Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 30 Nov 2018 14:12 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Mau Seharian Main di Solo, Ini Destinasinya

Karina Ayu Budiani
d'travelers
Foto 1 dari 5
De Tjolomadoe di malam hari
De Tjolomadoe di malam hari
detikTravel Community - Liburan sehari di Solo, banyak juga tempat yang dapat didatangi. Traveler sekaligus bisa wisata kuliner lokal yang lezat.

Mampir ke kota Solo saat sedang liburan di Yogyakarta ternyata bisa menjadi itinerary seru supaya tidak bosan hanya eksplorasi satu kota saja. Mengapa? Karena ada fasilitas kereta Prambanan Ekspress (Prameks) yang melayani rute Yogya-Solo dengan waktu tempuh yang singkat.

Biayanya hanya Rp 8.000 saja. Meski perlu diingat bahwa penumpang kereta rute Solo-Yogya relaif lebih ramai, khususnya di akhir pekan, dibandingkan rute Yogya-Solo. Jadi harus siap-siap mengantre dari pagi hari atau membeli tiket satu hari sebelumnya. Cukup disayangkan karena tidak tersedia pembelian online. Mungkin dikarenakan jumlah kereta yang terbatas.

Trip singkat di Solo saya mulai dari siang hari karena saya naik Prameks dari Stasiun Tugu Yogyakarta tepat pukul 09.05 WIB dan tiba di Solo pukul 10.17 WIB. Rasa lapar membuat saya lanjutkan perjalanan mencari pecel khas Solo.

Sibuk mencari-cari rekomandasi di internet, akhirnya saya mencoba pecel dengan saus wijen di rumah makan Pecel Solo di Turisari. Perbedaan utamanya adalah warna bumbu pecel menjadi agak hitam pekat. Sekilas mirip warna bumbu rujak cingur. Pilhan sayuran pecel di Solo pun beragam ada kembang turi dan daun kenikir, yang biasa ditemui juga dalam racikan pecel di wilayah Jawa Timur.

Usai perut kenyang, saya menuju Pasar Triwindu yang menjual aneka barang antik. Pasar dua lantai ini menjual aneka barang antik, baik yang untuk dipajang maupun dipakai seperti radio, kipas angin, lampu gantung, piring, gelas, dan lain sebagainya.

Di antara berbagai barang antik yang saya lihat, saya menemukan kacamata jadul dengan warna lensa yang sangat oldies. Selain itu saya juga menemukan satu toko yang menjual kebaya-kebaya vintage dengan harga miring. Saya akhirnya memutuskan membeli satu kebaya dengan harga hanya Rp 50.000.

Selanjutnya saya ke Kampung Batik Laweyan. Ini adalah kampung batik yang terkenal di kota Solo. Sebaiknya datang sebelum jam 16.00 WIB supaya kita bisa melihat proses pembuatan batik yang biasanya berada di belakang showroom batik di rumah-rumah mulai dari menggambar motif dengan canting atau cap, pewarnaan, pe-lorod-an lapisan lilin, hingga penjemuran.

Ada baiknya menggunakan jasa tukang becak sekaligus sebagai pemandu untuk berbelanja batik. Selain mendapat transportasi berkeliling Kampung batik Laweyan, kita juga bisa direkomendasikan tempat membeli batik sesuai keinginan kita.

Pastikan kita menanyakan bayarannya sekaligus menyampaikan keinginan kita membeli batik seperti apa. Hal ini tidak perlu kalian lakukan jika sudah memiliki toko batik langganan.

Puas habiskan sore berkelling Laweyan, malam harinya saya menuju De Tjolomadoe menggunakan motor bersama seorang teman. Karena kunjungan ini tidak direncanakan, saya lupa membawa jaket dan harus menembus angin malam dari pusat kota Solo menuju perbatasan Kabupaten Karanganyar untuk sampai di De Tjolomadoe.

Akibatnya badan terasa tidak enak begitu turun dari motor. Untungnya saya selalu sedia Tolak Angin dan segera saja saya minum untuk mengatasi masuk angin. Akhirnya bisa lanjut berfoto dengan nyaman di sekitar De Tjolomadoe.

De Tjolomadoe tergolong tempat wisata baru yang sebenarnya bukan berada di wilayah Solo melainkan di wilayah Kabupaten Karanganyar yang bertetangga dekat dengan kota Solo. Bangunan bekas parik gula yang didirikan tahun 1861 ini direvitalisasi menjadi objek wisata.

Di dalamnya masih terdapat mesin-mesin asli yang dulu digunakan di pabrik gula. Selain itu ada pula venue untuk berbagai perhelatan. Meski saya tidak bisa melihat ke dalam karena sudah tutup, namun rasanya lebih seru untuk mengunjungi De Tjolomadoe di malam hari karena kesan artisitik dari bangunan menjadi lebih cantik diterangi lampu temaram.

Keesokan harinya sebelum saya kembali ke Yogyakarta menggunakan Prameks dari Solo, saya sempatkan diri mampir untuk kulineran di Pasar Gede. Pasar yang menjual segala kebutuhan pangan warga Solo ini terkenal sebagai tempat wisata kuliner jajanan khas Solo, seperti cabuk rambak, es dawet, lenjongan (jajan pasar), sosis solo, brem solo, wajik, jenang, dan lain sebagainya.

Saya memilih untuk menikmati sepincuk cabuk rambak yakni kerupuk karak dan ketupat yang disiram bumbu kacang, serta semangkuk Es Dawet Telasih Bu Darmi yang isinya super lengkap yakni dawet, ketan sumsum, biji selasih, dan tape ketan hitam diberi kuah santan dan gula cair. Sebenarnya saya masih ingin jajan yang lain, tapi saya rasa dua itu cukup sebagai pengganjal perut untuk persiapan kembali ke Yogyakarta.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA