Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 05 Nov 2015 11:14 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Mendaki Sendiri ke Gunung Sibuatan, Bisa!

Monides Sagala
d'travelers
Foto 1 dari 5
Gunung Sibuatan dari Desa Nagalingga
Gunung Sibuatan dari Desa Nagalingga
detikTravel Community -

Naik gunung bukanlah sesuatu yang mudah, namun bukan berarti tidak mungkin jika ingin mendaki gunung sendiri. Mendaki gunung Sibuatan sendiri, begini ceritanya!

Mendaki gunung sendirian? Ya, kenapa tidak. Buat sebagian orang-orang yang tidak pernah mendaki atau tidak menyukai hobi berpetualang di alam terbuka, pasti selalu berpikiran hobi berpetualang termasuk mendaki gunung adalah hobi yang gila dan buat capek.

Tapi buatku tidak demikian, berpetulang itu merupakan aktivitas bagaimana kita mengenal jati diri kita sendiri dan cara menghargai serta menjaga alam. Dengan mendaki gunung aku bisa tau seberapa besar usaha yang aku buat untuk bisa melewati tantangan dilapangan dan seberapa kuat tekadku demi mencapai puncak dan kembali pulang kerumah.

Bercerita tentang gunung tertinggi di Sumatera Utara. Mungkin sebagian besar orang belum mengetahuinya. Gunung Sibuatan di Desa Nagalingga, Kabupaten Tanah Karo sekitar 2 jam lebih perjalanan darat dari kota Medan bisa ditempuh dengan transportasi umum.

Gunung Sibuatan memiliki ketinggian 2.457 mdpl memang kalau dibandingkan dengan beberapa gunung lain di Indonesia masih memiliki jarak ketinggian yang jauh, tapi Sibuatan merupakan tanah tertinggi di Sumatera Utara.

Gunung Sibuatan memang masih kalah terkenal dibandingkan dengan gunung Sinabung dan Sibayak tapi buat para pendaki lokal disini Sibuatan adalah destinasi pendakian favorit sejak gunung Sinabung mulai erupsi 15 september 2013 lalu. Semenjak itu para pendaki lokal beralih ke gunung Sibuatan yang sebelumnya sangat jarang disentuh.

Sebelum aku memutuskan mendaki ke gunung Sibuatan pada tanggal 1-2 Juli 2015 lalu, aku sama sekali belum pernah naik ke sini sebelumnya. Tapi karena mendengar informasi dari teman-teman dan hasil googling bahwa gunung ini masih sangat jarang didaki, aku menjadi tertantang untuk segera bersiap-siap naik ke gunung ini.

Setelah berkoordinasi dengan teman-teman satu kampus  dengan maksud mengajak naik bersama. Tapi tidak ada teman yang bisa naik bareng pada tanggal yang aku tentuin meskipun sudah aku ajak berkali-kali, kemudian aku memutuskan untuk mendaki sendirian. Dengan mempersiapkan perlengkapan standart dan logistik yang cukup untuk pendakian 2 hari 1 malam tersebut, aku juga mencari info-info mengenai track ke gunung ini dari komunitas-komunitas pencinta alam di Medan.

Dengan penuh rasa yang campur aduk tetapi selalu tertantang aku memutuskan melakukan pendakian solo. Tepat pada jam 06.15 WIB tanggal 1 Juli aku sudah berada di Stasiun Datra, transportasi umum menuju ke desa Nagalingga. Sekadar informasi biaya registrasi ke gunung ini Rp 10.000,- per orang.

Ketika diperjalanan teman-teman lewat bbm pada nanya, apakah aku jadi naik sendiri? Kenapa sih naik sendiri? emang gak ada teman yang bisa nemenin? Ya aku balas aja dengan alasan mau mencoba pendakian solo sambil tertawa dalam hati.

Jarak dari pos registrasi ke posko pintu rimba sekitar 1 kilometer bisa diitempuh dengan jalan kaki atau menumpang becak bermotor warga setempat seperti yang aku lakuin menuju posko pintu rimba Sibuatan. Di posko pintu rimba semua perlengkapan kita di chek dan logistik yang memiliki plastik, berapa botol minuman, berapa banyak bungkus rokok di catat dan harus dibawa kembali turun sesuai dengan catatan di posko.

Gunung ini memang aku bisa bilang sangat alami dan belum ada sampah. Untuk menjaga hal tersebut penjaga posko bersama komunitas pencinta alam di sini menerapkan aturan tersebut dan memiliki sanksi denda juga hukuman tertentu. Sekalipun puntung sisa rokok di Sibuatan harus dibawa turun juga ke posko. Harapannya hal ini bisa terjaga seterusnya dan para pendaki menaati aturan ini demi kelestarian hutan dan gunung ini.

Aku memulai pendakian dari pintu rimba sekitar pukul 09.20 WIB setelah semua perlengkapan diperiksa dan jumlah sampah logistik dicatat oleh penjaga. Penjaga yang bertugas ini posko bertanya kenapa aku naik sendiri ? Memang nggak takut nanti?

Tapi aku jawabnya dengan wajah santai mau mencoba pendakian solo bang, memang pada hari itu aku adalah pendaki pertama yang akan naik dan sesuai info dari penjaga gak ada sama sekali pendaki digunung ini beberapa hari itu. Perasaan tertantangpun semakin berkobar dengan harapan nanti ada pendaki yang menyusul dari belakang. Track ke gunung ini memang hanya ada satu jalur masih yang dibuka dan itu pun masih sangat sempit dan sulit untuk dilalui disepanjang perjalanan kita akan melewati hutan yang masih alami dan pijakan kaki pada akar-akar pohon.

Mulai dari Pos/Shelter 3 jalur pendakian dipenuhi dengan hutan lumut yang berbentuk-bentuk aneh sedikit menyeramkan, tapi kita juga bisa menemukan beberapa tumbuhan kantong semar (Nephentes) di antara shelter 2 sampai shelter 4. Sekedar informasi di gunung ini ada terdapat 5 shelter sebelum sampai di puncak.

Setelah 6 jam 15 menit perjalanan aku tiba di area camp dengan perjuangan yang sangat membuat adrenalin saya tertantang. Sepanjang perjalanan aku hanya melangkah tanpa satu katapun terucap keluar dari mulut. Semua perasaan hanya dipendam sesekali aku mengabadikan beberapa moment dan lokasi tertentu dengan kamera dari ponsel.

Pengalaman paling seru yaitu ketika aku mencoba mengambil fotoku dengan menggunakan timer dan meletakkannya di tanah lalu ditahan dengan ranting pohon kemudian pose. Di setiap shelter aku beristirahat sambil minum sesekali aku keluarkan snack dari carrier untuk cemilan.  Melangkah lagi sambil mendengarkan musik untuk mengusir rasa takut akan suara kumpulan monyet-monyet dengan suara khas mereka.

Di area camp aku mendirikan tenda dengan pemandangan langsung ke arah Danau Toba dan Bukit Gundul. Lalu merebahkan badan sambil memandangi Danau Toba yang terlihat jelas sangat luas membentang. Puas beristirahat dan menikmati alam Sibuatan, aku memutuskan naik ke pilar puncak barat Sibuatan untuk melihat matahari terbenam.

Gunung Sibuatan memiliki dua puncak yaitu puncak barat dan puncak timur akan tetapi titik tertinggi ada di puncak barat. Setiba di pilar puncak tertinggi Gunung Sibuatan rasa syukurpun terucap dalam hati. Mendaki sendirian tanpa guide di tanah tertinggi di Sumatera Utara untuk pertama kalinya, sebuah perasaan yang sangat sulit diungkapkan. Ya mungkin buat teman-teman yang mau merasakannya, anda harus melakukannya juga sendiri dan patut dicoba untuk pengalaman yang sangat luar biasa.

Malam hari di dalam tenda aku hanya mendengar musik salah satunya lagunya Michael Schenker judulnya "Never Ending Nightmare". Harapanku yang sebelumnya berharap ada pendaki yang menyusul berujung sirna karena sebelum aku tertidur tidak ada sesosok manusia yang muncul di area camp.

Pagi hari muncul dengan udara yang sangat sejuk dan tenang, aku mulai memanaskan air untuk membuat segelas kopi sebelum melangkah lagi ke puncak timur mengejar matahari terbit. Cuaca dan tiupan angin sangat dingin menembus jaket tebalku ketika mulai keluar dari tenda dan melanjutkan perjalanan. Sekitar 20 menit dari area camp, keindahan itu pun datang menyambutku. Sang surya terlihat muncul sedikit demi sedikit diatas lautan awan tebal.

Sekadar info lagi dari puncak ini kita juga bisa memandangi gunung Sinabung yang erupsi dengan jelas dan melihat keindahan danau Toba juga. Bangga akan keindahan yang tersaji didepan mata, rasa syukur kembali terucap buat Sang Pencipta. Semoga keindahan ini selalu bisa terjaga dan kembali tersaji nanti untuk para petualang dan pendaki sejati.

Untuk teman-teman yang mau mendaki ke gunung ini tetaplah jaga kelestarian alam dan segala isi hutan gunung Sibuatan, patuhi aturan yang ada dan jangan lupa untuk mengucapkan syukur kepada Sang Pencipta.

Untuk para pendaki mungkin bisa juga mencoba pendakian solo biar agak menantang dan  membuat rasa penasaranmu terjawab. Terimakasih tak terhingga untuk bumi semesta, gunung yang setia, hutan dan para pohon yang berjiwa. Tetaplah hidup dan lestari.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA