Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 24 Jul 2013 11:20 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Panas Terik Bulan Puasa di Kupang

Diaz Rossano
d'travelers
Foto 3 dari 5
Khotbah Tarawih di Masjid Al Muttaqien
Khotbah Tarawih di Masjid Al Muttaqien
detikTravel Community -

Menghabiskan bulan Ramadan di Kupang, NTT Anda bakal merasakan suhu yang panas pada siang hari. Selain itu, ternyata juga sulit untuk mendapatkan takjil di sini. Inilah tantangan yang harus dilewati.

Kupang merupakan sebuah kota di Pulau Timor, NTT. Mayoritas penduduk di kota ini memeluk agama Nasrani. Ada beberapa perbedaan suasana bulan Ramadan di Kupang dengan kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta atau Surabaya.

Di Kupang, tidak terdapat banyak masjid. Sehingga jamaah akan membludak saat melaksanakan ibadah salat, hingga ke pinggaran masjid. Di dalam masjidlah Anda bakal merasakan suasana bulan Ramadan yang syahdu. Begitu keluar dari masjid, suasananya tidak akan terasa lagi.

Berpuasa di lingkungan mayoritas non Muslim merupakan tantangan tersendiri, karena harus mampu menahan hawa nafsu di tengah lingkungan yang tidak berpuasa. Tantangan pertama adalah menetapkan waktu mulai puasa dan waktu berbuka puasa.

Tidak seperti di Jakarta atau kota-kota besar lain di Indonesia yang dapat mendengarkan adzan dari TV atau radio, di Kota Kupang harus jeli mendengarkan adzan dari masjid terdekat. Cara selain itu, Anda bisa mencocokkan waktu dari selebaran yang dibagikan.

Karena takut terlewat atau kurang, maka waktu sahur dipercepat sekitar 5-10 menit dari waktu imsak, dan waktu buka diperlambat juga sekitar 5-10 menit dari waktu Maghrib yang tertera di selebaran dengan jam di rumah atau arloji. Bila masih berada di Kota Kupang mungkin masih sayup-sayup terdengan adzan, namun ketika tugas di luar kotanya, kita terpaksa mengira-kira waktu berbuka dan waktu sahur.

Tantangan kedua adalah berpuasa di lingkungan orang yang tidak berpuasa. Pernah suatu ketika diselenggarakan rapat di bulan puasa, kita yang Muslim terpaksa membawa pulang kue yang dibagikan.

Apalagi bila ada acara yang diselenggarakan di hotel dan berlangsung hingga sore hari, mau tak mau wajib disediakan makan siang bagi peserta yang tidak berpuasa karena mayoritas peserta memang tidak berpuasa. Inilah mungkin tantangan terberat ketika melihat orang makan kala sedang berpuasa.

Tantangan ketiga adalah mencari makan sahur, karena tidak semua warung buka ketika sahur tiba. Biasanya warung makan Padang buka saat sahur, sehingga walaupun jauh dari rumah tetap harus disambangi. Cara lain adalah dengan membeli makanan yang dibungkus, kemudian dihangatkan kembali saat sahur tiba.

Demikian juga saat berbuka, bila di daerah lain banyak pedagang makanan dadakan muncul, di Kota Kupang hanya segelintir saja. Itu pun biasanya mangkal di sekitar Bank Mandiri Cabang Kupang. Di tempat lain tidak ada kemeriahan para pedagang takjil seperti di kota-kota lainnya.

Tantangan keempat adalah suhu udara yang cenderung ekstrem. Di siang hari panas bisa mencapai 37-38 derajat Celcius, sementara di malam hari bisa turun hingga 18-20 derajat Celcius, karena pengaruh angin barat yang sedang melanda Pulau Timor.

Panas terik semakin mempercepat pembakaran lemak tubuh, sehingga bila tidak tahan bisa mendadak pingsan. Sementara suhu yang cepat turun bisa membuat tubuh meriang dan rentan terkena penyakit.

Semua itu tidak menghalangi kita yang Muslim berpuasa, walaupun tantangannya cukup berat. Justru tantangan itulah yang menjadi soal ujian bagi seorang muslim untuk meningkatkan derajatnya di mata Allah.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA