Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 16 Jan 2017 10:45 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Satu Lagi Gunung yang Cantik di Kabupaten Bandung

Backpacker Mate
detikTravel Community
Foto 1 dari 5
detikTravel Community -

Kawasan Kabupaten Bandung diberkahi alam yang cantik. Salah satunya Gunung Artapela, yang punya panorama indah dari ketinggian dan udara yang sejuk.

Mungkin masih sedikit asing memang ditelinga para pendaki tentang keberadaan gunung yang satu ini. Artapela merupakan Gunung tropis yang tidak aktif yang berada di daerah Kertasari yang berbatasan dengan Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Dengan ketinggian sekitar 2.194 mdpl, Gunung Artapela kini menjadi salah satu gunung baru yang mulai popular dan mulai banyak didaki oleh para pendaki Indonesia.

Sebenarnya sudah beberapa bulan terakhir ini kita sudah merencakanan untuk pergi ketempat ini, tapi karena terhambat waktu akhirnya tanggal 1 Oktober 2016 kemarinlah kita bisa ke sana, maklum salah satu dari kita seorang pekerja yang hanya mempunyai 2 hari libur dalam 1 minggu, maka dari itu gunung ini cocok untuk liburan akhir pekan dan tanpa harus mengambil cuti.

Perjalanan dimulai pukul 07.00 dari Kopo Bandung Selatan, kita menggunakan motor melalui Balaendah-Ciparay, dari situ kita lanjutkan ke arah Pacet Sukapura jaraknya kurang lebih 17 km dari Ciparay. Setelah sampai di Desa Sukapura, ada pertigaan menuju kampong Argasari, di sanalah pos pendakian Artapela berada.

Sesampai di pos pendakian kurang lebih pukul 09:00 ternyata di sana juga ada rombongan dari Jakarta, dan kita pun mengisi formulir registrasi & perijinan, dengan Retribusi jasa lingkungan Rp 5.000 /orang, parkir motor Rp. 10.000 per motor/malam. Setelah istirahat sebentar di Pos sekitar jam 09:30 kitapun mulai berangkat, sebelum pergi kita pun di beri pengarahan seperti masalah sampah, api unggun dan lain sebagainya. Oh ya untuk jalur yang bisa kita lalui ini ada 2, melalui jalur Seven Field (kebun 7) dan melalui Datar Jamuju, bedanya jalur seven field ini lumayan menanjak hampir tidak ada bonus (kata seorang petugas), dan jalur Jamuju relatif lebih landai, kitapun memutuskan naik lewat Datar Jamuju dan turun lewat Seven Field

Jangan khawatir masalah arah, meski minim patok/tanda petunjuk, kita bisa menanyakan kepada petani sekitar di sepanjang perjalanan, karena jalur pendakian ini hampir sepenuhnya melewati bukit-bukit perkebunan sayuran, baru kali ini kita mendaki tapi hampir tidak memasuki hutan.

Kalau masih takut tersesat / atau ngedaki nya malam bisa sewa porter/guide, katanya sudah tersedia jasa porter. Di sepanjang perjalanan kita disuguhkan oleh pemandangan perkebunan Petani yang menggarap lahan PTPN VIII Para Petani yang biasa mengangkut hasil kebun menggunakan motor. Di jalan kita pun melewati rombongan dari Jakarta tadi yang sedang beristirahat, dan yang kita temuin hanya 1-2 pendaki saja yang sedang turun.

Hampir disepanjang perjalanan tidak ada pohon untuk berteduh dari teriknya matahari atau hujan, yang ada hanya saung-saung petani yang bisa kita jadikan tempat peristirahatan sejenak. Oh iya di sini banyak sekali wortel dan kentang baik yang dikebun atau yang berserakan di jalan, mungkin berjatuhan dari motor pengangkut hasil kebun. Karena tergiur kita pun  meminta sedikit kentang dan wortel yang bersekaran di jalan itu kepada salah seorang petani, dan mereka sangat baik bahkan menawarkan yang lainnya. Ingat jangan memetik sembarangan dan tanpa izin!

Soalnya pas diatas puncak lumayan banyak juga sisa-sisa kentang & wortel. Ketika rasa lelah saat berjalan di tengah hujan dan kebun yang berada di ketinggian sembari ngemil wortel yang rasanya manis, nikmatnya seperti makan buah-buahan yang dari kulkas, seolah memberi kesegaran kembali.

Ketika terdiam sesaat terjatuh dalam rasa lelah setelah naik turun melewati beberapa bukit perkebunan, dengan cuaca yg mendung hujan reda silih berganti dan menyaksikan kabut tipis diikuti kabut pekat dari kejauhan, tiba-tiba seekor burung elang terbang di pohon yang ia hinggapi yang tidak terlalu jauh dari tempat kita terdiam, tak ingin ku sia-siakan untuk mengabadikan moment ini dengan alat ala kadarnya, meski burung itu hampir masuk ke dalam kabut.

Moment itu cukup membuat kita kembali bersemangat untuk menanti apa yg akan alam dan sang pencipta suguhkan. Sebelum sampai di puncak kita sedikit memasuki area hutan, meski pepohonan di sana sudah hampir rata di tebang oleh warga sekitar, terlihat juga tempat pemotongan kayu, menurut info kerusakan kawasan hutan lindung petak 39 telah mencapai puncaknya sejak 2015, berawal dari kebakaran hutan yang terjadi pada musim kemarau kala itu bulan September 2015. Entah terbakar atau di bakar kondisinya semakin memprihatinkan.

Sekitar jam 13:00 kita pun sampai puncak dan disuguhkan kabut tebal, hujan dan badai angin, memaksa kita harus sesegara mungkin mendirikan tempat berlindung di dekat pepohonan, saat itu hampir tidak terlihat orang atau tenda lain, seolah-olah puncak itu hanya milik kita berdua. Setelah itu kitapun mengisi perut dengan oatmeal, memasak mie instan dan tidak lupa membuat kopi untuk dinikmati di tengah cuaca seperti itu.

Setelah 30-60 menitan badai itu berlalu, orang-orang mulai terlihat berdatangan, tak dikira akan sebanyak itu yang datang, mengingat perkataan petugas di pos yang mengatakan kalau kemarin itu yang mendaki hanya dua orang. Tidak mau ketinggalan tempat yang strategis untuk melihat sunrise & citylights, kitapun bergegas pindah tempat.

Sore menjelang malam, berhubung cuaca tidak mendukung dengan kabut yang datang dan pergi hampir tiap beberapa menit sekali, saat itu kita habiskan di tenda, memasakpun hanya di vestibule saja. Oatmeal pun dilahap, dan Kentang yang tadi dalam perjalanan minta ke petani kita goreng dengan sosis & cireng yang kita beli dipasar bawah, tentunya saos & mayonnaise sebagai pelengkap menjadi santapan kita dikala malam itu, sungguh nikmat rasanya.

Setelah itu kitapun bersantai sejenak didepan tenda menggelar matras, ditemani secangkir kopi dan susu menikmati keheningan malam dan memandang citylights yang selalu tertutup kabut yang membuat kita tidak puas dengan cuaca kala itu, akhirnya setelah beberapa menit tepat jam 21:00 kita pun bergegas tidur.

Jam 02:00 subuh saya terbangun dan melihat keluar, ternyata kabut sudah tidak ada, pemandangan citylights pun terlihat jelas dan hanya ada satu rombongan tenda di atas belakang tenda kita yang sedang asik pada bernyanyi diiringi suara gitar, Gila men bawa-bawa gitar ke atas gunung!   Karena saat malam kurang puas dengan cuaca, akhirnya sayapun menggelar matrass di depan tenda sembari menunggu matahari terbit.

Saat menikmati citylights dengan secangkir kopi dari kejauhan salah satu gunung tampak menyala, terpancar warna merah seperti bara api yang mengepulkan cahaya ke atas, dalam hatiku bertanya-tanya, apakah itu?

Menurut salah satu warga sekitar, kepulan cahaya merah seperti bara api itu berasal dari kawah Gunung Papandayan. Benarkah? entahlah...

Tidak lama kemudian ada 2 orang yang seperti sedang berpatroli melewati tenda kami, berhubung persediaan air yang kita bawa makin menipis hanya cukup untuk sarapan pagi saja, kita pun menanyakan pada mereka, ternyata mereka bukan petugas tapi warga sekitar yang berasal dari Pangalengan. Kata mereka ada sumber air di jalur via {angalengan yang tidak begitu jauh dari puncak. Saya pun menanyakan masalah jalur via Pangalengan yang masih sangat minim info, orang-orang yang mendaki lewat Pangalengan pun katanya mereka hanya menitipkan kendaraannya di Pos Satpam, tanpa ada perijinan yang legal.

Memang kemarin kita hanya membawa air cuman 3 liter karena menurut petugas pos di sini tersedia air, memang agak sedikit bau karena air yang tidak terkena sinar matahari, tetapi kalau dipasak masih aman katanya.

Sekitar jam 05:00 pagi, langit mulai membiru diiringi sedikit demi sedikit cahaya matahari yang masih tersipu malu untuk menampakan dirinya, sebelum menikmati itu semua kitapun bergegas untuk sholat terlebih dahulu, setelah itu kita pun keluar tenda, ternyata diluar sudah banyak orang yang sedang mengabadikan moment dengan berfoto ria, kita pun bergegas mencari spot untuk menikmatinya.

Setelah cukup puas berjalan-jalan menikmati pagi yang lumayan cerah saat itu kitapun kembali ke tenda untuk membuat sarapan, dan saya mencari air ke jalur Pangalengan. Saat berjalan sedikit ke bawah ternyata jalur pangalengan masih terlihat rimbun pepohonannya, ketika saya sedikit memasuki hutan ternyata ada orang di sana memberi tahu kalau mau ngambil air ke belakang puncak saja tinggal ikutin jalur itu terus ke bawah.

Saya pun kembali untuk ke arah itu. Setelah itu saya kembali ke tenda ternyata Nasi goreng, sosis + saos dan mayonnaise nya sudah siap disantap untuk sarapan kala itu. Tak terasa waktu menunjukan pukul 10:00 dan kitapun mulai beres-beres untuk pulang, tak lama kemudian tiba-tiba kabut pekat datang diikuti hujan, yang memaksa kita menunda kepulangan dan berteduh di dalam tenda.

Sekitar jam 11:30-an hujan pun mulai reda dan kitapun kembali beres-beres packing, setelah semua beres sekitar jam 12-an kitapun turun meski kabut masih menyelimuti, beberapa lama kemudian hujan kembali turun dan kita pun meneruskan perjalanan memakai jas hujan, diperjalanan kita bertanya ke salah satu petani yang akan segera pulang, kalau jalur Seven Field (kebun 7) itu kemana, ternyata mereka tidak tahu dengan nama itu. Katanya ada juga jalur yang muter agak landai (mungkin yang dimaksud yang kemarin kita lewati jalur datar jamuju) dan jalur yang langsung turun terus tapi agak curam (mungkin yang dimaksud jalur Seven field) itu

Kita pun bergegas ke jalur yang langsung turun agak curam itu. Hampir di sepanjang perjalanan kita di guyur hujan, dengan cuaca yang sedikit berkabut mendung hujan reda silih berganti membuat jalur sangat berbahaya, berjalan menurun di tengah-tengah ketinggian perkebunan dengan tanah merah/tanah gembur yang basah membuat jalur menjadi sangat licin saya pun hampir 4 kali terjatuh dibuatnya, kita pun kadang merayap ketika melewati turunan yang curam karena hampir tidak ada pegangan ditengah-tengah perkebunan seperti itu, tidak seperti di hutan meski licin banyak tepian dahan atau akar yang bisa dijadikan pegangan.

Kala itu kita berjalan hampir sangat lambat, menguras tenaga, memang semua gunung mempunyai rintangan yang berbeda-beda, masing-masing mempunyai ciri khas nya tersendiri. Dipertengahan jalan ada seorang petani menggunakan motor berhenti seperti sedang menunggu seseorang, ketika kita hampiri dan menanyakan arah jalan, petani itu berkata, biar cepat ikuti saja pertengahan tiang listrik sutet itu yang berada di tengah-tengah perkebunan, jangan ikuti jalur motor ini, karena berputar jauh. Setelah itu petani itu, kita pun mengikuti petunjuk petani itu, beberapa saat kemudian ada lagi petani yang sedang duduk di saung seperti sedang menunggu seseorang, belum kita hampiri petani itu pergi, berhubung kondisi agak lelah kita pun meminta izin untuk berteduh dan beristirahat di saungnya.

Ternyata disaung itu ada dua ikat pisang. Dapet rezeki nomplok entah karena lelah, dingin atau apalah itu tapi ketika melahap pisang itu. Rasanya nikmat, kalau dibandingin nih sama pisang yang paling enak di supermarket, wah jauh lebih enak pisang alami ini! Dan sepertinya petani/warga sekitar terlihat sangat welcome, dengan sengaja mereka menunggu kita hanya untuk memberi petunjuk, mengingat ketika itu hampir semua petani sudah pulang.

Setelah beberapa saat beristirahat, kita pun melanjutkan perjalanan meski hujan rintik-rintik, sayangnya untuk perjalanan pulang kita tidak sempat untuk mengabadikan moment (foto) bahkan tidak sempat untuk memikirkannya, karena hampir sepanjang perjalanan kita diguyur hujan. Setelah beberapa saat akhirnya kitapun sampai di basecamp Sekitar pukul 15:30,menghabiskan 3,5jam perjalanan, itu sama halnya ketika pergi kemarin (gubrag) ternyata sama saja.

Beres laporan, kita pun beristirahat sebentar menelonjorkan kaki di sebuah Sekolahan tempat diparkirnya kendaraan kita, tepat di belakang basecamp itu, sambil jajan baso tahu dan ternyata si mang baso nya itu yang kemarin nongkrong di basecamp nunjukin arah jalur, dan kita pun ngobrol ternyata Artapela ini mulai ramai didaki sejak 6 bulan yang lalu, bahkan surat perizinan resmi dari Perhutaninya pun baru 3 bulan yang lalu.

Jam menunjukan pukul 16:00 hujan pun semakin deras, tidak mau berlama-lama di sini, setelah berpamitan kita pun memutuskan untuk pulang ditengah dinginnya cuaca itu. Beberapa saat menjelang masuk ke Baleendah ternyata disana sudah banjir saat kita coba melewatinya ternyata banjir itu cukup dalam, diperkirakan hampir sepaha lebih orang dewasa, motor kita pun tenggelam hampir setengahnya, untung saja banjirnya tidak terlalu jauh dan kalau kita teruskan melewati jalan itu banyak daerah banjir yang lebih parah dari sini, kata warga sekitar. Kita pun memutuskan untuk kembali dan lewat jalur banjaran, meski cukup jauh memutar untuk sampai di Kopo, gara-gara itupun kita pulang kerumah kemaleman yang tadinya ingin cepat sampai dirumah, ehh malah kemalaman. Tapi Alhamdulillah masih bisa diberi keselamatan sampai rumah.

Sebenarnya sih disini terdapat juga Danau Aul yang melegenda, tapi sayang dikarenakan cuaca yang tidak mendukung dan entah dimana keberadaan Danau itu kurang jelas infonya, jadi kita tidak pergi ke sana. Untuk rincian biaya pengeluarannya, bensin motor Rp. 15.000, Retribusi Jasa Lingkungan Rp 5.000 per orang.

 
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
Load Komentar ...
NEWS FEED