Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 10 Mar 2011 10:36 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Belajar dari Sejarah Kesultanan Buton

d'travelers
Malige, tempat tinggal Sultan Buton
Malige, tempat tinggal Sultan Buton
detikTravel Community -

Sultan ke-38 Buton, Sultan Muh. Falihi Kaimuddin (1938-1960), pernah meramalkan bahwa kesultanan akan berakhir di tangan beliau. Antara lain karena menurut beliau tidak akan ada lagi sosok sultan yang mampu mendahulukan kepentingan rakyat Buton diatas kepentingan pribadi. "Jangan pernah memberikan sobekan kain dari pinggang", begitulah janji yang tepat menggambarkan bagaimana seorang sultan tidak akan pernah memberikan sisa kepada rakyatnya.

Terinspirasi dari cerita singkat di atas, maka tim ACI kali ini mengunjungi Pusat Kebudayaan Wolio, Baubau-Sultra. Disana kami bertemu dengan Pak Aris, pemuda Buton dengan kecintaan yang dalam terhadap sejarah sukunya. Beliau bercerita bahwa Kesultanan Buton berawal sebagai kerajaan dan kemudian berubah menjadi kesultanan dengan Sultan Murhum (1538-1584) sebagai sultan pertama. Meskipun Buton berbentuk kesultanan, namun demokrasi memegang peranan penting dalam struktur pemerintahannya. Pemilihan sultan bukanlah berdasarkan keturunan namun dipilih oleh Siolimbona, dewan yang terdiri dari 9 orang penguasa dan penjaga adat Buton. Bahkan setiap sultan berjanji untuk tidak lagi tidur dengan permaisuri demi menghindari lahirnya putra mahkota saat mereka bertahta. Karena bila sampai lahir seorang putra, maka kesultanan tidak lagi melalui proses demokrasi melainkan diwariskan kepada keturunannya. 

Saat pelantikan, sultan terpilih akan membuat sumpah untuk menjalankan UU negara yang disebut Murtabat Tujuh, dan menerima konsekuensi digantikan atau bahkan kehilangan nyawa bila melanggar UU tersebut. Janji ini disimbolkan dengan adanya untaian benang merah di payung pelantikan sultan. Dan terbukti dalam perjalanan sejarahnya, Sultan Buton ke-8, Mardan Ali atau Oputa Yi Gogoli (1647–1654) dihukum pancung karena melanggar janji setia pada konstitusi negara. 

Mendengar cerita di atas, saya jadi mengerti mengapa sultan terakhir meramalkan putusnya Kesultanan Buton. Karena memang tidak mudah mencari seorang pemimpin yang mampu dan mau memegang janji pada dirinya dan rakyatnya dengan taruhan nyawa. Harapan saya sebagai seorang rakyat tentunya sejarah Kesultanan Buton ini bisa jadi inspirasi dan pembelajaran buat para pemimpin di Indonesia. Ah, tapi sepertinya itu semua angan-angan belaka. Menurut Pak Aris, sampai saat kami datang di tanggal 21 Oktober 2010, belum pernah ada seorangpun presiden kita yang mampir di Wolio dan melihat (belajar) peninggalan sejarah Buton. Sayang sekali memang kalau akhirnya kearifan yang terbentuk 600an tahun ini hilang dan hanya menjadi catatan berdebu di salah satu sudut musium.



BERITA TERKAIT
BACA JUGA