Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 13 Jan 2019 06:00 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Si Megah Rammang-Rammang, Karst Terbesar Ketiga Dunia

Neny Setiyowati
d'travelers
Foto 1 dari 4
Rammang-Rammang terhampar luas dan megah. Merupakan karst terbesar ketiga di dunia dengan luas 45000 hektar.
Rammang-Rammang terhampar luas dan megah. Merupakan karst terbesar ketiga di dunia dengan luas 45000 hektar.
detikTravel Community - Rammang-Rammang memang sangat popular di Sulawesi Selatan. Gugusan pegunungan karst ini katanya terbesar ketiga di dunia. Tentunya patut untuk traveler jelajahi.

Sangat sedikit negara yang memiliki pegunungan karst( kapur). Terbesar pertama di China, kedua di Madagaskar. Kita layak berbangga karena yang ketiga ada di Sulawesi Selatan. Negara Asia lain yang memiliki gunung kapur adalah Vietnam. Jadilah pegunungan karst adalah salah satu pesona Asia.

Rammang-Rammang terletak di Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, sekitar 40 KM dari Kota Makassar. Kira-kira menempuh waktu 2 jam perjalanan dari Makassar. Kami yang sedang berada di Sulawesi Selatan juga menjadwalkan untuk mendatanginya. Kebetulan bus yang kami tumpangi dari Toraja ke Makassar akan melewati area wisata Rammang-Rammang. Kami pun berpesan kepada sopir untuk menurunkan kami di sana.

Sekitar pukul 03.30 pagi, asisten sopir membangunkan kami, bus sudah tiba di Rammang-Rammang. Kami diturunkan di pinggir jalan raya di pagi buta yang sepi tak ada kendaraan melintas. Sayup-sayup terdengar adzan Subuh berkumandang. Antara ngantuk, capek dan benar-benar belum sadar tapi kami harus menyadarkan diri secepatnya untuk berpikir kemana akan pergi. Karena sekarang jelas belum buka dan masih ada 5 jam untuk istirahat. Kami putuskan untuk mencari penginapan. Yang terdekat masih 2 KM lagi.

Berbekal senter HP kami berjalan dari jalan raya menuju jalanan desa yang semakin lama semakin ke pelosok dengan jalanan sempit mengikuti peta. Beberapa kotoran kambing terlihat di jalanan. Terdengar suara imam yang sedang memimpin salat di sebuah masjid yang kami lewati. Di map menunjukan titik nol KM yang artinya sudah sampai tapi penginapannya belum tampak, kami pun berhenti di sebuah rumah panggung dan duduk di bangku luarnya. Kami curiga mungkin ini penginapannya, tidak ada penanda, karena seperti rumah warga pada umumnya. Beberapa ciri bangunan rumah tampak seperti di foto. Selang beberapa menit tampak suara pintu dibuka dari dalam muncul seorang ibu paruh baya menyapa kami. Dia memberitahu tidak ada kamar kosong. Lalu dia kembali ke dalam dan membangunkan anaknya yang fasih berbahasa Inggris menyapa teman saya.

Dia menyarankan kami untuk tinggal di rumah kerabatnya yang tidak jauh dari sini. Mereka pun mengantar kami melintasi sungai kecil yang menyadarkan keberadaan kami yang benar-benar di pelosok desa. Sampailah kami di sebuah rumah panggung yang tidak jauh berbeda dengan rumah sebelumnya. Tiba-tiba terdengar ucapan salam membelakangi kami, ketika kami menoleh tampak seorang bapak dengan baju muslim rapi lengkap dengan peci seperti baru datang dari masjid. Rupanya bapak empunya rumah adalah imam masjid yang terdengar suaranya tadi.

Bersama istri, dia menunjukkan kamar tidur dan kamar mandi. Kami tidak punya pilihan lain dan tidak etis untuk menolak karena sudah menyibukkan orang-orang di pagi buta. Kami hanya perlu tempat tidur dan istirahat. Tempat pukul 09.00 kami bangun dan segera membersihkan diri. Ibu yang ramah sudah menunggu di teras dengan hidangan sarapan, nasi, ikan goreng, sayur dan sambal. Jadi ingat masakan ibu. Sambil mendengar si ibu bercerita, kami santap sarapan dengan lahap dan tak henti-hentinya mengagumi pegunungan kapur yang tampak di depan mata. Megah sekali. Siapapun pasti ingin memulai hari seperti ini. Sungguh nikmat.

Selesai sarapan kami kembali ke dalam kamar untuk ambil tas dan bersiap. Sesuai saran si ibu kami pun berjalan ke dermaga yang jaraknya masih 1,5 km lagi untuk mencari perahu yang akan membawa kami keliling Rammang-Rammang. Karena harus melintasi sungai untuk sampai ke satu titik ke titik lainnya. Perjalanan menuju dermaga terasa indah sekali dengan pegunungan karst yang tampak di sepanjang jalan. Meski terik matahari menyengat tapi tidak begitu terasa. Hanya rasa senang dan damai yang menyelimuti kami. Terlebih lambaian tangan warga dengan sapaan dan senyum tulusnya yang sangat antusias menyapa kami. Semuanya masih sangat alami, tidak hanya alamnya tapi juga para penduduknya.

Semua rumah di kampung ini berbentuk panggung. Di bawahnya digunakan untuk berternak. Jarak antara satu rumah ke lainnya tidak saling berdekatan. Menandakan lahan mereka cukup luas yang juga dipakai untuk berladang dan empang. Harga sewa perahu Rp 200 ribu untuk PP yang bisa muat 4 penumpang dan sopir. Harga yang berlaku sesuai ketetapan pemda setempat. Jadi tidak perlu khawatir. Sopir perahu siap mengantar kemanapun kita pergi. Kalau tidak ada ide, sopir akan memberi saran. Spot menarik di sini adalah Taman Hutan Batu Kapur, Telaga Bidadari, Gua Berlian, Gua Telapak Tangan, Kampung Berua dan Sungai Pute. Sungai Pute adalah sungai yang disusuri perahu untuk menjangkau satu tempat ke tempat lainnya dengan pemandangan eksotika ala pedalaman.

Sopir perahu dengan setia menunggu penumpang yang menjelajahi tempat-tempat tersebut tanpa batas waktu. Luas karst Rammang-Rammang mencakup 45.000 hektar. Memerlukan banyak trekking untuk penjelajahan ke seluruh area dengan jalanan rata dan ada juga yang menanjak mendaki bukit, menyusuri sawah, ladang, kebun, empang dan hewan-hewan ternak.

Diperkirakan Rammang-Rammang sudah terbentuk sejak 30 juta tahun lalu. Namun baru dihuni manusia 40 ribu tahun lalu. Terbukti dari tulisan tangan, simbol-simbol yang ada di dinding gunung yang masih ada sampai sekarang. Dalam bahasa Bugis, Rammang-Rammang berarti awan atau kabut. Dinamakan demikian karena kondisi alam setempat yang selalu diselimuti awan dan kabut tebal di pagi hari. Wisata Rammang-Rammang merupakan hasil perjuangan warga yang berhasil menggagalkan aktivitas penambangan batu kapur oleh 3 perusahaan China yang sudah mendapatkan izin, bahkan salah satunya sudah beroperasi. Hal itu terjadi pada tahun 2008. Hingga izin berhasil dicabut pada tahun 2013. Karena warga setempat sadar bahwa penambangan hanya akan merusak alam.

Sebagai gantinya pada tahun 2014 warga mengembangkan kawasan ini sebagai tempat wisata. Setelah dibuka untuk umum Rammang-Rammang menjadi kian popular terlebih dengan adanya internet yang terjangkau ke seluruh pelosok beserta maraknya social media. Desa pun jadi ada pemasukan. Dengan adanya retribusi dari wisatawan dari tiket masuk yang 25 persen masuk ke kas desa dan sisanya untuk operasional kelompok sadar wisata dan perbaikan infrastruktur pendukung. Kalau tidak ada semangat juang warga yang menolak penambangan, mungkin kita tidak akan bisa menikmati kemegahan Rammang-Rammang.

Semangat inilah yang patut kita contoh untuk lebih mencintai alam,menjaga dan melestarikannya dan bila mampu untuk mengembangkan potensinya menjadi tempat wisata supaya kita bisa nikmati bersama.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED

Jebakan di Jalur Sepeda

Minggu, 26 Mei 2019 08:55 WIB

Jalur sepeda di pedestrian adalah hal yang positif seperti di Bogor. Tapi kalau bisa, jalurnya jangan menabrak pohon dong.