Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 13 Sep 2011 11:24 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Menyusuri Sungai Citarum Hingga Mata Air Situ Cisanti

Dhafi Paparu
d'travelers
Foto 1 dari 4
Situ Cisanti
Situ Cisanti
detikTravel Community -

Pasti pernah mendengar ada sungai yang bernama Citarum atau DAS Citarum? Apalagi sungai ini lumayan populer. Citarum merupakan sungai paling besar di Jawa Barat (entah berapa juta orang yang hidupnya bergantung dari Citarum, petani, pemulung, apalagi desa atau kota yang di lewati aliran Citarum ini). Citarum merupakan sungai yang debit airnya cukup besar sehingga bisa mensuplai tiga PLTA di Jawa Barat, yaitu PLTA Cirata, Saguling, dan Jatiluhur. Ketiga PLTA ini menghasilkan listrik sebesar 5.000 giga watt per tahun atau 5 miliar kwh per tahun, bahkan suplai listriknya sampai ke Bali segala.

Tapi, Sungai Citarum juga memiliki cerita kelam. Nyaris semua penduduk desa atau kota yang dilewatinya hanya mengambil manfaatnya saja dari Citarum, tanpa pernah melihara sungainya. Parahnya lagi, kebanyakan yang hidup dari air Citarum ini feedback-nya malah memberikan racun dan sampah. Tidak aneh kalau misalnya Citarum ini "ngambek" dan kemudian merendam banyak wilayah yang dilewati oleh Citarum. Apalagi saat musim hujan, sungai ini sering meluap dan mengakibatkan banjir. Seperti misalnya daerah Sapan–Dayeuh Kolot yang setiap tahun rutin 'direndam' oleh Citarum. Rasanya rasio antara orang-orang yang peduli dengan yang tidak peduli sangat jauh berbeda, mungkin bisa dikatakan 1:200.

Ada satu fakta lagi yang paling mengerikan. Citarum itu sungai paling beracun di dunia. Mungkin banyak yang tahu tentang fakta ini.  Atau malah mungkin banyak orang yang berusaha menutupi fakta ini? Seperti yang pernyataan yang saya kutip berikut ini,

"MOST TOXIC PLACES ON EARTH, THE CITARUM RIVER IN INDONESIA
The Citarum is the biggest river in West Java, Indonesia and as such plays a vital part in the region in terms of agriculture, water supply, industry and sewage. The problem being that in excess of 5 million people live in the lower river basin and lack of controls has led to pollution beyond compare, in fact the river has received the inglorious award of  ‘the dirtiest River on earth’. On the positive side it has received a $500 million grant to improve conditions, if its not too late."
sumber: (http://carboncentral.co & http://planetforward.ca/blog/)

Tapi, berapa orang yang tahu kalau di hulu Sungai Citarum ini? Dari mana Citarum ini bermula? Seperti layaknya mata air, hulu Sungai Citarum pun sangat jernih, murni, dan yang pasti terletak di kawasan yang indah pula, namanya Situ Cisanti. Konon katanya ada tujuh mata air, tapi sekarang yang tersisa hanya satu mata air yang namanya mata air Pangsiraman yang sekarang sering dijadikan lokasi wisata ziarah dan masih tertata rapi.

Kebetulan, saya pernah ikut bersama anggota WANADRI untuk menyusuri Sungai Citarum dari daerah Pacet, Majalaya sampai ke hulu sungai, Situ Cisanti ini memang tidak seterkenal Situ Patengan Ciwidey atau Situ Cileunca Pangalengan. Tapi bukan berarti tempatnya tidak indah, akses menuju lokasi Situ Cisantinya saja yang buruk. Untuk menuju lokasi situ di dalam kendaraan kita akan terus 'bergoyang', serasa menggunakan delman, karena jalannya yang menanjak, berlubang, berbatu, dan berlumpur. Tapi, mata cukup terhibur dengan pemandangan alam yang ada di sepanjang jalan. Meski sayang, ternyata sudah banyak daerah yang gundul disekitar DAS Citarum.

Situ Cisanti ini kurang lebih luasnya sekitar 5 hektar dan berada di lahan seluas 7 hektar di kawasan perhutani, kaki Gunung Wayang, dengan ketinggian 1.500–3.000 dpl. Lebih tepatnya di Kampung Pajetan Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung. Akses menuju situ ini bisa dari Majalaya, Pangalengan atau dari Ciparay. Kedalaman situ ini sampai sekarang masih misteri, maksudnya belum ada yang tahu persis berapa meter kedalamannya.

Sampai saat ini, Situ Cisanti masih belum banyak dikunjungi oleh wisatawan domestik. Setelah masuk gerbang pos, retribusi saya langsung dihadiahi oleh pemandangan yang indah dengan hawa yang sejuk khas pegunungan. Setiap hari situ banyak dikunjungi orang untuk memancing dan menjala ikan, selain di saat-saat tertentu ada juga yang datang kesini untuk wisata ziarah.

Panorama situ yang masih dikelilingi hutan dan gunung ini memang enak untuk dinikmati untuk hunting foto atau sekadar menyepi sejenak dari rutinitas dan kerumitan kehidupan kota.

Karena saya udah pernah ke mata airnya, saya jadi semakin miris melihat kondisi DAS Citarum sekarang ini. Mungkin saya tidak bisa berbuat banyak untuk menggugah banyak orang, tapi saya hanya bisa mengajak menikmati fotonya, melihat kejernihan airnya, bila memang kejernihan air itu sangat berharga, mari kita jaga kejernihan air itu tetap adanya. Air itu keluar untuk memberi manfaat bukan untuk menyakiti manusia, manusialah yang membuatnya menjadi seganas sekarang.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED