Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 27 Feb 2017 12:17 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Seminggu Berkeliling Eropa dari Belanda

Yenni Ruth Wardani
d'travelers
Foto 1 dari 5
Antwerpen Central Station
Antwerpen Central Station
detikTravel Community -

Menghabiskan dua minggu liburan Natal di Belanda akan terasa sangat membosankan. Yuk jalan-jalan keliling Eropa.

 

Apalagi ini musim dingin, inginnya pergi cari sinar matahari. Maka terbersitlah keinginan untuk pergi eksplor Eropa ini. Apalagi dengar-dengar, kalau sudah berada di Belanda, negara lainnya sangat mudah di jangkau. Makanya disebut 'Jendela Eropa'. Langkah pertama adalah mengumpulkan teman. Semakin rame semakin bagus. Maklum, penikmat sharing cost. Ada sedikit keraguan, cukup enggak duitnya.

 

Hasil diskusi dengan teman-teman, adalah salah satu solusi dengan memakai eurail http://www.eurail.com/eurail-passes. Dengan pass ini sangat memungkinkan untuk menjelajah 30 negara Eropa mennggunakan kereta dengan harga yang lumayan terjangkau. Namun kendalanya adalah harus tinggal di Eropa minimum 6 bulan untuk bisa mendapatkan kartu ini.

 

Tapi untuk urusan begini emang di Eropa ketat peraturannya. Dan juga untuk harga kartu termurah adalah kartu untuk seminggu. Dalam seminggu paling menjelajah 3 sampai 5 negara. Dan untuk jelajah 3 sampai 5 negara rasanya harga kartu itu masih mahal.

 

Jalan keluarnya? Bikin itinerary sendiri, bermodalkan perbandingan harga di beberapa website. Permasalahan berikutnya, negara mana? Akhirnya baru pertama kali buka map dunia. Yang Menjadi catatan adalah, libur memang 2 minggu, tapi berapa hari untuk beristirahat setelah trip. Sesudah hitung-hitung, ternyata biayanya lebih murah. Namun ada kendala lainnya, teman-teman yang tadinya diajak akhirnya batal dengan berbagai alasan. Lalu? Ya tetap solo trip.

 

Mulailah booking sana-sini. Biasanya sih kalo di Indonesia, go show aja masih berani. Maksudnya, cari penginapan atau tiket on the spot sih masih berani. Kalau kepepet, pahit-pahitnya nginep di stasiun atau tidur di mushola, atau mandi di toilet umum pom bensin sih masih berani lah. Tapi beda cerita di Eropa, apalagi musim dingin. Salah-salah dikira imigran gelap. Berurusan dengan Polisi bukan bagian dari itinerary.

 

Bandingkan harga hostel di Hostelworld.com dan booking.com. Saya prefer booking.com karena bisa bayar sesudah nanti sampai di tempat. Booking aja dulu. Pilih Hostel yang menyediakan free wifi dan sarapan. Ini wajib dan penting. Selain 2 situs itu, aku juga coba pakai airbnb.com dan Yestudent.com. Yang dua terakhir berakhir gagal. Bahkan sampai di kota yang dituju, respon masih tidak ada. Sesudah liburan berakhir, barulah respon itu ada. Sebelum berangkat, jangan lupa berdoa dulu. Mungkin terdengar remeh, tapi memegang peranan penting. Supaya dimudahkan dan dilindungi selama perjalanan dan sampai ke rumah lagi dengan selamat. Jangan lupa Bawa passport dan id card.

 

Kota pertama, Antwerpen di Belgium. Dari Belanda bisa ambil kereta dari Amsterdam. Tapi kereta itu juga akan lewat Roosendal. Jadi,langgsung ke Roosendal. Perjalanan dari Roosendal ke Antwerpen memakan waktu 45 menit. Dan keretanya enggakga seperti kereta Belanda pada umunya. Lebih jelek. Tapi sama sekali enggak menyangka kereta internasional. Harga Tiket yang tercantum di kartu adalah E10, tapi kita bayar E13. Kereta ini akan berhenti di Antwerp Central Station. Selama 45 menit coba untuk membaca lagi itinerary. Mencoba mengimajinasikannya, siapa tahu ada waktu yang tidak direncanakan dengan baik. Juga supaya ingat semua itinerary.

 

Selama perjalanan, pandangilah struktur bangunan-bangunan di perbatasan itu. Rasanya berbeda. Ukuran rumah mereka terlihat lebih minimalis daripada rumah Belanda pada umumnya dan mereka pakai pagar. Rumah di Belanda jarang banget pakai pagar. Mereka cuma tanam bunga-bunga atau tumbuhan apalah di depan rumahnya. Bukan pagar.

 

Maksudnya, selama perjalanan cobalah menjalin komunikasi dengan orang-orang di sebelahmu. Tanyakan apa saja yang bisa membantu itinerarymu lebih mudah. Misal, tanyakan alamat hostel mu. Siapa tau mereka paham tempat itu, dan bisa kasih kamu short way or easy way to get there. Atau bisa juga tanyakan dimana tempat yang paling harus musti kudu wajib dikunjungi di Antwerpen. Believe me, local knows how to enjoy their city better than google. Tapi, harus berhati-hati juga ya, jangan pernah memberi informasi pribadi kepada orang yang tidak dikenal. Jangan tunjukkan hartamu. Di sinilah peranan doa itu tadi. Supaya Tuhan menunjukkan orang yang benar untuk bertanya. Walaupun mungkin bukan untuk memberi informasi, tapi untuk sekedar bertukar cerita menikmati perjalanan juga baik. Dari pada salah kenalan taunya sama berandalan.

 

45 menit tidak terasa, tiba-tiba terdengar pengumuman kereta sudah sampai di Antwerpen Central tanpa cap di passport. Inilah Belgium. Ini mah bukan stasiun kereta, ini mah istana kerajaan kek di tv. Mungkin kalau kamu orangnya enggak jelalatan, bisa jadi kamu cuma lihat kereta dan kereta doang di depan, kiri, kanan. Tapi coba lihat ke bagian atas, maka kamu akan melihat bahwa ini bukan stasiun biasa. Naiklah ke lantai 2. Di situ kamu akan berasa main film. Itulah spot terbaik foto dengan latar belakang tulisan Antwerpen. Ukiran-ukirannya yang menghibur mata banget. Keluarkan semua senjata fotomu.

Tapi, tetap waspada sama barang-barang bawaan ya jangan lupa diri juga. Perjalanan masih panjang.

Dari stasiun, keluarlah dari pintu arah Steeinplein. Lalu serong kanan karena kalau enggak, pasti nabrak toko seberang jalan. Nah berjalanlah lurus ke depan. Sepanjang jalan akan banyak sekali sepeda parkir, cafe-cafe, dan toko-toko. Santi, ada Mc.D, bisa beli cemilan sambil nikmatin perjalanan. Juga buat merileks kan diri, biar enggak keliatan gerogi. Ingat, jangan pasang muka bengong ya. Pasang muka sok ngerti tapi ramah dan anggap saja kamu udah sering ke Antwerpen.

 

Lalu sampailah di persimpangan pertama jalan besar dan di depannya ada Patung. Ada kursi-kursi warna hijau di sekeliling patung itu. Lanjutkan, perjalanan lurus ke depan dan siaplah tercengang dengan kemegahan bangunan-bangunan Antwerpen yang memukau. Enggak ada bangunan yang normal dan biasa. Semua diukir, patung-patung dan indah.

 

Setelah melewati patung di intersection pertama itu, maka kamu pasti langsung menuju The Meir. Ada banyak papan penunjuk jalan, asal bisa baca, pasti enggak bakal hilang. Awalnya sempat berfikir kalau The Meir adalah nama bangunan. Ternyata bukan The meir adalah nama kawasan shoping. Semacam alun-alun semua ada mulai dari yang mahal sampai ke yang agak mahal.

 

By the way, Belgium itu adalah tentang 5 hal, yaitu berlian, ice cream, cokelat, waffle, dan frits atau kentang goreng. Kentang goreng panjang-panjang yang sering kita sebut French Fries itu originalnya berasal dari Belgium. Entah kenapa yang terkenal malah French ya. Jadi, jangan coba-coba beli french fries disini ya, mereka enggak seneng. Bilang saja frits. Itu ibarat mau beli oleh-oleh di toko souvenir Malaysia tapi ketemunya Wayang. 

 

Biarpun cuaca dingin, belilah Waffle Belgium dengan topping es krim cokelat. Semuanya seharga E 3-an. Cuma buat nyobain saja. Walaupun para orang eropa itu pada ngelihatin karena mereka enggak makan es krim di cuaca hampir nol itu, tapi saya malah pake toping es krim. Setelah jalan lurus sekitar 15 menit sampailah di sebuah pertigaan. Sebelah kanan itu ga terlalu ramai. Pilihlah sebelah kiri. Yang paling banyak orangnya atau perhatikan papan penunjuk jalan. Tidak jauh dari situ, ada Hotel Hilton di sebelah kiri ambil jalan kanan atau tepat di depan Hilton, maka kamu pasti langsung melihat Groenplaats. Itu patung ijo atau Groen yang artinya hijau. Dipakai buat wahana ice skate mengelilingi si patung. 

 

Dari Groenplaats, ambil jalan kiri lihat ke atas, lihat banguan gereja paling tinggi. Jalan sedikit, maka di sebelah kanan kamu akan berdiri tinggi menjulang ke angkasa bangunan The Cathedral of Our Lady. Atau dalam papan penunjuk mereka akan tulis Onze-Lieve-Vrouwekathedraal. Bangunan ini salah satu dalam daftar Unesco World Heritage Sites. Tingginya 123 meter. Di depan Gereja ada another papan penunjuk. Terserah mau kemana, juga petanya. Tapi pilih lurus ke depan gereja. Oh iya, pas di halaman gereja ada patung baby sleep with his dog. Enggak tau apa ini ada hubungannya dengan cerita Nello and Patrasche. Soalnya posisinya beda.

 

Lurus dari gereja akan banyak warung-warung makan segala jenis makanan. Dan yang paling banyak beredar adalah kebab. Harganya sekitar E 4-5an. Melewati warung-warung itu, maka tibalah di tempat yang menjadi highlight of Antwerpen. The Icon of Antwerpen. Stadhuis dan juga patung Brabo and the Giant Hand. Kalau sudah sampai di kawasan ini, berarti kamu berada di kawasan The GrooteMarkt. Pusat keramaian, buah, dan perhiasan silver. Pusat orang ganti-ganti berfoto walau tak kenal. 

 

Paling ditunggu foto di Brabo and The Giant Hand. Si Brabo ini ada legendanya loh. Dulu, Sungai Schelde yang juga ada di sekitar GrooteMarkt itu di kuasai oleh raksasa bernama Druoon Antigon. Setiap kali ada nelayan yang datang ke sungai itu selalu dipalak. Kalau enggak ngasih tangannya dipotong terus dilempar ke Sungai Schelde. Nah, lalu adalah seorang prajurit bernama Brabo yang berhasil mengalahkan si raksasa. Brabo potong tangannya si Druoon dan dilemparkan jauh-jauh. Itulah awal nama Antwerpen, artinya hand atau tangan, werpen berarti membuang. Yang sekarang jauh lebih terkenal dengan nama Antwerpen. Nah tangan si raksasa yang dilempar itu bisa kamu lihat di sepanjang Jalan Meir. Ada patung tangan besar di situ. Kalau kamu jalan dari station, patung tangannya ada di sebelah kanan. Kadang-kadang suka ketutup sama orang-orang yang mau potoan.

 

Selesai dari Brabo, perhatikan tanda penunjuk jalan. Pilih ke Schelde River. Kalo posisi kamu tepat, kamu akan lihat ada bianglala di salah satu sudut kota itu, nah ikutin aja bianglala itu. Karena bianglalanya terletak tepat di sebelah Sungai Schelde. Hati-hati kalau menyeberang, selalu tunggu lampu tanda pejalan kaki warna hijau. Atau bakalan di cipok sama mobil. 

 

Setelah puas berkeliling, saya memutuskan untuk mencari hostel yang sudah di-book sebelumnya. Berhubung sudah waktunya untuk check in juga. Bagaimana caranya? Sebenernya alamat dan penunjuk jalan sudah diberikan dengan jelas melalui aplikasi booking.com. Pukul 16.40 sampailah di hostel. Letaknya sangat asik enggak terlalu rame, tidur enak, sarapannya cukup buah, roti, free coffee and tea, dapur luas, ruang makan luas, ruang ngobrol juga luas, kamar bersih, lemari di kamar walaupun tanpa kunci, kamar mandi cukup, toilet bersih, walau suasana backpackernya di sini kurang berasa. Enggak banyak orang ngobrol, apa karena terlalu luas kali ruang makan. Untuk ukuran hostel ini enak. Waktu baca reviewnya, ada beberapa review yang negatif, tapi mungkin lagi apes aja. Itu juga pentingnya doa biar enggak apes.

 

Pesan kamar campur kapasitas 8 orang, yang hasilnya malah perempuan sendiri. Tapi asiknya justru mereka membantu mengkaji ulang itinerary dan memberi masukan ini itu soal tempat yang harus dikunjungi. Lalu bertukar kenang-kenangan. Apakah itu? Koin mata uang negara asal atau sekadar bertukar email, facebook, nomer whatsapp. Yang paling enak adalah dapat tawaran kalau kamu berkunjung kotaku, kamu saling memberi tahu, tempat tinggal dan makan enggak perlu dipikirkan.

 

Dari malam itu menghasilkan juga seorang mahasiswa double degree yang bersedia berkeliling menghabiskan pagi sebelum berangkat ke Paris. Soalnya dia tau terminal bus yang akan dikunjungi dan kita sepakat mau cari makanan tradisional. Toko-toko makanan belum ada yang buka di pagi hari. Kita ada sedikit foto-foto di Ruben Thuis, World War I & II Monument, terus foto-foto narsis yang enggak tau nama bangunannya. Lalu kita berhenti buat nyobain Frits yang dilayani oleh pelayan yang ngotot ngomong bahasa local. Tapi karena dia punya buku menu dan harganya, tinggal tunjuk aja deh, terserah ngomong apa. Beli porsi paket. Sepaket berdua. Dan bayar setengah-setengah. Sharecost ceritanya. 

 

Selesai makan, dia anterin saya ke tempat mangkal flixbus. Tepatnya di Astrid Koningin. Jadi patokannya dari Centraal station, langsung pilih exit di main gate, atau kalau dari pintu yang kemarin langsung ke kanan. Di depan main gate, ada Zoo dan taman bunderan. Nah Flixbus dan bus-bus lain akan mangkal di sana. Kalau punya waktu banyak buat nunggu, bolehlah singgah sebentar ke China Townnya. Hanya lurus dari taman bunderan itu. Dan siap melanjutkan perjalanan ke kota berikutnya. Jangan lupa siapkan Passport dan ID. Karena walaupun perjalanan menggunakan bus, tapi mereka tetap akan cek dokumen kita. Flixbus dilengkapi dengan Charger dan free Wifi. 

 

Bersambung ke kota dan cerita berikutnya ya!

BERITA TERKAIT
BACA JUGA