruas Tol Jogja-Bawen bakal menggusur situs makam Nyi Pedelingan di Ambarawa yang dikenal keramat. Bagaimana kisahnya?

Makam tersebut berada di Dusun Lonjong, Kelurahan Ngampin, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang. Warga sekitar berharap makam keramat itu bisa diselamatkan dan tidak diusik.

Pantauan di lokasi, makam Nyai Pedelingan berada di area perbukitan yang cukup jauh dari permukiman. Pintu masuk pemakaman itu diapit dua pohon beringin besar.

Di tengah permakaman itu ada sebuah cungkup berisi dua nisan. Nisan sebelah timur dipercaya sebagai makam Nyai Pedelingan. Di atas nisan itu ada dupa dan kemenyan yang habis dibakar.

Sesepuh Desa Ngampin, Wartoyo Nurdi Mulyo (68) mengatakan makam itu telah ada sejak ratusan tahun silam.

"Sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Sebetulnya belum tahu siapa Nyi Pedelingan. Tapi yang jelas itu sosok seorang perempuan yang kalau berjalan memakai tongkat dari bambu atau deling, makanya dijuluki Pedelingan," ujarnya saat ditemui di rumahnya, Rabu (2/11) lalu.

Makam Nyi Pedelingan, di Lonjong, Ngampin, Ambarawa, Kab Semarang. Foto diunggah pada Kamis (3/11/2022).Makam Nyi Pedelingan di Ambarawa Foto: Ria Aldila Putri/detikJateng

Wartoyo pun dititipi oleh orang tuanya untuk menjaga dan merawat makam keramat itu selepas orang tuanya meninggal. Makam itu kemudian dibangun kembali pada 2007.

"Makamnya ada dua, sebelah timur yang isi karena makam perempuan pasti ada di kiri. Yang satu itu kata bapak saya, punya yang jaler (suami Nyi Pedelingan) tapi belum ketemu sampai sekarang," jelasnya.

Ia menjelaskan, banyak cerita mistis di makam tersebut. Banyak orang yang tersesat saat melewati makam itu, hingga banyaknya hambatan ketika ada pembangunan tower listrik di lokasi yang berjarak 50 meter.

"Banyak yang diputer-puterin di sini, biasanya orang luar. Merasa ada yang lihat kampung, padahal itu kuburan. Waktu ada pembangunan tower juga susah sekali itu, petugasnya pasti ada gangguan, misalnya ketika diukur pasti lebih tinggi, lalu pindah tempat ternyata lebih rendah," imbuhnya.

Saat proses inventarisir di lokasi makam, Wartoyo berujar, petugas yang bekerja juga mengalami kesurupan.

"Ada yang kesurupan kemarin waktu proses tol juga itu. Bahkan petugas PPK tol awalnya sempat tidak percaya ada makam keramat lantaran tidak terdeteksi Google. Lalu kita cek bareng-bareng, ternyata mereka kaget ada makam," sebutnya.

Wartoyo juga pernah menemukan keris dan juga kepingan uang diduga peninggalan zaman Belanda.

"Saya pernah menemukan uang kuno dan keris. Sampai sekarang masih ada saya titipkan ke rumah adik saya," lanjutnya.

Tak hanya dihormati oleh warga lokal, makam Nyi Pedelingan juga kerap diziarahi warga dari luar kota.


----

Artikel ini telah naik di detikJateng dan bisa dibaca selengkapnya di sini.



Simak Video "Makam Keramat Karang Rupit, Jejak Sejarah Penyebaran Islam di Bali"
[Gambas:Video 20detik]
(wsw/wsw)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA