Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 14 Jul 2016 14:20 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Sepenggal Kisah Gerbong Maut di Museum Brawijaya, Malang

Dewi Puspasari
d'travelers
Foto 1 dari 5
Museum Brawijaya Malang
Museum Brawijaya Malang
detikTravel Community - Museum Brawijaya di Malang punya banyak koleksi benda bersejarah. Sebut saja Gerbong Maut yang menyimpan kisah sedih zaman penjajahan.

Museum Brawijaya dikenal akan koleksinya yang berupa gerbong maut. Pada masa Belanda, gerbong ini mengangkut banyak orang tanpa ventilasi udara sehingga banyak yang meninggal. Namun selain gerbong maut, ada pula berbagai koleksi museum lainnya yang bisa menambah wawasan sejarah.

Museum Brawijaya merupakan salah satu museum yang ada di Malang. Lokasinya sangat strategis dan mudah dijangkau oleh angkutan umum, yaitu terletak di Jalan Ijen No 25 yang rindang dan asyik untuk jalan-jalan.

Sejak kecil sudah terhitung beberapa kali saya mengunjungi museum ini. Apalagi ketika duduk di bangku SMA, lokasi belajar dan museum ini tidaklah terlalu jauh dan bisa dijangkau dengan berjalan kaki.

Salah satu koleksi museum ini yang sering dijadikan bahan obrolan kami adalah gerbong maut. Ada cerita yang mencekam di dalamnya, membuat kami menduga-duga bagaimana menderitanya penumpang gerbong tersebut selama perjalanan.

Kisah gerbong maut berlatar waktu tahun 1947 di mana saat itu masih terjadi agresi militer Belanda. Ada banyak gerilyawan dan tentara yang berupaya mempertahankan kemerdekaan. Salah satu perlawanan tersebut ada di Bondowoso.

Para pejuang ditangkapi. Oleh karena jumlah tahanan yang tidak dapat ditampung di penjara Bondowoso, maka 100 tahanan yang dianggap paling berbahaya pun hendak dipindahkan ke penjara Bubutan Surabaya pada 23 November 1947.

Ada tiga gerbong kereta, GR5769 dan GR4416 dan GR10152. Oleh karena tidak adanya makanan minuman, serta ruang bernafas yang susah maka sebagian besar tahanan pun lemas setelah mengalami perjalanan belasan jam.

Mereka berdesakan, kelelahan, dan terpanggang oleh panasnya gerbong. Sungguh malang, 46 tahanan tewas mengenaskan, korban terbesar di gerbong GR10152 yang tidak memiliki ventilasi udara sama sekali.

Saat saya kembali berkunjung ke sini, perhatian saya tidak terfokus kepada gerbong maut tersebut, melainkan melihat-lihat koleksi museum lainnya. Tidak banyak perubahan yang terjadi pada museum yang dibuka sejak tahun 1968 ini, kecuali koleksi tanknya yang sekarang dilindungi, tidak seperti pada saat masih kecil di mana ada banyak pengunjung yang asyik bermain-main dan naik di atas tank.

Kolam ikannya juga masih sama seperti dulu, dengan adanya ikan mas yang yang asyik berenang di kolam ikan berwarna kehijauan itu. Saya berjalan masuk dan membayar tiketnya yang bertarif Rp 3 ribu per orang.

Tidak banyak pengunjung yang masuk ke bangunan museum saat itu, lebih banyak mereka yang asyik berfoto-foto di depan dan halaman. Di depan museum terdapat tiga tank yang digunakan pada pertempuran 10 November 1945 di Surabayaya dan di halaman terdapat Tank AMP-TRACK yang digunakan 35 pejuang Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) untuk bertempur pada 31 Juli 1947.

Museum ini buka setiap harinya dari pukul 08.00 hingga 14.30 WIB. Namun khusus untuk Jumat tutup pukul 11.30 dan pada Sabtu dan Minggu tutup pada pukul 13.00 WIB. Ada dua ruang koleksi di museum ini.

Oleh karena museum ini merupakan museum perjuangan, maka koleksinya didominasi hal-hal tentang perjuangan mempertahankan kemerdekaan, terutama pada masa agresi militer Belanda. Namun koleksinya bukan sebatas yang digunakan untuk bertempur di Malang, namun juga di daerah sekitarnya seperti Surabaya dan Bondowoso.

Di ruang koleksi utama ada berbagai koleksi yang menarik. Di antaranya mobil De Soto USA yang digunakan sebagai mobil dinas Kolonel Soengkono saat menjabat sebagai Panglima Divisi Brawijaya, berbagai senjata, samurai, meja kursi yang digunakan untuk perundingan gencatan senjata antara TKR dan sekutu pada 29 Oktober 1945.

Selain itu ada pula lukisan yang menggambarkan terbunuhnya Mallaby dan pertempuran 10 November 1945, peta pendudukan Belanda saat agresi militer tahun 1948, seragam tentara Indonesia, mata uang yang pernah beredar pada masa revolusi, radio dan alat komunikasi saat perjuangan, merpati pos, juga catatan peristiwa masa itu yang direkam oleh koran lokal, seperti Bhirawa.  

Melihat banyaknya foto-foto dan quote dari Jenderal Soedirman, saya merasa museum ini dibangun untuk mengenang jasa untuk panglima besar TNI AD ini. Ada patung setengah badannya yang menyambut pengunjung ketika memasuki museum. Ada juga peta rute gerilya, peralatan bertempurnya, juga berbagai lukisan Jenderal Soedirman dan beragam pesan bijaknya.

Saya menyukai pesan-pesan bijaknya seperti “Janji sudah kita dengungkan, tekat sudah kita tanamkan, semua ini tidak akan bermanfaat apabila janji dan tekat ini tidak Kita amalkan dengan amalan yang nyata”. Pesan bijak lainnya berupa "Jangan bimbang menghadapi macam-macam penderitaan, karena makin dekat cita-cita kita tercapai, makin berat penderitaan yang harus kita alami."

Koleksi lainnya yang bisa disimak yaitu relief kekuasaan kerajaan Majapahit dan relief penugasan pasukan Brawijaya, peta kota Malang dan foto tempo dulunya, peralatan musik, dan tentunya Gerbong Maut dan Perahu Sigigir yang digunakan pada November 1947.

Bangsa yang besar akan selalu menghargai jasa pahlawannya. Dari hasil berkunjung ke Museum Brawijaya ini saya merasa betapa beratnya memperjuangkan dan kemudian mempertahankan kemerdekaan masa itu. Sehingga rasanya sudah tugas generasi penerusnya untuk selalu menjaga keutuhan bangsa di berbagai era.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA