Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 16 Jul 2017 17:57 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Tentram dan Damai di Kampung Adat Prai Ijing Sumba

I Gede Leo Agustina
detikTravel Community
Foto 1 dari 5
Kampung adat Prai Ijijng, Waikabubak, Sumba Barat
Kampung adat Prai Ijijng, Waikabubak, Sumba Barat
detikTravel Community - Sumba memiliki banyak kampung adat, salah satunya Pai Ijing. Kampung ini masih sangat tradisional. Ketenangan dan ketentraman menjadi bagian dari Prai Ijing.

Perjalanan saya mulai dari resor Nihiwatu. Mengendarai sepeda motor, saya melaju menuju kota Waikabubak. Bermodalkan informasi dari teman di resor, kalau menuju Waikabubak kurang lebih 40 menit, ikuti saja jalan bagus.

Motor saya laju sambil melihat-lihat papan petunjuk jalan, tapi sayangnya tidak ada. Saya ikuti jalan bagus saja, akhirnya kurang lebih satu jam saya sampai di kota Waikabubak.

Tujuan saya kali ini adalah menuju kampung adat Prai Ijing, pokoknya saya harus sampai sana karena melihat postingan dari teman saya di sosial media jadi rasanya sudah terbius ingin sampai di kampung itu hehhee.

Begitu sampai di kota Waikabubak, saya tidak tau lagi menuju kemana. Sayapun berhenti dan bertanya ke salah seorang siswi SMA.

"Dek kalau mau ke masjid al-azar ke arah mana ya?"

"Lurus saja kak, nanti kelihatan kok di sebelah kiri jalan," jawab adik tersebut.

"Oh, oke terima kasih adik," ucap saya.

Saya pun melaju lurus dan akhirnya sampai di depan masjid, dari sini saya bertanya lagi ke salah seorang bapak penjual bensin sekalian mengisi bensin. Si bapak mengarahkan, untuk tetap lurus saja, kemudian belok kiri dan berbelok ke kanan. Kemudian tetap lurus dan naik.

Megikuti arahan si bapak, saya pun sampai di dekat stadion olahraga Waikabubak. Dari pada bingung saya berhenti di depan ibu pedagang Sirih-Pinang, saya kembali bertanya ke si Ibu.

"Mama, kalau mau ke kampung Prai Ijing arahnya kemana?"

Si Ibu lalu menjawab untuk tetap lurus dan bertanya kembali setelah sampai di atas. Sebelum pergi saya pun membeli sejumput sirih-pinang untuk dibawa ke kampung.

Karena saya ingat saran dari teman di resor, orang kampung sana suka makan sirih-pinang. Jadi bawakan saja biar lebih akrab. Harga sirih-pinang ini Rp 10.000. Saya beli satu jumput dan si mama menambahkan kapur sirih nya sebagai bonus dan berpesan untuk berhati-hati di sana.

"Pokoknya hati-hati saja, di sana suka mintain uang," kata si mama.

Melanjutkan perjalanan, tekat sudah bulat pokoknya harus sampai di kampung prai ijing ini. Karena sudah cukup jauh melaju, saya mulai bingung kenapa belum ada tanda-tanda mau sampai.

Akhirnya saya meminggirkan motor dan bertanya lagi, kali ini saya bertanya sama anak-anak SMP yg lagi duduk di pinggir jalan. Menurut mereka, saya sudah melewati kampung. Jadi saya harus berputar arah.

Setelah beberapa menit, akhirnya saya sampai di gerbang masuk kampung Prai Ijing. Di sebelah kiri jalan ada sebatang pohon beringin yg sangat besar. Ada pula semacam plang berisi denah lokasi kampung. Saya langsung masuk dan mencari tempat parkir.

Saya langsung menuju rumah-rumah warga. Beberapa saat, saya di datangi seorang bapak. Si bapak menunjukkan rumahnya yang pertama. Kemudian, ia meminta uang untuk membeli rokok. Namun saya mengatakan bahwa saya tak punya uang, hanya ada sirih. Bapak tersebut setuju untuk mengambil sirih yang saya tawarkan

Sebagai informasi, rumah yg saya kunjungi pertama ini bagian atas desa yg ada kurang lebih tujuh rumah. Di bagian bawah ada belasan rumah.

Beberapa saat kemudian, datang serombongan murid-murid SMP yg katanya mau keliling desa juga. Mereka sedang mengadakan class meeting setelah UTS.

Saya di ajak keliling desa bagian atas, lalu menuju goa yg ada sumber air. Di goa ini biasanya penduduk kampung mengambil air untuk keperluan rumah tangga.

Uniknya sumber air yg di maksud adalah tetesan-tetesan air dari langit-langit goa, bukan mata air seperti kolam. Di dalam goa sudah banyak terdapat ember dan panci untuk menadahi tetesan air.

Wah, kalau begini sih lama penuhnya, pikirku. Saya sempat mengambil air dan meminumnya, ternyata airnya jernih dan sangat segar. Setelah selesai di goa, kami kembali naik menuju kampung, tak lupa foto-foto bersama. Kemudian mereka kembali ke sekolahnya.

Tak lama setelah adek-adek SMP pergi, datang juga siswa-siswa SMA yg juga sedang class meeting dan mau keliling desa. Sekarang saya keliling kampung bagian bawah.

Untuk keliling kampung bagian bawah, kita harus mengisi buku tamu dan memberikan uang untuk pengelolaan desa, tidak dipatok harganya berapa rupiah per orang, kata pengelolanya seikhlasnya saja.

Setelah mengisi buku tamu, saya mulai keliling ditemani adik-adik SMA. Saya melihat-lihat aktifitas warga kampung.

Ada ibu-ibu yg sedang menenun, menganyam daun pandan untuk dibuat kerajinan. Ada nenek-nenek yang sedang asik menumbuk sirih-pinang untuk di makan. Karena tidak punya gigi, si nenek ini menggunakan semacam alat dari kayu lalu menumbuk sirih-pinang hingga halus kemudian dimakan.

Anak-anak kecil yg berlarian sambil bermain ban bekas. Suasana khas perkampungan ini masih bisa kita lihat di sini. Seru, seru banget!

Melihat design dari rumah adat sumba yang begitu khas, mencerminkan inilah Sumba sesungguhnya. Rumah dengan atap menjulang tinggi berbentuk prisma dengan atap dari alang-alang kering. Arsitekturnya juga khas, rumah Sumba terdiri dari beberapa tingkat, bagian bawah biasanya dijadikan kandang ternak seperti babi, ayam, dll.

Bagian tengah tempat tinggal serta kegiatan sehari-hari seperti memasak, tidur dll. Sedangkan bagian atas tempat menyimpan bahan makanan seperti padi, jagung dll.

Ornamen yang biasa kita lihat di setiap rumah adanya tengkorak-tengkorak kerbau yang berjejer menghiasi rumah. Setelah selesai berkeliling dan bercengkrama secara langsung dengan warga lokal saya lalu melanjutkan destinasi lain.

Untuk yg ingin mengeksplore Indonesia khususnya Sumba, jangan lupa mampir di Kampung Adat Prai Ijing ya. Selain viewnya yang keren, kita juga bisa banyak belajar tentang kearifan lokal Indonesia. Masyarakat desa ini sangat ramah juga terhadap turis.

Sebagai informasi, di Sumba sendiri terdapat banyak kampung adat seperti ini, kalian bisa berkunjung kesana dengan catatan harus sopan dan bisa menghargai kebudayaan lokal setempat. Selamat datang di Sumba ya sahabat traveler.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
Load Komentar ...
NEWS FEED