Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 20 Feb 2017 14:13 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Jalur Kereta Unik yang 'Membelah' Kota Solo

Robert Adolf Izak
detikTravel Community
Foto 1 dari 5
Warga menyaksikan kereta api melintas Jalan Slamet Riyadi
Warga menyaksikan kereta api melintas Jalan Slamet Riyadi
detikTravel Community - Liburan ke Solo, traveler jangan kaget bila melihat kereta api melintas persis di tengah kota. Ada jalur kereta yang masih aktif digunakan hingga kini.

Salah satu daya tarik yang membuat penasaran jika ke Solo adalah keberadaan jalur kereta api. Biasanya lintasan kereta letaknya jauh dari keramaian. Di sini berbeda sekali. Jalur melintas justru berada di jalan Slamet Riyadi, yang notabene adalah jalan utama di kota Solo.

Bukan sekedar pajangan belaka peninggalan jaman Belanda dulu. Sampai sekarang, jalur ini masih aktif dilalui kereta di jam-jam tertentu. Saat melintas berjalan pelan berdampingan mobil, motor, bis, aktivitas warga. Sangat unik. Inilah salah satu keunikan yang barangkali di Indonesia, cuma ada di kota Solo.

Informasinya jalur kereta ini sudah dibangun sejak tahun 1922. Setelah di makan usia, agar pemanfaatnya lebih optimal kurun waktu antara 2009-2010 dilakukan peremajaan bantalan dan rel kereta. Setelah selesai pemanfaatan, jalur ini masih seperti awal dibangun, yaitu menghubungkan Stasiun Purwosari bagian barat Kota Surakarta hingga Kota Wonogiri

Setelah menggunakan rel yang baru dari beton, bisa dilewati kereta dengan teknologi terbaru, seiring perkembangan zaman. Jalur ini pun masih aktif melayani penumpang, meski secara ekonomis kurang menguntungkan.

Meski sekarang sudah banyak angkutan umum trayek Solo Wonogiri, tidak sedikit warga khususnya yang sering bepergian Solo ke Wonogiri memanfaatkan kereta ini. Salah satu alasan karena tiketnya lebih murah dan aman.

Melintas jalan raya berdampingan dengan kendaraan lain bukan berarti tanpa risiko. Apalagi sama sekali tidak ada pembatas aman yang memisahkan antara kereta saat meiintas dengan kendaraan lain. Sempat menjadi keluhan setelah terjadi beberapa kali kecelakaan. Bahkan informasinya pernah ada usulan agar ditutup saja jalur ini. Tetapi setelah dievaluasi, kecelakaan yang terjadi lebih di sebabkan kelalaian pengendara non kereta tadi.

Kereta yang melintas sudah di atur kecepetannya sekitar 30 km/jam. Tidak boleh lebih. Berjalan stabil, disertai klakson berkali-kali, harusnya pengendara mobil, motor, sepeda, orang berjalan, sudah paham keberadaan kereta yang sedang melintas. Tidak berjalan berdekatan atau bahkan sengaja memotong jalur kereta. Jika kehati-hatian dipatuhi, pasti akan terhindar dari kecelakaan.

Dari sisi pariwisata tentu saja menambah daya tarik dan pesona kota Solo. Bahkan sempat ada kereta wisata berbahan uap khusus melayani turis. Namanya Kereta Api Uap Jaladara. Nama lainnya Sepur Kluthuk Jaladara. Melayani rute pendek Stasiun Purwosari hingga Stasiun Solo Kota.

Sebagai kereta wisata, meski rutenya pendek KU Jaladara berhenti di beberapa tempat wisata. Penumpang bisa turun di Diamon Convention Centre, Solo Grand Mall, House of Danar Hadi, Museum Radya Pustaka Sriwedari. Mirip angkutan bis atau mobil wisata yang kita carter untuk berhenti di beberapa tempat. Sayang kereta wisata ini tidaklah aktif.

Menunggu Waktu

Keunikan ini menjadi daya tarik untuk melengkapi koleksi foto khususnya di Kota Solo. Untuk foto kereta yang melintas harus memperhatikan jam berapa melintas. Saya sempat bertanya kepada beberapa sumber perkiraan kereta lewat. Selain itu posisi yang tepat untuk pengambilan gambar.

Mendapat informasi kereta melintas jalan Slamet Riyadi antara pukul 06.00 sampai 06.30. Saat itu kereta melintas dari Stasiun Purwosari menuju Wonogiri. Arah balik dari Wonogori ke Stasiun Purwosari di perkirakan antara pukul 10 sampai 11 siang. Berarti hanya ada 2 pilihan pagi dan siang. Maunya bisa mengambil gambar di 2 waktu tersebut. Karena pertimbangkan akan jalan-jalan ke tempat lain akhirnya memutuskan memilih pagi hari.

Karena hari Minggu dan sepanjang jalan Slamet Riyadi berlaku Car Free Day (CFD) mulai pukul 06.00-09.00, berarti tidak bisa mengambil gambar kereta yang berjalan berdampingan dengan mobil. Tidak perlu kecewa. Pasti ada momen lain. Saat kereta melintas, di sekelilingnya ramai dengan aktivitas warga memanfaatkan CFD, sudah di ada di benak diri.

Mengorbankan jam tidur, jam 5 pagi sudah beranjak dari hotel menuju tempat ideal melakukan pemotretan. Sebelum pukul 6 pagi kami sudah menunggu di ujung jalan berdekatan dengan Patung Slamet Riyadi. Pagi itu sudah ramai dengan warga. Sambil menunggu kereta, kesempatan motret suasana CFD. Dalam hati malu juga. Di kota asal, Jakarta, malah belum pernah menikmati CFD. Malah sekarang nikmati di Kota Solo.

Sekitar pukul 06.15 dari kejauhan tampak lampu sorot. Rupanya itu keretanya. Semakin mendekat, petugas keamanan dari pemda kota Solo sudah ancang-ancang mengingatkan warga agar menyingkir, menjauh dari lintasan kereta. Rasanya tanpa diingatkan warga sudah paham. Hanya saja agar pengamanan lebih optimal dan terhindar insiden yang tidak perlu, tindakan mencegah dari petugas keamanan tadi tetap dirasa perlu.

Semakin dekat, kamera siap, ancang-ancang memilih posisi yang ideal agar mendapat gambar menarik sesuai harapan. Jika saya tinggal di Kota Solo bisa kapan saja datang, dan memotret kejadian ini. Berhubung cuma pendatang yang tidak bisa sering-sering ke Kota Solo, harus berusaha jangan ketinggalan momen bagus ini.

Benar saja. Meski kereta melintas lambat, rasanya berlalu cepat. Kesempatan yang cuma beberapa menit saja segera saya manfaatkan untuk memencet tombol shutter kamera sebanyak mungkin.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED