Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 23 Mei 2013 14:25 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Penari Kesurupan, Tari Jaran Kepang Memang Bikin Heboh

Foto 1 dari 5
Jaran kepang (cahya ning budoyo) pakis, malang sedang melakukan tarian buton lawas
Jaran kepang (cahya ning budoyo) pakis, malang sedang melakukan tarian buton lawas
detikTravel Community - Tarian Jaran Kepang yang asli Jawa Timur adalah salah satu tontonan tari yang seru untuk wisatawan. Gerak dinamis, apalagi penarinya bisa kesurupan, membuat Jaran Kepang ditonton dengan agak-agak ngeri, tapi sukses membuat penasaran wisatawan.

Kota Malang merupakan tujuan perjalanan saya kali ini. walaupun sudah beberapa kali menginjakan kaki di sana, tujuan perjalanan saya bukan untuk menikmati suguhan alam. Kali ini saya ingin mengenal lebih dekat dengan kesenian Tari Jaran Kepang.

Jaran Kepang ini telah membuat saya berdecak kagum. Saya melihat tarian ini di Desa Pakis, Kabupaten Malang. Sesuai namanya, Jaran Kepang artinya kuda-kudaan dari kepangan bambu. Belakangan ini, kulit kambing dan kulit sapi juga dijalin untuk membuat Jaran Kepang. Sebagian besar wilayah Jawa Timur, tarian ini biasanya ditampilkan bersama dengan Reog Ponorogo dan Bantengan.

Bagi masyarakat sisi timur wilayah Jawa Timur, tarian ini merupakan kisah-kisah raja-raja kecil atau adipati yang saling berperang untuk meluaskan wilayahnya. Seperti kisah peperangan antara Turyanpadha dengan Tuksari atau pemberontakan rakyat Malang, Surabaya, Lumajang dan Pasuruan dalam melawan Sultan Agung dari Mataram.

Konon, Tari Jaran Kepang merupakan bentuk apresiasi dan dukungan rakyat jelata terhadap pasukan berkuda Pangeran Diponegoro dalam menghadapi penjajah Belanda. Ada pula cerita yang menyebutkan, bahwa tari kuda lumping menggambarkan kisah perjuangan Raden Patah yang dibantu oleh Sunan Kalijaga melawan penjajah Belanda. Ada juga yang mengkisahkan tarian ini sebagai bentuk latihan perang pasukan Mataram yang dipimpin Sultan Hamengku Buwono I.

Terlepas dari itu, semua gerakan dari tarian menampilkan semangat kepahlawanan dan aspek kemiliteran sebuah pasukan berkuda atau kavaleri. Karena gerakan- gerakan yang disungguhkan sangat dinamis dan agresif, melalui kibasan anyaman bambu dan gerakan loncat layaknya penunggang kuda yang sedang berperang.

Dalam pergelaran tarian ini ada 4 fragmen antara lain 2 kali Tari Buto Lawas, Tari Senterewe, dan Tari Begon Putri. Pada fragmen Buto Lawas, biasanya ditarikan oleh para pria saja dan terdiri dari 4 sampai 6 orang penari. Beberapa penari muda menunggangi kuda anyaman bambu dan menari mengikuti alunan musik. Alat musik yang digunakan utuk menemani tarian ini adalah gamelan.

Gamelan  hanya terdiri dari Kendang, Kenong, Gong, dan Slompret yaitu seruling dengan bunyi melengking. Lantunan sajak-sajak yang dibawakan dalam mengiringi tarian, biasanya berisikan imbauan agar manusia senantiasa melakukan perbuatan baik dan selalu ingat pada Sang Pencipta.

Selain mengandung unsur hiburan dan religi, kesenian tradisional ini seringkali juga mengandung unsur ritual dan supranatural. Karena sebelum tarian kuda lumping dimulai biasanya ada ritual pembacaan doa oleh pawang hujan agar menahan cuaca tetap bersabat.

Selain pawang hujan ada satu orang yang berperan penting memegang kendali yaitu datuk atau gambuh di mana bertugas untuk membuat pemain Jaran Kepang kesurupan sekaligus menyembuhkan pemain yang kesurupan. Sekali datuk mencambuk, beberapa pemain akan sekaligus roboh dan kesurupan. Mereka kerasukan roh-roh yang di luar kendali dari dirinya ada yang bersikap layakanya hewan kuda, monyet bahkan macan.

Ketika sedang menari dengan luwes layaknya penari profesional, tiba-tiba ada yang makan beling. Ada juga penari yang makan ayam hidup. Peralatan lain yang mendukung pagelaran tari ini yaitu dupa, buceng yang isinya ayam panggang jantan dan beberapa jajan pasar, satu buah kelapa dan satu sisir pisang raja.

Ada lagi kembang boreh yang berisi kembang kantil dan kembang kenanga, ulung-ulung berupa seekor ayam jantan yang sehat serta kinangan yang berupa satu unit gambir, daun sirih, tembakau dan kapur yang dilumatkan menjadi satu lalu diaduk dengan tembakau. Bahan-bahan tersebut bisaanya digunakan untuk tradisi supranatural atau yang berbau mistis.

Saya melihat Tari Jaran Kepang pertama kali dengan rasa takut dan penasaran yang mendalam. Saya takut jika ada salah satu pemain yang kesurupan itu datang menghampiri saya. Bau semerbak menyan dan asapnya mengelilingi saya dan penonton menambah suasana semakin mistis.

Terlihat seru karena biasanya para pemain kuda lumping yang kesurupan semakin menjadi-jadi. Sekali pecut dicambukkan ke tanah oleh datuk, kontan beberapa pemain kuda lumping roboh ke tanah dan mulai kesurupan di luar kendali orang tersebut.

Macam-macam bentuk kesurupan ada yang menyerupai hewan kuda,monyet, macan dan sebagainya. Mereka menari layaknya penari profesional wanita dengan luwes.

Padahal mereka tidak sadar bahwa bisa menari seperti itu. Ketika itu saya melihat salah satu pemain yang tiba-tiba kesurupan menaiki pohon kelapa dan memetik buah kelapa, lalu membuka buah kelapa dengan giginya.

Ada pula yang mengambil pohon salak yang berduri sampai akar-akarnya dan memanggulnya tanpa ada luka dikulitnya akibat duri salak tersebut. Namun, menurut pendapat penduduk setempat jaran kepang diundang tampil ada sebabnya. Misalnya saat hajatan sunatan, mereka yakin mengundang jaran kepang bisa membuat si anak cepat sembuh.

Kuda lumping biasanya juga main pada saat hajatan pernikahan, penyebabnya agar acaranya lancar dan tidak turun hujan. Itulah beberapa alasan yang saya dapat dari pengkuan penduduk setempat.

Di sisi lain, ada beberapa pantangan bila kita melihat tarian ini. Salah satunya kita dilarang bersiul kencang layaknya laki-laki yang menggoda perempuan lewat karena bukan perempuan yang datang, melainkan pemain yang sedang kesurupan.

Katanya para pemain yang kesurupan, bila mendengar siulan kuping mereka menjadi panas. Otomatis ia akan mencari dan menghampiri siapa yang bersiul untuk sekedar memberitahu agar tidak melakukan itu.

Tetapi, jika yang dituju berlari maka pemain yang kesurupan itu akan ikut berlari dan mungkin akan memukul dengan caplokan atau kuda-kudaan yang ditungganginya.
 
Banyak yang berpendapat bahwa kesenian ini melanggar syariat agama. Tapi menurut saya, Jaran Kepang merupakan aset budaya Indonesia yang sangat berharga. Karena tarian tradisional ini kalah dengan modern dance yang digandrungi anak muda Indonesia.

Saya terharu sekaligus bangga setidaknya di timur Pulau Jawa masih ada sekelompok anak muda yang masih mau melesetarikan budaya tanpa malu dan risih. sebagai anak muda Indonesia jangan hanya mengapresiasi tarian modern saja. Kita memiliki aspek seni budaya yang bernilai tinggi yang wajib kita jaga.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED