Traveler tahu nggak, ada kabupaten bernama Toli Toli di Sulawesi Tengah? Daerah ini dijuluki 'Kota Cengkeh' karena komoditas utama daerah ini adalah tanaman cengkeh.
detikTravel bersama Toyota Veloz Hybrid EV Lintas Nusa 2.0 Sulawesi, mengunjungi Kabupaten Toli Toli dan melihat langsung perkebunan cengkeh di sana. Sejauh mata memandang perbukitan, mata kita dihiasi pepohonan cengkeh yang seperti tak ada ujungnya.
Ya, cengkeh sudah mendarah daging di Toli Toli. Ribuan petani cengkeh sangat bergantung kepada salah satu tanaman rempah ini. Kualitas cengkeh dari Toli Toli termasuk kelas unggul lho.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tugu Cengkeh di Tengah Kota
Tugu Cengkeh di Kota Toli Toli Foto: Syanti Mustika/detikcom |
Bila traveler datang ke Kota Toli Toli, kamu akan menemukan landmark unik berbentuk biji cengkeh yang posisinya tepat di tengah kota. Keberadaan patung ini memperkokoh bahwa daerah mereka menghasilkan cengkeh terbaik dan terbesar di Nusantara.
Tugu Cengkeh ini dikelilingi oleh taman berbentuk melingkar. Biasanya, saat pagi atau sore hari, warga sekitar akan datang ke sini untuk berolahraga atau bersantai. Di taman tugu juga terdapat beberapa bangku taman.
Tantangan Petani Cengkeh Saat Ini
Namun, kehidupan petani cengkeh tak semulus itu. Semenjak dicabutnya subsidi pupuk sejak tahun 2022 dan pengaruh iklim, penurunan hasil panen jadi mimpi buruk bagi petani. Harga pupuk yang otomatis saja melambung, sulitnya mendapatkan pupuk, dan penurunan harga menjadi masalah besar bagi petani.
"Cengkeh itu dipanen setahun bisa 1-2 kali saja, tergantung dari cara perawatan dan pemupukan. Jadi kalau cengkeh tidak dipupuk, panen bahkan sampai 2 tahun sekali. Juga cengkeh bisa tidak berbuah karena tanahnya mungkin sudah asam, sudah tua. Kondisi cuaca juga berpengaruh. Kalau terlalu tinggi curah hujannya, kurang berbuah," papar Jumardin, Ketua Forum Komunikasi Petani Cengkeh Toli Toli.
Hasil Cengkeh di Toli Toli Foto: Syanti Mustika/detikcom |
Kenaikan harga pupuk, panen yang lama, membuat para petani cengkeh harus 'belok setir'. Dari yang semula bergantung sepenuhnya ke cengkeh, mulai beralih ke tanaman lain seperti budidaya kakao dan durian.
"Kalau misalnya panennya rutin, sebagian petani itu banyak bisa menyekolahkan anak-anaknya, bahkan bisa membangun rumah, bisa untuk segalanya. Cuman kalau misalnya cengkeh itu tidak ada perawatan, tidak ada juga kontribusi dari pemerintah untuk bantu petani untuk perawatan cengkeh, susah. Karena pupuk sekarang non-subsidi itu mahal, juga panennya jarang," kata Jumardin.
Jumardin, Ketua Forum Komunikasi Petani Cengkeh Toli Toli. (Foto: Syanti Mustika/detikcom) |
Sebelumnya, para petani telah mengeluhkan kondisi mereka kepada bupati, bahkan juga sempat demo. Mereka berharap pemerintah bisa mengembalikan subsidi cengkeh seperti sebelumnya.
"Saya pernah ketemu langsung dengan Pak Bupati, Pemerintah Daerah Toli-Toli terkait pupuk. Kemarin mau mengajukan bagaimana itu subsidi langsung di pemerintah pusat. Belum ada sampai sekarang tindak lanjutnya," tambahnya.
"Harapan kami sebagai petani cengkeh, berharap agar pemerintah daerah dan dibantu sama pemerintah pusat, khususnya Pak Presiden dan Kementerian Pertanian atau Perkebunan bisa membantu petani cengkeh seluruh, bukan cuma yang ada di Toli-Toli, seluruh bahwa pupuk bisa disubsidikan untuk petani, membantu petani menyubsidikan pupuk karena kendala kami sebagai petani cuma di pupuk," lanjut Jumardin.
Bolehkah Berwisata ke Kebun Cengkeh?
Traveler yang penasaran dengan pohon cengkeh, boleh banget kok melihat-lihat perkebunan kebun cengkeh, khususnya di perbukitan Toli Toli. Apalagi saat musim panen, warga akan beramai-ramai datang melihat para petani memanjat pohon untuk panen cengkeh.
Pemandangan dari perbukitan kebun cengkeh juga ciamik lho. Kamu bisa melihat hamparan hijaunya cengkeh hingga kawasan pesisir dan laut lepas.
Petani memanen cengkeh di Toli Toli (: Syanti Mustika/detikcom) |
Sayangnya saat kedatangan kami ke sana, musim panen telah lewat. Namun, kami beruntung masih bisa melihat bagaimana cara petani memanen cengkeh.
Awalnya saya penasaran, bagaimana cara petani memanjat pohon cengkeh setinggi itu, padahal ranting cengkeh sangat kecil. Ternyata, mereka menggunakan tangga bambu yang tingginya mencapai 17 meter untuk mencapai puncak pohon.
Sebelum menaiki tangga, petani akan mengikat tangga dengan tali supaya tangga aman untuk dipanjat. Kemudian, dengan lincah, petani memanjat tangga dan meraih cengkeh-cengkeh yang merona merah. Di untuk menampung cengkeh yang dipanen, petani membawa semacam keranjang yang diikat di pinggangnya. Jadi, setelah dipetik, cengkeh langsung masuk ke 'kantong ajaib' tersebut.
Simak Video "Video: Heboh Kapal Nelayan Berlayar Tanpa Awak di Pulau Balang Caddi"
[Gambas:Video 20detik] (sym/sym)















































Komentar Terbanyak
Setelah Viral Dugaan Diskriminasi WNI di Acara Lari, Entourage Bali Minta Maaf
Viral Sawah Bergaya Sabana di Prambanan, Petani Protes Lahan Jadi Tempat Bikin Konten
Media Asing Ikut Soroti Polemik Entourage Bali yang Diduga Diskriminasi WNI