Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 09 Okt 2015 11:50 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Penti, Upacara Adat yang Sakral di Wae Rebo

Itsmefreeday
d'travelers
Foto 1 dari 5
Anak-anak di Desa Wae Rebo
Anak-anak di Desa Wae Rebo
detikTravel Community -

Penti merupakan upacara adat untuk mengungkapkan rasa syukur para warga Wae Rebo di Flores. Upacara Adat ini pun menjadi daya tarik turis untuk datang ke Wae Rebo.

November adalah waktu tepat untuk mengunjungi Wae Rebo, sebuah desa tradisional di Manggarai, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Di bulan tersebut masyarakat Wae Rebo akan merayakan Penti yang merupakan upacara adat turun temurun.

Lokasi Wae Rebo yang berada di ketinggian 1.200 mdpl. Menjadikannya disebut desa di atas awan. Saat datang ke desa ini kita akan di sambut udara yang sejuk dan pemandangan yang indah.

Jarak yang saya tempuh untuk sampai ke Wae Rebo sekitar 4 jam dengan berjalan kaki dari desa terakhir sebelum Wae Rebo. Saat tiba di desa ini kita akan disambut dengan pemandangan yang menakjubkan dan udara yang sejuk.

Bentuk rumah di sini tidak seperti di pedesaan pada umumnya. Desa Wae Rebo hanya memiliki 7 rumah yang atapnya berbentuk kerucut. Mbaru Niang adalah sebutan untuk rumah adat khas Waerebo. Ketujuh rumah ini letaknya berdekatan dan membentuk hampir setengah lingkaran di halaman perkampungan.

Penti menjadi salah satu daya tarik bagi traveler untuk mengunjungi Wae Rebo. Upacara Penti biasanya diadakan di pertengahan November, sebagai bulan awal bercocok tanam dan pergantian tahun. Masyarakat Manggarai dari desa lainnya pun akan datang menghadiri upacara tersebut.

Selain saya, banyak traveler lain yang kebanyakan turis mancanegara juga menyaksikan upacara tersebut. Tidak hanya itu, beberapa media juga hadir dan meliput acara adat ini.

Ritual Penti dilakukan setiap tahun. Upacara ini diadakan sebagai bentuk rasa syukur masyarakat Manggarai, khususnya penduduk Wae Rebo atas kehidupan selama satu tahun dan atas keberhasilan panen tanaman.

Pada pagi hari warga desa akan sibuk menyiapkan acara ini. Tamu yang datang untuk menyaksikan upacara Penti akan berkumpul di depan Rumah Gendang, rumah utama mereka.

Gendang sakral mulai ditabuh. Alunan musik tradisional yang khas dan nyanyian budaya menandakan upacara adat ini mulai diselenggarakan. Alunan musik tersebut dimaksudkan untuk mengundang roh leluhur penjaga pintu air.

Upacara Penti di Waerebo di lakukan di 3 lokasi. Dimulai dengan pemberkatan terhadap sumber mata air, keselamatan kampung dan roh jahat. Dalam upacara adat Penti ini, masyarakat juga memberikan persembahan untuk para leluhur dengan cara mengorbankan hewan.

Pada umumnya, hewan yang menjadi persembahan adalah sapi, ayam dan babi tergantung kebutuhan dan dana yang terkumpul untuk upacara adat tersebut. Persembahan dilakukan di tiga titik lokasi dan diawali dengan memotong ayam jantan.

Darah ayam yang dipotong diteteskan di atas batu yang tersusun sebagai tanda permintaan kepada leluhur, supaya mata air dijaga dan memohon keberkahan untuk hasil bercocok tanam mereka. Apabila isi ayam yang di potong bagus (organ dalam bagus seperti hati), maka hasil persembahan mereka diterima oleh leluhur dan hasil panen juga bagus di masa mendatang.

Upacara adat Penti dilanjutkan dengan pertunjukan tarian Caci, yang merupakan tarian perang masyarakat Manggarai. Hal yang menarik dari tarian ini adalah warga yang ikut serta akan memakai pakaian dan atribut khusus khas Manggarai.

Para penari Caci ini juga membawa cambuk dan tameng. Sesekali saya merasa ngeri melihat penari caci saling mencambuk. Sekaligus takjub melihat para pemain yang terlihat riang dan tetap menari mengikuti alunan musik, walau badan mereka berdarah.

Tarian caci ini sendiri mengandung makna, dimana dalam menghadapi persoalan hidup kita tidak boleh menyimpan dendam dan amarah walau pun telah disakiti.

Puncak acara adat Penti ini berlangsung pada malam hari. Masyarakat wae Rebo akan berkumpul di rumah utama dangan melakukan Tundak Penti, di mana mereka menyembelih babi jantan dan betina. Upacara Adat Penti ini diakhiri dengan Sanda, yakni nyanyian tanpa henti yang tidak diiringi musik.

Ritual Penti dan tarian Caci ini menambah ragam budaya Indonesia. Hal tersebut menjadi magnet bagi para traveler. Masyarakat Wae Rebo juga sangat ramah menyambut para pendatang dan menyediakan tempat. Saat pertama kali datang ke desa ini, kita akan diterima secara adat di rumah Utama.

Menginap dan menyaksikan ritual adat Penti merupakan pengalaman yang luar biasa bagi saya dan rekan. Kami bisa menikmati pemandangan yang indah dan budaya peninggalan leluhur.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA