Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 20 Okt 2018 09:53 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Pahawang, Surga di Bumi Lampung

Siti Hasanah
d'travelers
Foto 1 dari 5
Pulau Pahawang Besar
Pulau Pahawang Besar
detikTravel Community - Pulau Pahawang sudah akrab di telinga para penyuka wisata pantai dan bawah laut. Keindahannya sudah terdengar sampai ke banyak tempat sehingga mengundang banyak wisatawan berdatangan.

Mendengar kata Pulau Pahawang, yang terbayang adalah snorkeling karena banyak sekali orang yang mengunggah foto mereka di media sosial. Oleh karena itu, ketika teman saya mengajak mengikuti open trip ke Pulau Pahawang, saya sangat bersemangat untuk ikut. Tujuan saya saat itu hanya satu, yaitu melihat dunia bawah laut dengan mata kepala saya sendiri.

Perjalanan dari Bandung menuju Lampung kami tempuh dengan menggunakan bus Damri. Bus ekonomi ber-AC ini menyediakan selimut, bantal serta makanan dan minuman. Pool bus Damri dari Bandung menuju Lampung letaknya di Kebon Kawung tepat di depan Stasiun Kereta Api Bandung.

Perkiraan waktu tempuh perjalanan meleset karena bus yang kami tumpangi terhalang lajunya oleh kemacetan kekita menuju Jakarta. Alhasil kami barus sampai di Pelabuhan Merak menjelang subuh yang harusnya tiba sekitar pukul satu dini hari. Awalnya saat menaiki kapal laut, kami berencana untuk beristirahat, namun keindahan matahari terbit terlalu sayang untuk dilewatkan. Akhirnya kami asyik berfoto-foto di dek kapal.

Bagi saya ini adalah pengalaman pertama menaiki kapal laut. Seru juga ternyata. Untungnya saat itu bukan musim liburan hari raya dan juga laut dalam keadaan cukup tenang sehingga perjalanan terasa menyenangkan. Rasa kantuk dan lelah hilang seketika saat menyaksikan sang surya muncul dari ufuk timur. Walau sempat terhalang awan, kami masih bisa menikmati sunrise berwarna keemasan dari atas kapal.

Baru saya ketahui bahwa untuk sampai Pulau Pahawang dari pusat kota Lampung memakan waktu perjalanan yang cukup lama. Sesaat setelah sampainya di dermaga, kami disambut oleh kemacetan mobil dan bus yang hendak parkir. Maklum saja, kami berlibur di hari libur nasional yang berdekatan dengan dengan akhir pekan, jadi wajar jika pengunjung hari itu sangat banyak. Walaupun begitu, kami masih beruntung karena teman saya memiliki saudara yang kenal dengan penyelenggara open trip di sini, jadi semuanya sudah diatur dan kami hanya tinggal mengikut arahannya.

Dari dermaga kami dibawa menuju pulau pertama dengan memakai kapal kayu yang dapat memuat sekitar 25 orang. Letak pulau yang akan kami kunjungi itu ternyata lumayan jauh. Untungnya hari itu laut sedang bersahabat sehingga perahu tak terombang-ambing. Alih-alih mual karena naik perahu, yang ada mata malah merasa mengantuk karena dibuai angin semilir dan suara mesin perahu yang terdengar seperti musik.

Akhirnya, setelah sekian lama duduk di perahu, munculah sebuah pulau. Beberapa perahu sudah bertambat terlebih dahulu. Saya langsung tersihir oleh warna birunya laut dan putihnya pasir. Para pelancong sudah sibuk ber-selfie dan wefie. Kami beranjak ke arah belakang pulau dan saya hanya mematung sambil berdecak rasa kagum. Hamparan pasir putih dengan warna laut yang bergradasi dari hijau turquoise ke warna biru langit membuat saya terpukau. "Ya Allah, indah sekali!"

Mungkin mirip dengan pantai-pantai di Lombok yang konon kabarnya seindah di foto-foto yang ada di kalender menurut salah seorang teman. Inikah surga kecil Lampung yang tersembunyi? Ombaknya yang cukup tenang membuat pengunjung bisa bermain di tepi pantai tanpa rasa takut. Mungkin karena belum setenar Lombok, pantai di sini masih sepi turis asing. Justru kelengangan ini membuat pengunjung bisa menikmati pantai dengan nyaman.

Ah, nama pulau yang kami pijak ini adalah Kelagian Lunik. Sejujurnya, saya tak ingin beranjak dari sini. Jikalau boleh, ingin rasanya berkemah di pulau ini agar bisa menikmati sunset dan sunrise yang indah. Namun sayang, jadwal selanjutnya sudah menanti. Kamipun harus segera beranjak menuju perahu untuk kembali berlayar membelah ombak.

Bertemu Dory dan Nemo

Setelah berjalan beberapa saat, perahu berhenti di tengah laut. Ini adalah spot untuk snorkeling pertama yang kami kunjungi. Letaknya di sekitar Pulau Pahawang. Walaupun awalnya sempat kebingungan, setelah dibantu teman memakai alat snorkeling, saya bisa ber-snorkeling dengan nyaman. Ternyata pemandangan bawah air itu tak kalah indahnya dari darat. Seperti dihipnosis, saya tak hentinya berkomat-kamit ketika melihat gerombolan ikan-ikan yang muncul dari balik terumbu karang yang sebagian sudah hancur.

Menurut teman saya, dahulu nelayan di sini sering menggunakan bom ikan untuk menangkap ikan sehingga banyak terumbu karang yang hancur. Sungguh sangat disayangkan. Untungnya sudah ada upaya merehabilitasi terumbu karang agar tumbuh kembali. Di tempat ini, ikan pertama yang membuat saya bersorak kegirangan adalah Dory atau nama aslinya adalah ikan blue tang. Sedikit sedih ketika tak bisa menemukan Nemo, tapi melihat beragam warna dan bentuk ikan yang muncul di film Finding Nemo sudah membuat saya bahagia tiada tara.

Perahu kembali berjalan menuju pulau tujuan selanjutnya, yaitu Pulau Pahawang Besar. Di sini pengunjung beristirahat sambil menikmati hidangan makan siang yang disiapkan penyelenggara open trip. Hal unik yang aku lihat di sini yaitu pasirnya. Pasir di sini memiliki butiran yang lebih besar jika dibandingkan dengan pasir di Pulau Kelagian Lunik. Lebih mirip pecahan karang tepatnya.

Selanjutnya kami kembali dibawa ke tengah laut untuk snorkeling sesi kedua. Letaknya tak jauh dari Pulau Pahawang Besar. Di sinilah aku akhirnya bisa bersua dengan Nemo yang bersembunyi di anemon laut. Gemas sekali melihat Nemo yang memiliki nama asli ikan giru atau ikan badut meliuk-liuk di antara anemon. Ikan lucu itu tak mau jauh dari anemon. Hal yang unik dan lucu di spot snorkeling ke dua ini adalah keberadaan warung di tengah laut. Apakah ada pengunjungnya? Ada, ternyata. Pengunjungnya yaitu orang-orang yang sedang berhenti di tempat snorkeling ini.

Senja di Atas Perahu

Tak terasa, perjalanan kami hampir berakhir. Pulau tujuan terakhir adalah Pulau Kelagian Besar. Di sini pengunjung bisa menyaksikan pasir putih menyerupai jalan yang membelah laut. Ada sebuah rumah di pulau ini. Konon katanya pulau ini pun sudah disewa oleh orang asing tersebut menurut sang penjaga rumah.

Dalam perjalanan pulang, kami disuguhi pemandangan matahari terbenam dengan warna keemasan. Tiupan angin dan goyangan ombak seperti meninabobokan penghuni perahu termasuk saya. Mata sudah tak tahan lagi ingin terpejam dan akhirnya saya pun tertidur untuk sesaat. Para penghuni kapal yang lain pun tampak larut dalam mimpi mereka masing-masing. Agaknya perjalanan hari ini cukup membuat kami kelelahan. Sesaat sebelum kapal bersandar di dermaga, semua penumpang terbangun dari tidur dan kemudian bergegas turun.

Destinasi Selanjutnya

Bagi saya perjalanan ini sangat berkesan dan sungguh saya rindu untuk menjelajahi lagi pantai-pantai di bumi Lampung. Dengar-dengar jika bertandang ke Kiluan, pengunjung bisa berjumpa lumba-lumba dan paus. Sepertinya pantai-pantai di Lampung layak masuk bucket list perjalanan.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED