Harta Karun yang Hilang dari Karangbolong, Kebumen

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Harta Karun yang Hilang dari Karangbolong, Kebumen

Puji Anggia - detikTravel
Rabu, 19 Des 2018 02:00 WIB
loading...
Puji Anggia
Tugu pengunduhan sarang burung walet
Wawancara dengan warga Desa Karangbolong
Sarang burung walet milik Bapak Puryono
Tim bersama Kepala Desa Karangbolong
Penanaman pohon pulai dalam rangka reboisasi hutan
Harta Karun yang Hilang dari Karangbolong, Kebumen
Harta Karun yang Hilang dari Karangbolong, Kebumen
Harta Karun yang Hilang dari Karangbolong, Kebumen
Harta Karun yang Hilang dari Karangbolong, Kebumen
Harta Karun yang Hilang dari Karangbolong, Kebumen
Jakarta - Desa Karangbolong di Kebumen punya harta karun yang hilang. Bukan emas permata, tapi sarang burung walet. Bagaimana ceritanya?Karangbolong adalah desa yang memiliki 'harta karun' di Kabupaten Kebumen sejak tahun 1700. Konon harta karun tersebut mulai ditemukan oleh ulama bernama Kiai Surti di masa Kerajaan Mataram Baru, Kesunanan Kartasura sebagai mandat dari raja untuk mendapatkan harta karun tersebut sebagai obat sang ratu.Tentunya kalian bertanya-tanya, apakah harta karun itu? Harta karun tersebut yaitu sarang burung walet yang berada di tebing Gua Karangbolong.Mengapa sarang burung disebut sebagai harta karun? Berdasarkan hasil wawancara kami, Tim 2 Ekspedisi Gajah Sumatera PMPR dan PG Mahatva kepada civitas Desa Karangbolong, penghasilan daerah dari sarang burung walet pada tahun 1900-1996 dapat mencapai 100 sampai 200 kg sekali panen. Harga perkilonya yaitu mencapai 10 juta rupiah.Belum lagi pengunduhan sarang burung walet ini dilakukan 4 kali dalam setahun yaitu pada musim ke 2, 4, 5 dan 7. Maka pantaslah sarang burung walet ini menjadi suatu hal yang sangat berharga terutama di Kabupaten Kebumen. Pertanyaan berikutnya adalah mengapa harta karun tersebut bisa hilang?Sarang burung walet awal mulanya dikelola oleh pemerintah daerah dimana pegawai yang mengurus manajemen pengunduhan (pemanenan) sarang burung walet semuanya merupakan PNS. Kemudian sejak memasuki periode krisis moneter pada tahun 1998 pengelolaan dialihkan ke koperasi warga Desa Karangbolong.Saat itu kondisi masyarakat kurang terkendali sehingga pada periode yang sama hutan-hutan di sekitar Desa Karangbolong, Desa Pasir dan Desa Karangduwur mulai dijajahi masyarakat. Pengeksploitasian hutan dilakukan besar-besaran pada saat itu, sehingga flora dan fauna di hutan pun terancam keberadaannya, termasuk burung walet. Setelah itu pada tahun 2002 terjadi tsunami yang menghabiskan ribuan sarang dan walet yang ada di dalam gua. Semenjak dari situ populasi dan hasil sarang burung walet menurun drastis, bahkan pada tahun 2012 hingga sekarang pengunduhan sarang burung walet di Desa Karangbolong sudah vakum.Kami, Tim 2 Ekspedisi Gajah Sumatera PMPR & PG Mahatva telah berdiskusi bersama mantan kepala UPTD Karangbolong, Bapak Puryono. Beliau mengatakan bahwa lingkungan merupakan faktor terpenting dalam kelestarian sumber daya alam hayati termasuk burung walet.Ketika ekosistem hutan rusak, maka serangga makanan burung walet (krongo) yang tinggal di dalamnya pun akan mati dan menyebabkan walet kehilangan sumber makanannya. Maka dari itu perlu adanya perhatian dari berbagai pihak termasuk kita semua sebagai generasi muda. Salah satu hal yang dapat kita lakukan untuk konservasi hutan yaitu dengan menanam pohon.
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads