Di Sukabumi, terdapat sebuah daerah di perdesaan yang asri dan tenang bernama Kampung Lio. Berbanding terbalik dengan panorama alamnya yang memikat dan indah, daerah ini menyimpan sebuah kisah sejarah yang kelam.
Sebuah perkampungan yang terletak di Desa Cireunghas, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat itu dikenal dengan lanskap alam yang hijau dikelilingi perbukitan yang asri. Namun, kampung ini disebut-sebut sebagai saksi bisu sejarah peradaban perang di Indonesia.
Fakta-fakta Kampung Lio Sukabumi
Merangkum informasi dari arsip detikTravel, Sabtu (28/3/2026), berikut fakta-fakta Kampung Lio yang wajib diketahui:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Tempat Latihan Perang Zaman Belanda
Pemberitaan di koran Bataviaasch Nieuwsblaad tentang latihan perang Hindia Belanda di Kampung Lio, Sukabumi. (Istimewa) |
Kampung Lio di Sukabumi diketahui menyimpan jejak sejarah sebagai lokasi latihan militer tentara Hindia Belanda pada masa kolonial. Wilayah ini dipilih karena kondisi geografisnya yang dianggap mendukung, mulai dari kontur tanah hingga lingkungan alam yang menyerupai medan pertempuran.
Dalam catatan sejarah, Kampung Lio beberapa kali digunakan sebagai tempat pelatihan militer Belanda. Salah satunya terjadi pada era 1930-an, saat meningkatnya ketegangan antara pihak Sekutu dan Jepang.
Selain itu, kawasan ini juga difungsikan sebagai pusat latihan untuk persiapan menghadapi Perang Dunia II. Latihan militer tersebut bahkan sempat menjadi tontonan publik, dengan fasilitas tribun yang disediakan bagi sejumlah pejabat, seperti Bupati Sukabumi, Bupati Cianjur, hingga perwira tinggi militer.
Skenario latihan yang dilakukan menggambarkan situasi pertempuran dari desa ke desa. Pasukan ditempatkan di sejumlah titik strategis, di antaranya Bukit Pamipiran, kawasan kaki Gunung Cipadung, serta sepanjang bantaran Sungai Cimandiri.
2. Pernah Dilewati Tokoh Dunia
Tak banyak diketahui, Kampung Lio juga disebut pernah dilintasi sejumlah tokoh penting dunia. Letaknya yang berada di jalur strategis membuat kawasan ini kerap dilewati pejabat serta petinggi militer Belanda, baik untuk melakukan inspeksi maupun menyaksikan latihan perang.
Keindahan alam Kampung Lio pun disebut-sebut mampu memikat perhatian tokoh-tokoh penting yang menggunakan jalur kereta api dan melintasi kampung ini. Beberapa nama yang pernah dikaitkan dengan kawasan ini antara lain Eliza R. Scidmore, William Worsfold, Raja Thailand, Pangeran Austria Franz Ferdinand, hingga sosok legendaris Mata Hari.
3. Saksi Jatuhnya Nusantara ke Jepang
Pemberitaan di koran Bataviaasch Nieuwsblaad tentang latihan perang Hindia Belanda di Kampung Lio, Sukabumi. (Istimewa) |
Kampung Lio turut menjadi saksi bisu masa peralihan kekuasaan dari Belanda ke Jepang di Indonesia. Ketika Jepang mulai melancarkan invasi ke wilayah Nusantara, termasuk Hindia Belanda tahun 1942, serangan tersebut datang tanpa banyak peringatan dan sulit dibendung.
Di wilayah Sukabumi, serangan dilakukan secara intens melalui udara. Rentetan peristiwa itu turut meninggalkan jejak di Kampung Lio, yang menjadi bagian dari kisah kelam peralihan kekuasaan dari Belanda kepada Jepang dalam konteks Perang Dunia II.
4. Keberadaan Makam Eyang Layung Kuning
Keberadaan Makam Eyang Layung Kuning di kawasan Gunung Cipadung, yang masih berada dalam satu bentang wilayah dengan Kampung Lio, menjadi penanda penting bahwa kawasan ini telah dihuni sejak lama. Kampung Lio yang tercatat sudah ada sejak tahun 1889 itu diketahui mungkin berusia jauh lebih tua dengan bukti keberadaan Makam Eyang Layung Kuning di sekitar wilayahnya.
5. Panorama Alam yang Indah
Selain menyimpan nilai sejarah, Kampung Lio juga menyuguhkan keindahan alam yang memanjakan mata. Hamparan sawah yang luas, perbukitan hijau, serta suasana pedesaan yang tenang menjadikan kawasan ini memiliki panorama alam yang begitu memikat.
Kondisi Kampung Lio Saat ini
Saat ini, Kampung Lio dikenal sebagai perkampungan yang tenang, asri, dan jauh dari polusi. Lanskapnya masih didominasi oleh hamparan sawah, perbukitan hijau, serta aliran sungai yang memperkuat kesan alami khas pedesaan Sukabumi.
Namun, kondisi geografisnya yang berada di wilayah perbukitan juga membuat Kampung Lio memiliki kerentanan terhadap faktor alam, seperti potensi pergerakan tanah atau longsor ketika curah hujan tinggi.
Kondisi ini pernah terjadi di beberapa wilayah Sukabumi yang memiliki karakteristik serupa, sehingga menjadi perhatian dalam kehidupan masyarakat setempat.
(fem/fem)














































Komentar Terbanyak
Gerbong Wanita Dipindah ke Tengah, Setuju?
KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL, MTI: Momentum Perbaiki Perlintasan Kereta
AS Siapkan Paspor Edisi Khusus, Tampilkan Wajah Donald Trump