Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 04 Jan 2019 14:10 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Menikmati Kuliner Daging Sei Khas Kupang, Tapi di Bandung

Arief Rachman
d'travelers
Foto 1 dari 3
Sei Iga Sapi
Sei Iga Sapi
detikTravel Community - Mau menikmati kuliner khas Kupang, tidak usah jauh-jauh kok. Bandung adalah tempat wisata kuliner yang komplit. Olahan daging Sei khas Kupang juga ada.

Pernah dengar nama sebuah hidangan bernama Sei tidak? Mungkin awalnya asing. Tapi makanan ini populer sekali di Nusa Tenggara Timur. Jadi, Sei itu sejenis daging asap khas dari Kupang, Nusa Tenggara Timur. Sudah lama saya berkenalan dengan Sei ini. Karena dulu suka dikirim Sei Sapi oleh rekan bapak saya yang tinggal di Kupang.

Sei bisa berasal dari beberapa jenis daging, mulai dari yang paling umum, yaitu daging sapi, daging ikan dan daging babi. Cara masaknya pun cukup unik, Daging dipotong sesuai ukuran, biasanya memanjang. kalau bisa ada bagian lemaknya. Diberi bumbu seperti garam dan merica. Lalu diasap memakai kayu Kosambi. Sewaktu diasap juga ditutup dengan daun Kosambi. Jadi aromanya sungguh berbeda. Sedap sekali. Biasanya kalau dapat kiriman Sei, dimasak dengan cara digoreng , atau ditumis bersama sayur. Tanpa banyak bumbu, karena aroma smokeynya sangatlah sedap.

Nah ternyata ada sebuah restoran di Bandung yang menyajikan hidangan ini. Namanya Sei Lamalera di Jalan Rangin Bandung No 24 A. Sei Sapi Lamalera secara khusus menyediakan hidangan Daging Sei Khas Kupang. Tempatnya berupa tempat makan yang cukup sederhana, tapi cukup kekinianlah, dengan segala ornamen di dinding. Tapi suasana yang ditampilkan cukup cerah. Orang bisa duduk makan di meja makan. Hanya saja tempatnya cukup ramai. Jadi siap-siap menunggu meja kosong.

Membaca menunya, kita akan memiliki banyak pilihan daging Sei. Tapi untuk menyederhanakannya, daging Sei di sana ada beberapa macam, yaitu Sei Sapi, Sei Ayam, Sei Lidah Sapi dan Sei Iga Sapi. Bisa pesan ukuran regular atau yang jumbo. Harganya pun berbeda. Yang membedakannya lagi adalah pilihan sambalnya. Ada Sambal khas Kupang, namanya Sambal Luat, Sambal Matah, Rica-Rica dan Sambal Hijau. Ada juga Sei yang bisa dimasak lada hitam.

Ketika ditanyakan pada pelayannya, yang direkomendasikan adalah Sambal Luat, Rica dan Matah. Akhirnya dipesan Sei Sapi, Sei Ayam, Sei Lidah dan Sei Iga, dengan aneka sambal, eh tapi Sei Lidahnya sayangnya sudah habis. Berarti enak banget rasanya, karena jam makan siang sudah habis. Kalau ada yang nggak bisa makan pedas, bisa minta sambalnya dipisahkan. Jadi tetap bisa menikmati sajian di sini, soalnya rata-rata pedas makanannya.

Selain hidangan Sei, mereka juga menyediakan Sup Brennebon yang terbuat dari Buntut atau Iga Sapi, juga hidangan Balado Teri Pete yang katanya laris juga. Jangan khawatir masakan di sini halal ya d'Travelers.

Satu hal yang agak kurang nyaman adalah servis di sana yang kurang cepat. Butuh waktu lebih dari 30 menitan dari pesan sampai masakan datang. Mungkin karena penuh pengunjung makanya makanannya agak lama? Maklum memang kita datang pas jam sibuk makan siang. Lagi lapar-laparnya. Apalagi tercium bau-bau daging berasap kan, waduh makin lapar deh.

Tapi ketika pesanan datang hati langsung riang gembira. Setiap pesanan Sei langsung dapat sayuran tumis bunga pepaya dan semangkuk kuah. Makannya paling pas dengan nasi putih hangat.

Saya coba Sei Iga dulu, dicocol sambal luat, ditambahkan sayur bunga pepayanya. Aduuuh, pas digigit daging iganya empuk, bercampur dengan tekstur bunga pepaya yang agak kasar, tapi masih ramah dikunyah, dan terjadilah ledakan rasa yang membuat lidah menggelora. Rasa asin dan smokey dari Sei, bercampur dengan rasa pedas asam Sambal Luat dan rempah yang ada dalam sayur bersatu padu dalam lidah. Uenaaak sekali. Sepertinya baru deh merasakan sensasi seperti ini! Enak banget! Sendok demi sendok terus saja diulangi dan sensasi yang sama tetap dirasakan.

Berikutnya coba Sei Ayamnya, dagingnya cukup empuk, tidak keras. Teksturnya rada mirip ayam panggang dipotong kecil-kecil. Tapi yang istimewa ya aroma smokey yang terperangkap dalam dagingnya. Dan dikombinasikan dengan sayur dan sambal luat rasanya tetap juara. Pedasnya paas !

Hidangan berikutnya adalah Sei Sapi Sambal Luat juga. Salah satu keunggulan dari varian ini adalah hadirnya lapisan lemak yang sengaja dibiarkan. Jadi modelnya kayak bacon gitu. Diiris tipis, dihidangkan hangat. Waduuuh, enak banget deh Sei Sapi ini, aroma smokeynya lebih terasa dari Sei lainnya. Jadi pas dimakan bersama sambal dan sayurnya, rasanya makin nendang. Enak, enak, enak!

Kuah kaldunya hadir menyegarkan suasana lidah mungkin kepedasan. Ada rasa seledri dan beberapa bumbu yang susah diidentifikasikan dalam kuah bening ini. Tapi pas rasanya. Tak terasa, tiga hidangan habis ditransfer ke perut. Lidah pun bergembira mendapatkan goyangan rasa yang juara.

Sengaja memang tidak memesan Sei dengan sambal yang lain, karena supaya ada alasan kembali lagi buat makan Sei Lidah yang habis itu. Pastinya saya bakal balik lagi, mungkin agak pagian. Biar tidak kehabisan. Sei Sapi Lamalera buka dari puku 10.00-22.00 WIB.

Saya sangat puas dengan rasa Sei Lamalera. Harga pun cukup terjangkau, dengan rasa yang maksimal seperti ini. Yang harus diperbaiki adalah kecepatan dalam pelayanan sih. Salut pada koki dan pemilik restoran ini yang bisa memperkenalkan dengan sukses hidangan khas Kupang yang mungkin masih asing di lidah urang Bandung.

Bagaimana d'Traveler, siap wisata kuliner di Bandung? Yuk berangkat!
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED