Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 02 Jul 2012 13:10 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Marrakech, Atmosfer Dua Benua dalam Kota Penuh Romansa

Foto 1 dari 5
Menara di Masjid Koutubia (flickrhivemind.net)
Menara di Masjid Koutubia (flickrhivemind.net)
detikTravel Community - Kota Marrakech di Maroko punya sisi kontras yang mewakili dua benua, Afrika dan Eropa. Ini adalah kota penuh warna, menebar kehangatan, menstimulasi semua indera. Saat malam tiba, Marrakech jadi sang pencipta romansa.

Marrakech punya banyak irisan yang menunjukkan sisi kontras. Kota ini terletak di lereng Pegunungan Atlas yang berpuncak salju, pun dekat dari Gurun Sahara yang gersang. Kawasan Medina menunjukkan sisi Afrika yang kental lewat jejeran toko dan pasar tradisional. Sementara kawasan Gueliz, bergaya Eropa lewat restoran cepat saji serta butik-butik merk ternama.

Kata 'Mur' dan 'Akush' yang jadi asal muasal nama Marrakech, punya arti "Land of God" alias Tanah Para Dewa. Kota ini menebar sejuta pesona, mendekap para traveler dalam kehangatan kotanya. Dari pagi hingga malam, Marrakech siap menjamu wisatawan.

Ketika mentari pagi menelusup di sela-sela bangunannya, pertanda bagi Anda untuk mulai menjelajah. Awali hari di kawasan Gueliz, berjalan kaki di jalan berlapis keramik sambil menikmati bangunan modern. Coba melangkah menyusuri Avenue Mohammed V, hingga Anda tiba di kawasan Medina.

Begitu masuk kawasan Medina, atmosfer Afrika akan langsung menyeruak. Avenue Mohammed V bagaikan batas benua, alih-alih jalan yang menghubungkan dua kawasan berbeda. Medina bagaikan kota di film kartun Aladdin, dengan bangunan yang didominasi warna cokelat bata. Inilah tempat yang cocok untuk Anda menghabiskan siang.

Bangunan yang pertama kali menyergap mata pastilah Masjid Koutubia. Konon, menara Masjid Koutubia di Marrakech bagaikan Menara Eiffel di Paris. Berdiri megah di halaman masjid, menara ini menggaungkan adzan lima kali sehari.

Medina menjadi magnet kuat wisatawan lewat arsitektur bangunan dan kerajinan khas. Mengutip situs Wikitravel pada Senin (2/7/2012), dua hal itu bisa Anda lihat di Museum of Islamic Art, juga Dar Si Said Museum yang menempati sebuah istana kuno.

Dua museum ini punya koleksi artefak Maroko berusia ratusan tahun, mulai dari ukiran kayu hingga alat musik. Selain itu, ada pula koleksi kerajinan mulai dari keramik hingga karpet warna-warni.

Romansa Marrakech kala malam menjelma di Djemaa El-Fna. Pasar malam ini adalah daya tarik utama Kota Marrakech. Ibarat kata, Djemaa El-Fna harus ditulis dalam huruf kapital. Ditulis miring, tebal, serta bergaris bawah untuk membedakan dari kata-kata lainnya.

Kepulan asap dan wangi masakan menyeruak dari pusat kawasan Medina. Jejeran penjual makanan menyuguhkan daging panggang rempah sampai sosis pedas dalam ukuran besar. Suara memasak menyatu dengan alunan saksofon dan tabuhan gendang dari musisi jalanan. Wanita setempat membuka lapak tato henna. Tarian dan nyanyian Maroko dibawakan oleh grup musik, yang meminta beberapa dirham dari tiap penikmatnya.

Djemaa El-Fna adalah tempat para wisatawan menghabiskan malam. Anda bisa langsung menyambangi The Souks, pasar tradisional paling terkenal di Marrakech. Di sini Anda bisa membeli hampir semua barang mulai dari rempah-rempah hingga sepatu, kain kaftan, juga teh lokal.

Sebelum beristirahat, cobalah berburu kerajinan khas lokal. Lentera lilin berukir, karpet warna-warni, juga Cactus Silk khas Maroko yang disulap menjadi syal dan seprai. Argan, jenis minyak yang hanya diproduksi di Maroko bisa digunakan untuk memasak juga kecantikan. Gunungan rempah-rempah menjadi objek foto yang digemari tiap wisatawan.

Cobalah menginap di Riad, rumah khas Maroko dengan halaman mungil di dalamnya. Menginap di Riad berarti Anda akan disuguhi sarapan di halaman mungil itu, sambil menyerap energi matahari pagi. Indah dan romantis!
BERITA TERKAIT
BACA JUGA