Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Minggu, 04 Des 2022 13:15 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Kisah dari Bali: Goa Raksasa dan Pantangan Makan Timbul

Mulut goa raksasa di Sanggulan yang kisahnya melekat dengan kepercayaan masyarakat adat setempat berpantang makan sayur atau buah Timbul atau Tiwul. (chairul amri simabur/detikBali)
Mulut goa raksasa di Sanggulan (chairul amri simabur/detikBali)
Jakarta -

Di Desa Adat Sanggulan, Desa Banjaranyar, Kecamatan Kediri, Tabanan, Bali, terdapat satu goa yang dipercaya pernah dihuni raksasa. Kisah itu sampai kini masih dipercaya. Hal itu ditandai dengan kebiasaan warga adat setempat yang pantang memakan olahan buah timbul atau tiwul.

Selain itu, goa raksasa itu juga masih ada. Meski dalam beberapa tahun terakhir, mulut goa itu menyempit akibat tertimbun tanah di sekelilingnya yang longsor.

"Sampai sekarang kami yang asli Sanggulan tidak pernah makan Timbul (Tiwul)," tutur Pamangku Pura Paneduhan, Jero Mangku I Made Jata, Sabtu (3/12/2022).

Menurutnya, kepercayaan mengenai pantangan memakan buah Timbul itu berkembang secara turun-temurun. Meski tidak ada catatan tertulis baik lontar atau prasasti. "Sudah turun-temurun. Tidak ada prasasti atau catatan tertulis," katanya.

Ia menyebutkan, kepercayaan itu lekat dengan kisah raksasa penghuni goa besar yang memiliki lebar sekitar belasan meter dan tinggi 10 meter tersebut. Dan kisah itu tanpa keterangan waktu. "Yang diketahui, kisah raksasa itu ada di masa kerajaan Tabanan," sebutnya.

Secara ringkas ia menuturkan, di masa itu raksasa tersebut sempat membuat resah masyarakat. Sebabnya, setiap Puri Tabanan melaksanakan upacara dengan mempersembahkan Tari Rejang Dewa, salah seorang penarinya pasti hilang.

"Biasanya penari yang ada di barisan terakhir. Keesokan harinya akan ada orang tua yang melaporkan kehilangan anak perempuan mereka setelah menari di upacara itu," jelas Mangku Jata.

Singkat cerita, upacara serupa kembali digelar pada kesempatan berikutnya. Kali ini, sebagai antisipasi, penari rejang di barisan terakhir diberikan beras yang belum sempurna ditumbuk.

"Beras itu ditaruh di pinggang dan bokoran atau wadah yang biasa dipakai untuk menaruh bunga oleh penari Rejang," ujarnya.

Hilangnya penari Rejang Dewa pada barisan terakhir terulang lagi. Raja Tabanan kala itu kemudian memerintahkan patih dan pasukannya untuk menelusuri hilangnya penari pada barisan terakhir dengan melihat ceceran beras tersebut.

Ceceran beras terakhir akhirnya ditemukan di goa itu. Di saat yang sama, patih yang diutus raja mendapati tulang belulang di sekitar goa tersebut. Begitu juga dengan raksasa yang ternyata menculik penari barisan terakhir.

"Cuma raksasa itu terlalu sakti. Tidak kalah oleh senjata. Patih yang diutus raja tidak sanggup melawannya. Sehingga patih itu kemudian kembali ke puri dan menyampaikan keadaan itu," kata Mangku Jata.

Sekembalinya di puri, Raja dan Patih menyusun siasat untuk mengalahkan raksasa itu. Siasatnya, masyarakat diminta untuk memotong dan mengeringkan ilalang. Ilalang kering itu kemudian ditaruh di depan mulut goa.

"Setelah banyak, ilalang kering itu kemudian dibakar. Asapnya masuk ke dalam (goa) dan membuat raksasa itu kepanasan," sambungnya.

Di saat itulah, patih utusan Raja Tabanan menyerang kembali hingga raksasa itu mengakui kesalahannya yang telah berulang kali menculik penari Rejang Dewa pada barisan terakhir.

"Karena mengaku salah, raksasa itu menyampaikan kelemahannya. Kalau ingin memusnahkannya harus menggunakan kayu Timbul. Kayu itu yang dipakai untuk memukul badannya," ujar Jata.

Pada saat yang sama, raksasa itu kalah dan sebelum mati ia sempat memberikan peringatan untuk tidak makan sayur berbahan buah Timbul.

"Jadi keberadaan goa itu erat kaitannya dengan kebiasaan yang dipercayai warga adat Sanggulan. Sampai sekarang masih seperti itu. Kalau dilanggar biasanya sakit dan harus meminta ampun kepada leluhur di rong telu (salah satu bangunan di pura keluarga)," sebutnya.

Mulut goa raksasa di Sanggulan yang kisahnya melekat dengan kepercayaan masyarakat adat setempat berpantang makan sayur atau buah Timbul atau Tiwul. (chairul amri simabur/detikBali)Mulut goa raksasa di Sanggulan yang kisahnya melekat dengan kepercayaan masyarakat adat setempat berpantang makan sayur atau buah Timbul atau Tiwul. (chairul amri simabur/detikBali) Foto: Mulut goa raksasa di Sanggulan yang kisahnya melekat dengan kepercayaan masyarakat adat setempat berpantang makan sayur atau buah Timbul atau Tiwul. (chairul amri simabur/detikBali)

Bercabang Tiga

Jata sendiri mengaku tidak pernah masuk ke dalam goa tersebut. Namun beberapa orang ada saja yang masuk ke dalam goa itu.

Dari cerita orang-orang yang masuk ke dalam goa itu, ia mendapatkan informasi bahwa goa itu miliki tiga cabang. Satu ke utara, satu ke barat di pinggir aliran sungai atau Tukad Yeh Panan, dan satu lagi ke selatan.

"Ada saja (yang masuk). Mungkin yang punya nyali. Biasanya mereka akan manaruh sesajen di depan goa. Saya sendiri tidak pernah masuk ke dalamnya. Justru saya mengetahui goa itu bercabang tiga dari orang-orang yang masuk itu," ungkapnya.

Mengenai keterkaitannya dengan Pura Peneduhan, Mangku Jata menyebutkan justru keberadaan goa tersebut tidak ada kaitannya secara langsung. Pura Peneduhan sendiri memiliki sejarah atau kisah yang berbeda meski terjadi di saat yang bersamaan. "Kaitannya secara langsung tidak ada," sebutnya.

Pura Peneduhan sendiri dulunya merupakan tempat berteduh rombongan Raja Badung yang hendak memenuhi undangan dari Raja Puri Tabanan yang sedang melaksanakan upacara besar.

Di lokasi pura itu, rombongan tersebut beristirahat dan kelelahan sehingga Raja Badung kala itu sempat mengambil air di sungai Yeh Panan di barat Pura Peneduhan. "Karena itulah namanya peneduhan," ungkapnya.

Namun, karena jarak antara Pura Peneduhan dan goa raksasa itu sangat dekat, sekitar seratus meter, prajuru pura pasti akan menghaturkan seseji ke goa tersebut.

"Karena tempatnya berdekatan, kurang lebih seratus meter, setiap upacara piodalan di Pura Paneduhan, kami biasanya juga maturang (menghaturkan sesaji) ke goa tersebut," imbuh Jata.

Piodalan di Pura Peneduhan rutin dilaksanakan setiap enam bulan sekali pada Budha Wage Merakih atau Rabu Wage Wuku Merakih.

Piodalan biasanya akan dihadiri oleh krama pamaksan atau golongan tertentu yang mempunyai kekerabatan dalam masyarakat Bali. Jumlah pamaksan pura ini terdiri dari 63 kepala keluarga.

"Tapi bukan berarti orang di luar pamaksan tidak boleh sembahyang. Kadang orang luar Sanggulan bahkan Denpasar ada yang sembahyang ke sini. Keperluannya apa, saya tidak mengetahuinya. Pastinya orang sembahyang memohon keselamatan," pungkasnya.



Simak Video "Kemenparekraf Sambut Ratusan Turis Tiongkok di Bali"
[Gambas:Video 20detik]
(sym/sym)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA