Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 19 Nov 2018 15:25 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Puncak Emas dan Winter Wonderland di Gunung Emei China

Neny Setiyowati
d'travelers
Foto 1 dari 5
Pesona Gunung Emei di musim dingin laksana winter wonderland. Dimana semua dahan,ranting berwarna putih tertutup salju. Cantik.
Pesona Gunung Emei di musim dingin laksana winter wonderland. Dimana semua dahan,ranting berwarna putih tertutup salju. Cantik.
detikTravel Community - Akhir tahun ini, China akan mengalami musim salju. Rupanya walau bersalju, Gunung Emei di China tetap ramai untuk di daki karena ada puncak emasnya!

Gunung Emei di China menyajikan nuansa yang berbeda di musim dingin. Selain hawanya yang super dingin , pemandangannya pun juga berubah. Dimana semua pepohonan, atap bangunan, jalur pendakian berwarna putih tertutup salju dan es.

Mungkin ini yang disebut winter wonderland seperti di cerita dongeng. Tentunya sangat menarik untuk traveler coba. China merupakan salah satu negara di Asia yang mengalami musim dingin. Biasanya jatuh di bulan Desember sampai Februari seperti kebanyakan negara di Eropa.

Kita yang hidup di wilayah tropis akan sangat senang dengan pesona dingin di bagian lain Asia ini. Syukur-syukur ada salju. Ini juga yang menyeret kaki saya menyusuri negeri panda di musim dingin.

Modal saya untuk mengarungi musim dingin adalah atribut winter seperti jaket tebal,sarung tangan dan kupluk dan tak ketinggalan Tolak Angin. Karena Tolak Angin tidak hanya mengatasi masuk angin tapi juga mampu menjaga hawa di dalam tubuh supaya tetap hangat.

Karena suhu dinginnya bisa mencapai di bawah 0 derajat celcius. Sichuan menjadi provinsi pertama yang saya jejaki di petualangan kali ini. Setelah 4 hari menjelajah ketemu panda, Giant Buddha dan Jiuzhaigou National Park, saya putuskan untuk mendaki Gunung Emei yang katanya memiliki puncak emas, lokasinya sekitar 150 KM dari Chengdu, ibukota Sichuan.

Untuk mencapai kota Emei bisa menggunakan bus atau kereta api dari Chengdu. Kebetulan hostel tempat saya menginap sangat dekat dengan terminal bus, Xinnanmen Bus Station. Jadinya saya pilih naik bus.

Berdurasi 3 jam harga tiket busnya 50 Yuan. Sesampainya di Emeishan Bus Station saya naik angkutan lagi menuju desa Baoguo yang tarifnya 10 Yuan. Di sini saya bertemu dengan 3 cowok Belanda yang keren-keren. Mereka juga akan mendaki Gunung Emei dan mengajak saya untuk naik bersama. Wah gayung bersambut, karena mendaki sendiri kurang seru dan juga untuk kenyamanan sebaiknya tidak sendiri.

Gunung Emei berketinggian 3099 meter merupakan gunung tertinggi dari 4 gunung Buddha sakral di China. Jalur trekkingnya berupa anak tangga yang jarak dari kaki gunung sampai puncaknya adalah 50 KM. Untuk mendaki full perlu setidaknya 2 hari untuk sampai puncak.

Kami tidak ada cukup waktu karena sudah membeli tiket kereta api lanjutan di 2 hari kedepan. Pertimbangan lain adalah mahalnya penginapan di atas gunung, baik itu biara atau hotel. Kami putuskan untuk mendaki setengah saja.

Mendaki setengah dimulai dari Leidongping Bus Station. Untuk mencapainya perlu 2 jam naik bus dari Baoguo Station. Jadwal keberangkatan bus terawal di jam 6 pagi. Setelah makan malam dan membersihkan diri kami bersiap untuk istirahat.

Terlebih dahulu kami minum Tolak Angin supaya bisa tidur nyenyak untuk bisa bangun awal di keesokan harinya. Jam setengah 6 kami sudah berada di Bus Station, harga tiket bus ke Leidongping 50 Yuan untuk satu trip dan 90 Yuan untuk PP.

Tiket masuk ke Gunung Emei 110 Yuan (15 Dec-15 Jan) dan 160 Yuan (16 Jan-14 Dec). Kedua tiket ini harus dibayarkan pada saat membeli tiket bus. Cowok-cowok itu bilang kalau tidurnya nyenyak banget semalam dan pas bangun badan terasa segar dan fit.

Mereka pun minta beberapa Tolak Angin untuk bekal. Dengan senang hati saya kasih, sekalian promosi produk dalam negeri dan bahwa orang Indonesia baik hati. Sebagai gantinya mereka membayari saya tiket bus dan tiket masuk ke Gunung Emei. Wah senangnya sudah dapat teman dapat gratisan pula!

Setibanya di Leidongping pemandangan berubah total tampak semuanya abu-abu dan putih. Tak salah lagi salju dan es menutupi jalanan di Leidongping. Saya menjadi sangat excited untuk segera mendaki. Bagi yang tidak suka mendaki, di sini tersedia juga cable car yang akan membawamu sampai ke puncak.

Sebelum mulai, kami membeli crampon di penjajak setempat karena jalanan anak tangga licin tertutup es. Harga crampon 20 Yuan, kalau beli di Baoguo 5 Yuan saja tapi karena kami tidak ada persiapan ya sudahlah, syukur sudah ada yang jual.

Tapak-tapak anak tangga kami lalui tanpa lelah seperti anak kecil yang terlalu bersemangat bermain di tengah salju. Ini juga pengalaman pertama mereka mendaki di antara salju. Jadi kami semua sangat riang gembira. Tapi kami juga harus extra hati-hati karena licin dan harus berbagi dengan pendaki lain.

Meski winter yang notabene musim sepi, tapi jalur pendakian ramai juga. Sesekali kami berhenti untuk berfoto sambil mengagumi lanskap gunung yang memang terlalu indah. Semua dahan,ranting,daun dan atap rumah tertutup salju. Cantik sekali.

Seperti cerita dongeng winter wonderland. Tapi mungkin di musim lain juga tak kalah indah dimana lanskapnya akan terlihat lebih jelas bersama kumpulan awan,sunrise dan sunset. Kalau sekarang memang tidak begitu tampak karena tertutup kabut.

Gunung Emei dianggap sebagai Bodhima atau tempat pencerahan bagi umat Buddha yang secara teratur dikunjungi oleh para peziarah Buddha dan telah menjadi tujuan wisata terkenal. Di sinilah tempat Kuil Buddha yang dibangun pada abad ke-1.

Total ada 76 Biara Buddha yang dibangun pada masa Dinasti Ming dan Qing yang semuanya berada dekat dengan puncak gunung. Biaranya menunjukkan gaya arsitektur fleksibel menyesuaikan dengan lanskap. Gunung Emei juga dikenal dengan endemik tingkat tinggi, ada sekitar 200 spesies tanaman dari berbagai family.

Karena sangat bersejarah dan berlanskap sangat indah, Gunung Emei telah ditetapkan sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO pada tahun 1996. Setelah menempuh pendakian selama 4 jam sampai juga kami pada puncaknya alias Golden Summit atau Puncak Emas yang fenomenal.

Disebut demikian karena terdapat patung Samantabhadra berukuran besar yang berlapiskan emas dengan kepala unik menghadap ke 10 arah. Tinggi patung 48 meter merupakan patung tertinggi ke-22 di dunia.  Dikatakan bahwa Samantabhadra telah bermeditasi di Gunung Emei, dengan demikian telah dijuluki sebagai pelindung wilayah dan pelindung Buddha dari Biara tersebut.

Sebelum bertemu dengan patung Samantabhadra terlebih dahulu kami disambut oleh patung-patung gajah. Berjalan melewatinya akan dipertemukan dengan 2 Kuil, tempat para peziarah Buddha melakukan ritualnya. Semua bangunan tersebut berada persis di puncak Gunung Emei.

Kami berempat dibuat melongo berdecak kagum akan kecantikan bangunan-bangunan itu dan pemandangan di atas puncak yang terlampau indah,sangat menakjubkan. Rasa syukur yang tak terhingga bisa berada di sini dan untuk menikmati persembahan Sang Pencipta Alam.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED