Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 05 Nov 2012 13:50 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Pantai Nambo, Bentangan Pasir Putih Jagoannya Kendari

IQBAL KAUTSAR
d'travelers
Foto 5 dari 5
Ketenangan air Pantai Nambo
Ketenangan air Pantai Nambo
detikTravel Community - Pantai Nambo adalah destinasi wisata paling favorit di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Pantai ini punya hamparan pasir putih yang membentang lebih dari 300 meter. Ombaknya tenang, airnya pun jernih.

Pagi hari, dua lelaki sibuk mempersiapkan dagangannya. Seorang yang sudah tua menata meja, menaruh gelas dan perlengkapan lainnya, sembari menyeruput segelas kopi. Satunya lagi, seorang yang muda bersemangat mengangkut kelapa-kelapa dari sepeda motornya. Kemudian, ditata sebagai komoditi jualannya.

Pak Yasir, berusia sekitar 60 tahun, dan anak bungsunya adalah penjual kelapa muda pertama yang tampak pagi itu di Pantai Nambo, Kendari, Sulawesi Tenggara. Wajah mereka cerah, optimis, yakin akan mengumpulkan pundi-pundi rezeki. Sementara lapak-lapak lain masih kosong. Entah akan diisi, atau dibiarkan kosong seharian.

Pak Yasir mulai berjualan kelapa muda mulai pertengahan dekade 1990-an, menjelang kejatuhan Soeharto. Kelapa-kelapa itu ia dapatkan dari ladangnya di bukit, tak jauh dari pantai. Walaupun tak berjualan tiap hari, akhir pekan menuai untung besar baginya karena banyak pendatang yang menghabiskan akhir pekan di pantai ini.

Pantai ini hanya 15 km dari pusat Kota Kendari, sekitar 30 menit perjalanan. Menuju pantai ini adalah sebuah perjalanan yang mengasyikkan. Menyusuri Teluk Kendari, melihat hutan bakau, menikmati tambak, meresapi aktivitas bahari para warga.

Sebelum tiba di Pantai Nambo, Anda akan menembus perbukitan. Jalannya berkelok dengan tebing dan jurang di kiri-kanan. Namun, panoramanya cukup menyegarkan untuk menghempaskan penat yang dibawa dari kota. Pantai Nambo sangat pas untuk berbagi keceriaan bersama orang-orang tercinta.

Pada hari Minggu dan hari libur, pantai yang berokasi di Kecamatan Abeli ini selalu dipadati wisatawan lokal. Daya tarik utamanya adalah hamparan pasir putih yang lembut sepanjang 300 meter. Tak ada batuan karang saat Anda berjalan menyusuri pantai.

Ombaknya tenang, airnya jernih. Sangat cocok untuk mandi dan berenang di laut. Dari kejauhan, pengunjung bisa melihat pemukiman nelayan Suku Bajo. Kalau beruntung, Anda bisa lihat mereka mencari ikan di lautan tak jauh dari garis Pantai Nambo.

Keindahan alam ini makin sempurna sambil menikmati segarnya kelapa muda. Padanan yang pas dalam bingkai suasana pantai tropis. Deretan penjual di masing-masing lapaknya menyuguhkan kelapa muda yang segar. Tak hanya itu, keramahan penjualnya pun jadi bonus tersendiri dalam liburan Anda. Terlebih lagi, menjadi berkah bagi Pak Yasir dan puluhan warga lain yang berjualan di sana.

"Hari Minggu saya biasa menjual 100 kelapa. Sampai-sampai saya harus membeli kelapa untuk stok persediaan. Dari ladang tak cukup," kata Pak Yasir.

Satu buah kelapa rata-rata dihargai Rp 5.000. Dikali 100, setidaknya Pak Yasir dapat penghasilan kotor Rp 500.000. Di hari biasa, Pak Yasir biasa menjual 50 kelapa. Hal ini benar-benar menopang ekonomi masyarakat setempat. Pak Yasir pun tenang menikmati hari tua, sembari berinvestasi membeli ladang baru dari hasil berjualan kelapa muda di Pantai Nambo.

Transformasi dari Hutan Bakau

Pantai Nambo bukanlah pantai biasa, apalagi menyangkut asal-muasalnya. Tahukah Anda, pantai ini dulunya hutan bakau yang cukup lebat. Begitulah kata Pak Yasir, berbagi cerita.

Sekarang, kondisi Pantai Nambo sangat kontras dengan yang lama. Tak tersisa pohon bakau yang tumbuh kecuali di selatan, itu pun hanya dua atau tiga. Adalah seorang pengusaha lokal yang menemukan pasir putih di tengah hamparan hutan bakau. Baginya, itu adalah potensi bagus untuk dikembangkan sebagai tempat wisata.

Pengusaha itu pun membeli lahan di sana, yang sebelumnya adalah milik warga. Ia kembangkan menjadi objek wisata. Pohon bakau pun dihilangkan karena tidak bernilai estetik 'wisata pantai pasir putih'. Ia mengelola pantai itu secara swasta. Warga setempat, termasuk Pak Yasir, diajak meramaikan 'pantai baru' yang dikelolanya. Sejak itu muncullah identitas Pantai Nambo seperti yang ada sekarang.

Sekitar tahun 2000-an, pemerintah daerah mengambil alih Pantai Nambo. Jadilah pantai ini milik Pemda Kota Kendari. Pemerintah pun lebih gencar mengembangkan Pantai Nambo. Pohon bakau di tengah laut lantas dibersihkan, tak bersisa, agar tak ada halangan untuk memandang batas horison laut dengan birunya langit tempat itu. Benar saja, Pantai Nambo memang cocok untuk menyaksikan sunrise.

Fasilitas penunjang pun dibangun, cukup memanjakan pengunjung. Ada area parkir yang luas, dua unit kamar bilas, 31 unit gazebo, sebuah villa, serta warung makanan dan minuman yang berderet rapi di pinggir pantai. Anda tak percuma membayar tiket masuk Rp 2.000 untuk dewasa dan Rp 1.500 untuk anak-anak. Hanya saja seorang teman saya, Bung Pugo namanya, kesulitan mencari toilet saat berkunjung ke sana. Ya, sebuah catatan soal kekurangan.

Sayangnya, kami tak bisa berlama-lama di Pantai Nambo. Hari itu adalah hari terakhir kami berada di Bumi Haluoleo. Kami harus lekas kembali ke Kota Kendari untuk bersiap kembali ke Yogya. Tampak awan hitam tengah bergelayut pekat di Teluk Kendari. Perubahan cuaca yang sangat cepat, padahal saat kami tiba di Pantai Nambo sejam sebelumnya, matahari terik menyongsong di langit biru yang cerah.

Kami pun segera pamit dengan Pak Yasir, sambil membayar kelapa muda yang puas kami teguk. Ada sesuatu yang menarik dari perjumpaan kami dengan Pak Yasir. Kami teringat pesannya.

"Orang Jawa itu kaya dan makmur. Ajaklah, suruh main ke Pantai Nambo agar wisata di sini lebih terkenal luas. Kalau terkenal kan kami penjual kelapa muda juga ketularan makmur," katanya.

Sepertinya Pantai Nambo masih sebatas jadi jagoan lokal Kendari. Masih butuh promosi luas untuk lebih mengeksplorasi keindahannya demi menyejahterakan masyarakat setempat.

Memang, Pak Yasir pernah dua kali pergi ke Jawa dan melihat pembangunan di sana sangat pesat. Lantas, ia menggeneralisasi bahwa orang Jawa itu makmur. Memang tak sepenuhnya benar, juga tak seluruhnya salah. Kesenjangan pembangunan di Jawa dengan di luar Jawa memang cukup besar. Setidaknya seperti itulah Pak Yasir, seorang awam, mempersepsikannya.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA