Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 10 Mei 2017 15:58 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Jungkir Balik di Upside Down World Jogja

Brigida Emi Lilia
detikTravel Community
Foto 1 dari 5
Kondisii asli sebelum berfoto
Kondisii asli sebelum berfoto
detikTravel Community - Kalau mau foto seru-seruan, tak ada salahnya traveler mampir ke Upside Down World Jogja. Di sini kamu bisa foto sampai jungkir balik.

Beralamat di ring road utara 18. Maguwoharjo , Depok , Sleman, wahana ini beroperasi sejak pertengahan 2016. Bangunan 2 lantai ini menawarkan 14 spot yang bisa kita jadikan tempat berfoto. 4 spot terletak di lantai 1 dan sisanya ada di lantai 2.

Wahana ini mulai buka pada pukul 10 pagi dan tutup pada pukul 19.00 malam. Dengan tiket masuk sebesar Rp 80.000 rupiah untuk dewasa serta Rp 40.000 untuk anak-anak, kita dapat berfoto di semua sudut.

Konsep tempat ini adalah sebuah rumah lengkap dengan beberapa ruangan yang semuanya dalam posisi terbalik. Seperti di ruang tamu ,sofa ,meja semua tergantung di langit-langit. Begitu juga di ruang tidur ,kamar mandi, dapur dan lain-lain. Namun pengunjung tidak perlu khawatir, karena karena semua dipastikan dalam keadaan aman.

Saat berfoto ada baiknya minta arahan atau bahkan minta tolong mbak dan mas guest assistance untuk mengambil foto. Karena dengan begitu kita akan mendapatkan foto yang pas dan unik. Petugas guest assistance pun akan dengan senang hati membantu, free lho!!

Wahana serupa juga kita bisa temukan di Bali dan Bandung. Di Solo pun akan segera menyusul. Jadi tunggu apalagi, ayo kita ke Upside Down World dan rasakan sensasi berfoto jungkir balik.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
Load Komentar ...
NEWS FEED

Foto: Jalan Menuju Kematian

Rabu, 23 Agu 2017 22:50 WIB

Sebuah jalan di Inggris dianggap begitu berbahaya karena telah menelan banyak korban jiwa. Inilah Broomway, julukannya jalan menuju kematian.

Foto: Desa dari Botol Plastik

Rabu, 23 Agu 2017 20:10 WIB

Desa ini sangat unik. Bangunan di desa ini bukan dari kayu maupun beton, tetapi dibangun dari ribuan sampah botol plastik. Seperti apa ya?