Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 14 Nov 2011 17:44 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Bendungan Batutegi

Susanto Eko
d'travelers
Foto 5 dari 5
detikTravel Community -

Siang itu, 13 November 2011, pukul 12.15 WIB, aku dan teman-temanku (Rio, Ica, Wanty, dan Hesti) berencana untuk pergi ke sebuah objek buatan yang terletak di Talang Padang, Tanggamus, Lampung. Yakni sebuah bendungan yang dikenal dengan nama Bendungan Batutegi, 105 Km dari Kota Bandar Lampung. Waktu perjalanan yang kami tempuh dari Bandar Lampung sekitar 2 jam, dengan mengendarai sepeda motor berkecepatan 70 Km/jam. Ya, lumayan jauh dan melelahkan sih. Kami sempat melakukan istirahat beberapa kali karena saking lelahnya.

Setelah beberapa kali melalui jalan berkelok dan wilayah kebun karet, kami sampai di Talang Padang. Ketika tiba di pintu gerbang kami dikenai biaya masuk Rp 6.000,00/motor. Dan sekitar pukul 14.30 WIB, kami menginjakkan kaki untuk pertama kali di bendungan ini.

Kami langsung memarkirkan motor kami dan segera medekat ke area bendungan. Namun, ketika kami hendak masuk lebih dalam lagi, petugas yang menjaga di sana meminta biaya masuk kembali. Awalnya kami sedikit heran, "Bukankah di depan gerbang tadi sudah dimintai uang masuknya, pak?!". Petugas itu bilang tarif tersebut dikenakan untuk memasuki wilayah bendungan, sementara untuk masuk ke dalam lokasi bendungan dikenakan tarif lagi. Akhirnya, kami membayar lagi untuk bisa masuk ke dalamnya, sebesar Rp 15.000,00 dihitung kami semua berlima. Heran masih membayang, namun mau bagaimana lagi.

Rasa lelah ditambah heran tadi terbayar sudah dengan pemandangan sekitar bendungan yang memukau. Tampak deretan pohon pinus, jejeran bukit yang hijau karena suburnya pepohonan, dan juga jernihnya air bendungan. Meskipun matahari begitu terik siang itu, kami tetap semangat menikmati indahnya.

Tak banyak bicara lagi, kami langsung berfoto dengan berbagai gaya. Di tiap sudut lokasi bendungan menjadi background dari foto-foto kami.

Dan ada satu tempat dari bendungan itu yang dari kejauhan ingin sekali kami dekati. Yakni sebuah tulisan besar yang menandakan identitas lokasi itu. Kami lalu menghampirinya, dan dari tempat itu terlihat jelas air yang melewati terowongan yang begitu besar, untuk kemudian mengalir ke pembangkit yang ada di bagian bawah. Serta ada hal yang membuat kami prihatin, yakni sebuah monumen yang memuat daftar nama korban jiwa ketika proses pembangunan bendungan itu dilakukan. Ada 13 nama yang tertera di monumen itu. Semoga pengorbanan jiwa tersebut sebanding dengan hasilnya. Amin..

Kemunculan mentari sore menjadi akhir dari kunjungan kami. Bergegas pulang, untuk kembali mengisi semangat petualangan ke tempat-tempat wisata lainnya.

 



BERITA TERKAIT
BACA JUGA