Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 16 Nov 2018 11:30 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Sejuknya Desa Wisata Malasari, Bikin Malas Pulang!

Derry N
d'travelers
Foto 1 dari 5
Pintu masuk Taman Nasional Gunung Halimun.
Pintu masuk Taman Nasional Gunung Halimun.
detikTravel Community - Liburan ke Desa Wisata Malasari sungguh menyenangkan. Alamnya yang asri dan kearifan lokal yang terjaga, bikin malas pulang!

Bagi traveler yang menyukai petualangan di alam liar, Desa Wisata Malasari yang berada di dalam taman nasional hutan hujan tropis yang terbesar di Pulau Jawa ini sangat cocok untuk menyalurkan hobi traveler tersebut. Selain menyuguhkan keindahan panorama alam sekitar, traveler juga bisa mengetahui adat dan kearifan lokal secara langsung.

Pada hari sabtu (10/11/2018), saya dan beberapa teman (9 orang) menuju ke Desa Wisata Malasari yang berada di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak pada pagi hari dengan mengendarai 7 sepeda motor (3 sepeda motor saling berboncengan) melewati rute Parung - Ciampea - Leuwiliang - Leuwi Sadeng - Nanggung berdasarkan rute yang tertera pada Gmap yang berjarak sekitar 57 km dan harus di tempuh selama 2.5 jam yang di mulai dari Parung dengan kondisi cuaca yang sangat cerah serta medan jalan yang landai dan sesekali terjebak macet di pasar Ciampea dan pasar Leuwiliang.

Setelah melewati kemacetan, kami terus berkendara hingga melewati wilayah Leuwi Sadeng kemudian memasuki wilayah Nanggung dengan medan jalan yang berkelok-kelok dan seketika cuaca berubah, awan gelap mulai menghiasi langit yang disertai dengan hembusan udara dingin yang mulai menjalar ke seluruh tubuh dan mengiris setiap inci kulit.

Namun di pertengahan wilayah Nanggung, kami melewati jalan pintas seperti yang tertera pada Gmap dengan medan jalan yang menanjak ke atas yang luasnya hanya seukuran satu mobil sedan dengan melewati rumah-rumah penduduk. Dan sekitar kurang lebih 4 km kami lalui, medan jalan berubah menjadi bebatuan yang naik-turun dengan panorama persawahan yang sudah menguning.

Sementara awan gelap yang sedari tadi menghiasi langit seakan tidak mampu membendung air yang di topangnya. Dan sesaat kemudian hujan gerimis turun perlahan-lahan lalu kami segera menepi sejenak di salah satu rumah warga untuk memakai jas hujan. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan kembali dengan penuh hati-hati karena medan jalan yang bebatuan serta menurun tajam dan sangat licin.

Beberapa meter ke depan terdapat pertigaan jalan, cuaca semakin tidak bersahabat, lantas saya melihat sebuah bengkel yang menjadi satu dengan rumah lalu masuk ke dalamnya sambil menunggu 2 sepeda motor yang tertinggal di belakang sementara 4 sepeda motor sudah berada di atas dan menunggu di sana. Sejurus kemudian, hujan turun semakin deras seiring dengan berjalannya waktu yang diiringi dengan hembusan udara dingin yang mulai bergejolak merasuki tubuh.

Kondisi tubuh yang sedikit mulai melemah karena perjalanan yang cukup menguras tenaga di tambah lagi dengan cuaca yang tiba-tiba berubah dari panas ke dingin, seketika saya merasakan sesuatu yang tidak enak di dalam tubuh, saya pun langsung mengambil Tolak Angin sebagai obat herbal dari dalam ransel untuk mengatasi masuk angin dan langsung meminumnya sebelum terserang masuk angin yang akan mengganggu perjalanan. Rasa hangat begitu terasa ketika obat herbal itu menjalar ke dalam tenggorokan.

Dan beberapa saat kemudian, 2 sepeda motor yang tertinggal di belakang mulai datang dan langsung masuk ke dalam bengkel tempat saya berteduh lalu duduk menunggu sambil beristirahat selama kurang lebih 2 jam hingga hujan sudah benar-benar mereda dan perjalanan pun dilanjutkan lalu bertemu dengan beberapa teman yang berhenti menunggu sedang berteduh di rumah warga.

Setelah melewati jalan yang berbatu, medan jalan kembali teraspal dengan kontur yang naik - turun dan sekitar kurang lebih menempuh 1.5 km, kami sudah berada di posko pintu masuk Taman Nasional Gunung Halimun yang langsung di sambut oleh beberapa penjaga pos. Rencana mau kemping pun akhirnya teralihkan karena faktor cuaca dan kami memutuskan untuk bermalam di homestay yang berada di Kampung Citalahab.

Taman Nasional Gunung Halimun merupakan kawasan konservasi dengan luas 113.357 hektare dan telah ditetapkan sebagai hutan lindung sejak tahun 1924 (luasnya ketika itu 39.941 hektare). Dan pada tahun 1935 status kawasan hutan di ubah menjadi Cagar Alam Halimun Salak sampai dengan tahun 1992 yang kemudian ditetapkan menjadi Taman Nasional Gunung Halimun Salak yang mencakup 3 wilayah (Bogor, Banten serta Sukabumi) yang melingkupi Gunung Halimun (1.929 mdpl) dan Gunung Salak (2.211 mdpl) yang merupakan rumah bagi 23 spesies mamalia, dua diantaranya adalah endemik dan terancam punah (yaitu Siamang dan Lutung Beruban), 500 spesies tumbuhan dan juga sarang bagi 200 spesies burung.

Setelah itu, perjalanan pun dilanjutkan kembali dengan memasuki area Taman Nasional Gunung Halimun dan harus menempuh jarak 17 km untuk mencapai Kampung Citalahab tempat kami bermalam. 2.5 km pertama medan jalan teraspal dengan baik dan 14.5 km merupakan jalan yang berbatu bercampur tanah merah dan genangan air kemudian melewati area perbukitan yang merupakan perkebunan teh.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih sekitar 7 km, kami berhenti sejenak untuk beristirahat dan menunggu beberapa teman yang tertinggal di belakang sambil melihat pemandangan alam sekitar yang di dominasi perbukitan serta kabut yang seakan berjalan menjalar di antara perbukitan. Setelah semuanya berkumpul, rintik hujan kembali datang dan kami harus memakai jas hujan kembali.

Kemudian perjalanan pun dilanjutkan kembali menuju Kampung Citalahab dengan melewati 2 kampung yang jaraknya sangat berjauhan dan ketika melewati sebuah pabrik teh perlahan-lahan gelap malam mulai mengikis terang dan kami harus menempuh sekitar 5 km lagi untuk sampai di Kampung Citalahab.

Udara dingin yang menggeliat di sekujur tubuh bercampur dengan rasa lelah yang tak terbilang disertai dengan pandangan yang sangat terbatas karena gelap malam dan hampir menghilangkan konsentrasi saat berkendara melintasi jalan yang berbatu dan sedikit licin sambil berharap tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan karena di sepanjang Taman Nasional Gunung Halimun tidak ada bengkel.

Sekitar pukul 19.00 WIB, setelah menempuh perjalanan yang sangat panjang dan menguras tenaga, akhirnya kami tiba di homestay handa yang berada di Kampung Citalahab. Dalam dingin yang berkecamuk akibat hujan, kami beristirahat sejenak di teras homestay yang beralaskan tikar sambil mengembalikan energi yang terkuras selama berkendara. Sementara kondisi tubuh saya mulai menurun dan sedikit gemetar karena menahan udara dingin dan jaket yang sedikit basah akibat hujan.

Tidak ingin masuk angin, lantas saya langsung mengambil Tolak Angin kembali dari dalam ransel. Ada dua cara untuk meminum obat herbal ini, cara pertama bisa di minum langsung dari dalam sachet dan cara kedua bisa di campur dengan air panas dengan takaran 200 ml seperti jamu. Saya pun meminumnya dengan cara yang kedua sebagai upaya untuk mengatasi masuk angin yang kapan saja bisa datang. Perlahan-lahan saya menyeruputnya dan kehangatan pun terasa di sekujur tubuh saat obat herbal itu melewati tenggorokan. Setelah meminum obat herbal Tolak Angin, kekhawatiran masuk angin pun sirna.

Beberapa saat kemudian, kami makan malam bersama di dalam homestay dengan menu makan ala kadarnya sementara hujan semakin deras. Dan rencananya sehabis makan malam mau trekking ke dalam hutan untuk melihat Glowing Mushroom (jamur yang menyala) tetapi karena hujan yang tak kunjung berhenti, rencana tersebut pun dibatalkan dan kami hanya duduk berkumpul di dalam homestay sambil mengobrol hingga larut malam.

Rasa kantuk mulai menggantung di kantung mata, lantas saya masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Biaya menginap di homestay handa sebesar Rp 150.000 per kamar yang untuk 2 orang sementara untuk makan sebesar Rp 35.000 per piring. Untuk tiket masuk ke Taman Nasional Gunung Halimun sebesar Rp 5.000 per orang dan untuk biaya pemandu Rp.135.000 per hari.

Pada hari berikutnya, sekitar pukul 05.00 WIB, saya terbangun dari tidur lalu beranjak keluar kamar dalam balutan udara dingin khas pegunungan dan melihat teman-teman yang masih terlelap dalam tidurnya di dalam kamar masing-masing. Lantas saya keluar dari homestay dan berjalan sendiri dalam keheningan yang menggeliat berbalutkan udara dingin yang mengiris setiap inci kulit.

Setelah melewati gerbang pintu masuk homestay, lantas saya trekking ke atas perbukitan yang dipenuhi dengan perkebunan teh selama kurang lebih 10 menit lalu duduk di sebuah gazebo kosong ketika sudah berada di atas puncak. Kedua mata saya arahkan ke ufuk timur melihat matahari yang perlahan-lahan merangkak naik dari balik bukit yang tertutup oleh kabut tebal namun sayangnya panorama lanskap Gunung Salak tidak terlihat dengan jelas karena tertutupi oleh kabut yang sangat tebal tetapi sunrise terlihat begitu apik dengan sempurna mengingat semalam habis di guyur dengan hujan deras.

Desa wisata Malasari merupakan kombinasi lanskap geografis yang berpadu dengan budaya dan adat istiadat. Lanskap buatan berupa persawahan terasering yang indahnya laksana terasering di Bali dan perkebunan teh Nirmala Agung yang di tata sedemikian rupa oleh para leluhur penduduk malasari dan Pemerintahan Belanda sehingga menampilkan pemandangan yang indah nan eksotik. Selain itu, bentang alam nan indah ini juga menyimpan beragam flora dan fauna.

Secara adminstratif, Desa Malasari memiliki 6.470 hektare atau 78% dari total luasan desa sebesar yang seluas 8.262,22 hektare adalah Taman Nasional Gunung Halimun Salak, sebesar 971,22 hektare atau 11.8% merupakan perkebunan teh Nirmala Agung dan sisanya sebagian besar merupakan persawahan dan kebun-kebun masyarakat.

Dan seiring dengan berjalannya waktu, matahari mulai meninggi sesuai dengan garis peredarannya dan beberapa petani teh mulai terlihat melakukan aktifitasnya, lalu saya kembali turun menuju ke homestay. Sesampainya di sana, beberapa teman sudah terlihat bangun kemudian sarapan bersama dengan menu ala kadarnya dan cuaca saat itu sangat cerah.

Ketika menjelang siang, kami memutuskan melewati jalur yang berbeda untuk kembali yang bisa menembus ke wilayah Leuwiliang dan Parung Kuda, Sukabumi. Dan kami harus menempuh jarak selama 16 km dengan medan jalan yang berbatu dan sesekali menurun dengan pemandangan rimbunnya pepohonan di sisi kanan-kiri. Kami juga melewati Curug Macan serta Canopy Trail (jembatan gantung) yang berada di penginapan Cikaniki yang menjadi akses masuk untuk berwisata Canopy Trail. Kami tidak sempat untuk mengunjungi kedua tempat tersebut dan hanya melewati saja mengingat faktor cuaca yang setiap saat berubah.

Beberapa kali kami beristirahat untuk merileksasikan otot-otot yang menegang selama perjalanan di tengah-tengah hutan yang terbelah menjadi akses jalan dalam suasana hening. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan kembali hingga berada di sebuah perkampungan lalu kami beristirahat kembali di sebuah warung untuk melepas dahaga dan mengembalikan tenaga yang terkuras saat berkendara.

Kemudian langit kembali tertutup awan hitam, kami segera bergegas sebelum hujan turun. Dan sesampainya di perkebunan teh Cianten, kami berhenti sejenak untuk beristirahat sambil melihat panorama perkebunan teh dan seketika hujan pun turun dengan derasnya, dan kami segera berlari ke sebuah masjid yang tidak jauh dari perkebunan untuk berteduh.

Sekitar 1 jam berlalu, hujan mulai sedikit mereda, kami segera memakai jas hujan lalu melanjutkan perjalanan kembali melewati medan jalan yang sudah terpaving beton dan penuh kelokan-kelokan tajam khas perbukitan. Entah sudah berapa lama kami berkendara di bawah rintikan hujan berbalut hembusan udara dingin dalam suasana hening yang menggeliat, sampai akhirnya kami sudah berada di wilayah Leuwiliang. Dan di tempat inilah kami berpisah, masing-masing melewati rute yang berbeda untuk kembali ke rumah masing-masing.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED