Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 21 Mar 2018 15:30 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Dibuat Jatuh Cinta Sumba Barat Daya

Muslihudin el Hasanudin
detikTravel Community
Foto 1 dari 5
Keindahan Tanjung Radar, jauh di bawah sana terlihat Pantai Bawana (dok pribadi)
Keindahan Tanjung Radar, jauh di bawah sana terlihat Pantai Bawana (dok pribadi)
detikTravel Community -

Menjelajahi Sumba Barat Daya tidak hanya memanjakan mata traveler akan indahnya panorama Timur Indonesia. Namun, bersiaplah juga untuk terpesona.

Akhir Desember 2017 saya bersama Pendiri dan tim Jelajah Nusantara Sekolah Nasima mengunjungi pulau-pulau di Nusa Tenggara Timur (NTT). Mulai dari Sumba, Timor, Rote, Ende, sampai Gugus Kepulauan di Pulau Komodo dan sekitarnya. 

Selama dua belas hari kami menjelajah dari satu pulau ke pulau yang lain. Sungguh perjalanan panjang dan menguras energi. Namun semuanya terbayar begitu melihat kecantikan panorama bumi pertiwi yang terpapar di mata. Sepanjang perjalanan hanya keindahan dan keindahan yang tampak di depan mata. 

Bagi Anda yang ingin menikmati murninya alam dengan pantai berombak dan berpasir putih, datanglah ke Sumba Barat Daya. Semua keindahan itu akan Anda dapatkan di sana. Lengkap dan dapat nikmati sepuas-puasnya, dengan bonus senyum ramah penduduknya.

Tiga hari saya dan Tim Jelaha Nusantara Sekolah Nasima berada di daerah yang terkenal dengan Festival Pasola itu, rasanya belum cukup menikmati semuanya. Adi, seorang kawan yang mengatar saya mengatakan paling tidak butuh waktu seminggu untuk menjamah seluruh keindahan Tambolaka dan sekitarnya.

Kabupaten Sumba Barat Daya berdiri pada tahun 2006 dan merupakan pemekaran dari Kabupaten Sumba Barat. Kabupaten yang memiliki 12 kecamatan dan 95 desa tersebut memiliki penduduk 287.666 jiwa (2010).

Infrastruktur di Sumba Barat Daya terbilang memadai. Bandara Tambolaka misalnya, sekarang terlihat makin keren dan modern. Dengan desain modern namun tetap mengusung kearifan lokal membuat Bandara Tambolaka terlihat cantik dan anggun.

Interiornya juga mewah. Ruang tunggu penumpang juga sudah dilengkap dengan pendingin udara. Semuanya bersih dan rapi, tidak seperti bandara kelas tiga kebanyakan.

Jalan-jalan antar kecamatan yang saya lalui juga sudah lebar dan kondisinya cukup baik. Namun jalan menuju ke lokasi wisata sebagian masih terbilang sempit dan ada beberapa ruas yang rusak. 

Jaringan listrik untuk wilayah kota kecamatan juga tampaknya sudah tersedia, namun di pelosok-pelosok desa listrik masih dalam proses pendistribusian jaringan. Walaupun lsitrik kabel belum menjangkau semua wilayah, masih terbantu dengan adanya solar cell atau listrik tenaga surya.

Banyak tempat wisata di Sumba Barat daya yang bisa dikunjungi, seperti Bukit Lendonggara, Pantai Mananga Aba, Pantai Watu Malandong, Danau Wee Kuri, Air Terjun Pabeti Lakera, Pantai Pero, Situs Gua Rambe Manu, Pantai Oro, Pantai Mandorak, Pantai Ratenggaro, Kampung Ratenggaro, Kampung Wee Lewo, dan masih banyak lagi. Saya hanya sempat menikmati beberapa di antaranya.

Bukit Lendonggara sejatinya adalah gugusan bukit yang tebentang luas dan letaknya tidak jauh dari Kota Tambolaka. Kita harus menembus rimbunnya perdu dan jalan berkelok untuk sampai ke puncak bukit.

Beruntung kami datang di Bulan Desember. Hujan sepertinya baru saja turun, rerumputan tumbuh subur hijau bak permadani. Sangat indah dan memanjakan mata.

Dari atas bukit Kota Tambolaka samar-samar terlihat jauh di hadapan. Sekumpulan kuda terlihat asyik merumput, menambah lengkap harmoninya alam.

Pantai Mananga Aba. Pantai ini paling mudah dijangkau dari pusat kota Tambolaka. Pantai ini terletak di Desa Karuni, Kecamatan Loura. Bisa ditempuh sekira 20 menit perjalanan darat.

Menariknya, sepanjang jalan menuju Pantai Mananga Aba kita bisa melihat aktivitas penduduk lokal yang kebanyakan berprofesi sebagai pekebun dan peternak.

Sepanjang jalan sunyi itu, kita bisa melihat rumah-rumah penduduk yang masih asli: berdinding kayu dan beratap rumbia. Ternak-ternak berkeliaran di sepanjang jalan-termasuk babi-babi piaraan.

Nyaman, damai, dan menenangkan. Itu kesan yang saya rasakan begitu menginjakkan kaki di pantai ini. Letaknya yang jauh dari hiruk pikuk kota, membuat siapa saja sangat betah di sini. Sepanjang mata memandang hanya terlihat hamparan pasir putih dan biru jernihnya laut.

Jika mau bersantai lebih lama, Anda bisa bermalam di hotel Mario. Hotel ini persis di area pantai Mananga Aba. Tentu Anda harus merogoh kocek cukup dalam untuk menikmati fasilitas di dalamnya.

Untuk dinner atau breakfast saja tarif per personnya bisa 200-250K. Maklum, pelanggannya kebanyakan bule-bule.

Pantai ini terletak di Desa Panenggo Ede, Kecamatan Kodi Balaghar, sekira 57 kilometer dari pusat kota Tambolaka. Akses jalan ke wilayah ini cukup baik, walaupun terbilang sempit sekelas akses tempat wisata.

Apalagi melintasi jalan mendekati lokasi pantai, Anda harus berhati-hati. Pasalnya jalannya banyak berlubang, kiri kanan jalan juga banyak tumbuh tananam keras dengan ranting cukup lebat, kalau tidak waspada body mobil Anda bisa jadi korbannya.

Menariknya, pantai ini masih sangat alami. Tebing-tebing batu karang tinggi menjulang menghiasi di pinggir pantai ini. Cocok bagi Anda yang suka olahraga panjat tebing.

Ombaknya juga tak begitu besar, pas bagi Anda yang punya hobi berenang. Suasananya juga sangat sunyi, hanya deburan ombak yang terdengar berirama membelah hari. Cocok bagi Anda untuk bermeditasi mencari inspirasi.

Setelah menikmati hijaunya Bukit Lendonggara, eksotiknya Pantai Mananga Aba, dan sunyinya Pantai Watu Malandong, kami bergegas menuju Pantai Tanjung Radar atau biasa disebut Tanjung Maria.

Letaknya tidak jauh dari Pantai Watu Malandong, hanya beberapa menit saja berkendara. Anda harus hati-hati menuju spot ini karena jalannya belum beraspal dan sangat licin di musim hujan.

Pantai Tanjung Radar sejatinya termasuk kawasan terbatas, karena wilayah ini berada di bawah kendali TNI AU. Tetapi asal bawa guide lokal amanlah. Kita harus menuruni jalan setapak terlebih dahulu untuk menikmati pemandangan eksotik dari atas tanjung.

Sungguh benar adanya, Tuhan mencipta bumi Indonesia dengan tersenyum. Begitu sampai di ujung tanjung, kita akan disuguhi keindahan alam yang memesona.

Begitu mata menoleh ke kanan nun jauh di sana terlihat Pantai Bawana nan cantik jelita. Tebing-tebing karang kecoklatan berpadu dengan hamparan pasir putih dan birunya air laut. Sungguh indah dipandang mata.

Saat mata menoleh ke kiri, jauh di ujung sana terlihat keindahan Pantai Watu Malandong yang baru saja kami kunjungi. Sejauh mata memandang, hanya keindahan yang terlihat. Rasanya ingin berlama-lama duduk dan tinggal di sini.

Di Sumba Barat Daya banyak kampung adat yang bisa dikunjungi, seperti Kampung Adat Wee Leo, Palua Wara Koba, Rangga Baki, Mehang Mata dan masih banyak lagi. Saya hanya sempat berkunjung ke Kampung Adat Ratenggaro.

Kampung Adat Ratenggaro terletak di Desa Umbu Ngedo, Kecamatan Kodi Bangedo, sekira 40 km barat daya Kota Tambolaka. Normalnya bisa ditempuh sekira 1,5-2 jam perjalanan.

Tak usah khawatir macet, ruas jalan menuju ke sana lebar dan beraspal baik. Jalanan juga sepi, tak banyak lalu lalang kendaraan.

Kampung Adat Ratenggaro sejatinya adalah sekumpulan rumah adat yang didiami oleh para penduduk lokal. Hendrik salah seorang pemuda Kampung Adat Ratenggaro mengatakan nama desa Ratenggaro berasal dari dua kata yakni Rate yang berarti kubur dan kata Goura yang berarti nama suku.

Daerah ini dulunya menurut Hendrik merupakan kuburan suku Goura.Makanya banyak dijumpai kuburan kuno di sepanjang jalan menuju perkampungan. Bahkan Hendrik memiliki keyakinan bahwa Ratenggaro adalah asal muasal orang-orang Sumba.

Untuk lebih meyakinkan hipotesisnya, ia mengajak kami melihat sebuah kuburan di tepi Pantai Ratenggaro. Kuburan tersebut berupa batu besar yang kata Hendrik menyerupai Pulau Sumba.

Kuburan inilah yang disebut Hendrik sebagai kuburan Raja pertama Sumba yang merupakan cikal bakal kerajaan dan orang-orang Sumba berasal.

Uniknya rumah adat di Kampung Ratenggaro dan juga di daerah Sumba lainnya-bentuknya mirip seperti rumah Joglo di Jawa Tengah.

Bedanya, atapnya (uma) lebih tinggi, bisa sampai 15 meter, bergantung status sosialnya. Konon ada yang menyebut asal nenek moyang orang Jawa berasal dari Sumba atau sebaliknya.

Kampung adat ini tidak begitu luas. Hanya ada sekitar sepuluh rumah. Namun di sini Anda justru bisa memuaskan hasrat fotografi.

Banyak spot menarik yang bisa dijadikan objek. Mulai dari arsitektur bangunan rumah, keindahan pantai, juga human interest.

Yang perlu diingat, hati-hati dengan harga. Baik jasa maupun pembelian barang. Lebih baik diselesaikan dulu di muka, daripada ramai di belakang. Seperti kebanyakan tempat wisata baru-belum semua warga sadar wisata.

Destinasi terakhir yang saya kunjungi yakni Danau Weekuri. Danau cantik ini terletak di Desa Kalenarogo, Kecamatan Kodi Utara. Seperti destinasi wisata lain di Sumba Barat Daya, Anda harus menempuhnya dengan kendaraan pribadi, tak angkutan umum, tak ada ojek.

Danau Weekuri sejatinya adalah sebuah laguna di pinggir pantai. Airnya sangat jernih berwarna kebiru-biruan. Saking jernihnya, dasar danau pun terlihat jelas.

Sangat cocok untuk Anda yang hobi berendam dan berenang. Nyaman sekali. Tenang dan mendamaiakan karena jauh dari hiruk pikuk keramaian.

Perjalanan ke Danau Weekuri dan beberapa destinasi wisata di Sumba Barat Daya menumbuhkan rasa keprihatinan bagi saya. Bagaimana tidak, daerah yang begitu kaya akan sumber daya wisata, namun masyarakatnya banyak yang masih hidup di bawah standar.

Rumah-rumah beratap rumbia masih banyak ditemui di sepanjang jalan pelosok desa. Lahan pertanian juga kebanyakan berupa tadah hujan, gersang dan berbatu-batu.

Harus ada langkah nyata dari pemerintah daerah untuk mewujudkan salah satu konsep Nawacita Jokowi yakni membangun Indonesia dari wilayah-wilayah pinggiran.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED