Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 06 Mei 2018 17:23 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Cerita Hari Kartini di Gunung Merbabu

Foto 1 dari 5
Sabana 2, tempat tenda-tenda di dirikan.
Sabana 2, tempat tenda-tenda di dirikan.
detikTravel Community -

Beberapa waktu lalu, Merbabu didatangi oleh beberapa pendaki wanita. Mereka memperingati hari Kartini di gunung yang terletak di Jawa Tengah tersebut.

Gunung Merbabu beberapa hari yang lalu menjadi saksi bisu dari perjuangan Kartini-Kartini muda dalam mendaki dan mengalahkan dirinya sendiri. Dalam sebuah acara bertajuk Pride Of Kartini, mereka mencoba melakukan sesuatu yang berbeda dalam mengenang jasa Ibu Kartini, dengan mengadakan upacara di atas gunung yang mempunyai tinggi 3.142 mdpl.

Sejujurnya, saya belum pernah mendaki dan belum pernah mengenal gunung. Tetapi, dari acara ini, hati saya seperti ada yang memanggil untuk ikut. Mencoba sesuatu yang baru dan juga mengenal teman-teman baru. Apalagi, Gunung Merbabu memang terkenal sebagai Gunung yang ramah bagi para pemula, bagi mereka yang ingin mencoba sensasi mendaki.

Saya pikir hanya anak-anak muda, anak mahasiswa yang mengikuti acara ini. Ternyata, ada tiga sampai lima orang yang umurnya sudah menginjak lebih dari 45 tahun mengikuti acara yang diselenggarakan oleh para mahasiswa yang tergabung dalam komunitas pendaki.

Perjalanan dimulai dari Base Camp yang terletak di daerah Selo, Boyolali. Hanya saja,saat menuju ke base camp, saya dan beberapa pendaki lainnya di tarik pungutan liar yang jumlahnya 5ribu sampai 8ribu rupiah, dan itu tidak hanya sekali saja tetapi,sampai 3 kali, cukup menguras kantong di awal perjalanan.

Setelah melakukan registrasi, kami pun berangkat menuju titik 2.858 mdpl. Titik dimana tenda-tenda sudah berdiri dan menunggu kami. Dengan semangat yang membara para kartini muda dan Kartini tua pun berjalan. Perlahan melintasi jalan setapak yang sedikit menanjak. Disini, ada juga jasa Porter yang bisa digunakan untuk membawa barang bawaan menuju sampai puncak dengan membayar uang kurang lebih 200-300 ribu rupiah, untuk satu orang Porter dan satu kali jalan.

Hutan, kera, jurang, bebatuan yang bertingkat dan akar-akar pohon yang menjalar kesana-kemari menjadi sebuah sajian yang akan selalu ditemui di setiap perjalanan. Awalnya, saya berpikir jika beliau-beliau akan tumbang ditengah jalan. Tetapi, mereka menunjukkan semangat yang luar biasa, melibas setiap jalanan dan setiap rintangan hingga sampai di Pos 3 walau waktu tempuh agak lama.

Dari Pos 3 pemandangan akan terasa menakjubkan, melihat hijaunya Sabana dan pemandangan Gunung Merapi serta lereng-lereng nya, membuat mata ini enggan berkedip. Apalagi angin berhembus lirih dan kabut-kabut tipis Merbabu yang sudah mulai turun, membuat suasana syahdu semakin terasa, seperti berada di sebuah zona nyaman.

Dari pos 3 menuju Sabana 1 dan 2 jalanan mulai menantang dan menyenangkan. Ibu-ibu Kartini pun semakin semangat, menapaki bebatuan yang tinggi menjulang, sesekali berpegangan pada tali yang disediakan. Seringnya mereka menggunakan sebuah tongkat yang memang sangat membantu. Kami pun semakin terpacu, walau kaki-kaki ini rasanya sudah mau copot.

"Ayo, sebentar lagi, itu sudah kelihatan," kata-kata penyemangat yang selalu terdengar oleh panitia agar kami tidak terlalu lama beristirahat yang akan membuat kami semakin lelah.

Sejenak kami beristirahat dan memandang keindahan Gunung Merapi serta pos 3 yang berbentuk seperti kumpulan gunung kecil yang berjajar dengan pemandangan hijau yang menakjubkan dan tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Mahakarya Tuhan yang tidak bisa terbantahkan dan didustakan.

Rasa syukur menyelimuti kami semua, perjuangan yang tidak mudah dengan hujan yang turun, melawan angin yang bertiup dengan kencang dan kabut tebal yang turun, ditambah dengan udara dingin yang menjadi ciri khas dari Gunung yang statusnya masih tertidur lelap ini. Menghadirkan sebuah kenangan tersendiri, melebihi kenangan bersama mantan.

Waktu tempuh yang hampir 7 jam itu memang seperti tak berasa. Rasa lelah berganti menjadi suka yang luar biasa. Apalagi saat melihat kembali ke bawah, betapa hebatnya kami yang mampu menaklukkan berbagi macam rintangan yang ada di depan mata.

Hujan membuyarkan semuanya, tata acara yang sudah di susun sedemikian rupa menjadi batal. Termasuk pula dengan upacara yang juga harus batal. Tetapi, perjuangan mereka patut diapresiasi dengan memberikan door prize sebagai sebuah kenangan, bahwa Kartini-Kartini muda ini siap untuk meneruskan perjuangan Ibu Kartini yang akan selalu menjadi motivasi dan inspirasi bagi seluruh perempuan Indonesia.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED