Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 16 Apr 2018 11:30 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Mengikuti Perburuan Ikan Secara Tradisional di Laut Maluku

Suryaniamin
d'travelers
Foto 1 dari 5
Air laut jernih menampakkan dasar yang dangkal
Air laut jernih menampakkan dasar yang dangkal
detikTravel Community -

Beruntung sekali kami diajak ikut perburuan ikan malam itu. Dalam istilah lokal di sebut Molo (bow fishing).


Teknik tangkap ikan secara tradisional ini hanya bermodal tombak kecil berpelontar. Selebihnya mengandalkan keahlian melakukan manuver menyelam bebas dengan satu tarikan nafas.


Cara perburuan ini masih terus dipraktekkan turun temurun di wilayah Kepualuan Lease di Maluku. Biasanya hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tanpa perlu melakukan eksploitasi berlebihan. Ramah lingkungan jelas. Sebab hanya menyasar ikan dan jenis lain yang cukup usia untuk dikonsumsi.


Tubuh Bung Meike melesat cepat kedalam lau. Kedua tangannya mengarahkan tongkat logam berukuran panjang sekitar satu meter. Ujung tongkat dibuat tajam serupa anak panah. Di sisi satu lagi, lembaran karet tipis diikatkan. Fungsinya sebagai pelontar tombak.


Target sudah di depan mata. Beberapa detik berselang, Meike muncul mendekat ke arah kapal kecil yang kami tumpangi. Kami serentak bersorak. Betapa tidak, ia menyodorkan seekor lobster berukuran besar.


Bung Yosep, dengan sigap melepas lobster dari tombak untuk digunakan kembali. Di tangan berpengalaman, semuanya nampak mudah. Buat kami, ini pengalaman baru yang menakjubkan di Negeri Ameth. Molo biasanya dilakukan malam hari. Sebagai orang lokal yang hidup dan besar di pulau, mereka memiliki kemampuan membaca tanda alam.


Perburuan ideal dilakukan sebelum posisi bulan persis tegak diatas kepala. Bersama 3 teman dan 5 penduduk lokal Negeri (Desa) Ameth, Nusa Laut di Maluku Tengah, kami beruntung turut dalam perburuan malam ini. Bergantian , setelah Bung Meike, Bung Yosep, Bung Andre dan satu lagi pemanah yang kami panggil Bapa Guru menyerahkan hasil tangkapan. Semuanya ikan berukuran besar.


Cahaya senter sangat terbatas, tapi terlihat cukup buat pemanah. Beberapa ikan mampir seperti menggoda di depan masker yang saya pakai. Dengan sedikit berhati-hati, saya mengarahkan kamera kecil mengikuti posisi pemanah.


Pencahayaan terbatas dan gerak cepat pemanah menjadikan hasil jepretan blur dan cuma menyisakan larik cahaya dalam gelap. Sukar untuk merekam gambardengan modal teknologi terbatas. Tanpa alat bantu pernafasan pula. Ah sudahlah pikir saya. Ini akan jadi malam yang yang patut dikenang.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED