Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 19 Jan 2019 10:50 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Taj Mahal, Mumbai dan Surganya Bollywood

NANDA NAHDHIYAH
d'travelers
Foto 1 dari 4
Sore hari di Mumbai
Sore hari di Mumbai
detikTravel Community - Bagi traveler pecinta India dan film Bollywood tentunya wajib liburan ke Agra dan Mumbai. Lihatlah pesona Taj Mahal hingga kota yang jadi asal film Bollywood.

Saya percaya bahwa mendewasa dalam pikiran dan perbuatan dapat diraih dengan seberapa sering seseorang menambah pengalaman, pengetahuan, dan pertemanan. Saya juga percaya bahwa salah satu cara untuk mendapatkan paket lengkap tersebut ialah melalui travelling.

Mengunjungi tempat baru, bertemu orang baru, belajar budaya baru, dan mencicipi kuliner baru merupakan hal yang sangat menyenangkan. Namun, dengan segenap keterbatasan finansial yang sebagian besar masih bergantung kepada orang tua, rasanya travelling sesuai keinginan merupakan prioritas kesekian bagi seorang pencari ilmu seperti saya.

Setelah beberapa waktu, akhirnya saya sadari bahwa hasrat travelling dapat saya wujudkan sembari mengikuti kegiatan pengembangan diri yang dibiayai penuh, sehingga urusan pembiayaan tak lagi menjadi kekhawatiran terbesar. Awal tahun ini, saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti suatu event di India. Rasa excited pun sempat bergejolak dalam dada menjelang keberangkatan. Rasa penasaran memenuhi ruang pikiran untuk memijak salah satu destinasi terbaik pesona Asia, surga Bollywood.

Perjalanan dari Jakarta menuju Mumbai menghabiskan waktu 10 jam setelah sempat transit di Bangkok sekitar 2 jam. Perjalanan yang terbilang cukup melelahkan namun terbayar tuntas dengan aroma mawar dan cokelat yang saya dapatkan saat merebah di kamar hotel di wilayah Cuffe Parade.

Mengitari Mumbai serasa berwisata di negara lain namun dengan suasana Hindu yang kental. Paket komplit pokoknya. Bangunan ciri khas Eropa berdiri kokoh dan menjulang. Wajar saja, India memang koloni Inggris pada masa lampau. Sementara di sisi lain, kepadatan lalu lintas Mumbai yang diwakilkan oleh taksi hitam-kuning dan bus tua, persis seperti yang digambarkan pada film-film Bollywood, menjadi satu kesyukuran bagi saya yang hidup di Indonesia.

Saya menghabiskan waktu di Mumbai selama 3 hari, berkunjung ke Film City dan beberapa tempat lainnya. Perlahan lidah saya mulai berkompromi dengan rempah-rempah khas India tiap kali waktu makan tiba. Saya melanjutkan perjalanan menuju Pune dan tinggal di sana selama 2 hari.

Dari Pune, saya bertolak menuju New Delhi. Suhu udara berubah drastis. Saat itu musim dingin sedang berada di penghujung waktu. Namun, menurut kawan yang saya temui di sana suhu dingin New Delhi belum seberapa dibanding suhu daerah lain di bagian utara seperti Kashmir.

Sebelum berangkat, saya sudah mencari tahu informasi musim dan kecenderungan cuaca di sana. Kondisi tersebut membuat tubuh seseorang rentan terserang masuk angin, sakit kepala, flu, batuk, bahkan demam. Oleh karena itu, atas rekomendasi mama, saya sengaja membawa dua kotak obat herbal siap minum. Sejak lama, anggota keluarga dibiasakan untuk tidak langsung mengonsumsi obat medik, tetapi terlebih dahulu meminum obat herbal yang diracik di dapur sendiri. 

Di New Delhi, saya mengunjungi Humayun Tomb, komplek pemakaman batu merah Maharaja Mughal Humayun yang sengaja dibuat oleh sang istri, Hamida Banu Begam. Saya juga mengunjungi komplek kuil Swaminarayan Akshardham di kawasan Pandav Nagar yang mencakup berbagai arsitektur, nilai spiritual, dan budaya India.

Sayang, saya tidak dapat mengabadikan indahnya momen berdiri di depan kuil utama saat matahari mulai terbenam. Paduan cahaya jingga dan nila yang memantul di seluruh sisi kuil menjadi pemandangan yang hanya dapat disimpan oleh memori di kepala. Membawa gawai dan kamera sangat tidak dibolehkan, suatu strategi yang matang untuk mendatangkan wisatawan melalui cerita dari mulut ke mulut dan peningkatan pendapatan bagi penyedia jasa foto cetak di area tersebut.

Selain itu, tidak lengkap rasanya datang ke India tanpa mengunjungi ikon keajaiban dunia, Taj Mahal, di Agra. Perjalanan dari New Delhi menuju Agra ditempuh selama 4 jam menggunakan bus. Seperti Humayun Tomb, Taj Mahal juga dibangun sebagai bukti cinta, yakni cinta sang suami, Raja Shah Jahan, kepada mendiang istrinya, Ratu Mumtaz Mahal.

Bangunan ini merupakan makam muslim yang dibangun menggunakan marmer dan pualam putih dengan ukiran kaligrafi. Di sisi kanan-kirinya terdapat masjid dan tempat beristirahat bagi pengunjung. Pengunjung diperbolehkan mengabadikan momen sendiri di pelataran Taj Mahal kecuali saat memasuki ruang makam. Beberapa petugas mengelilingi makam dan mengawasi pengunjung untuk tidak mengambil gambar di makam tersebut.

Terakhir, saya mengunjungi pasar seni Dilli Haat, salah satu pusat kerajinan tangan yang terkenal di India. Ada banyak barang yang ditawarkan, seperti pakaian, tas, alas kaki, aksesoris, perabot rumah tangga, dan lain-lain. Pengunjung harus pandai menawar barang kepada Pita (bapak) dan Mata (ibu), pedagang di sana. Menawar barang dapat disertai senyuman dan candaan yang sesuai agar mereka luluh kepada wisatawan asing tanpa membuatnya rugi berdagang. Saya beruntung, dua kios memberi bonus barang sebagai ucapan selamat jalan untuk pulang ke Indonesia.

Pukul 00.25 memasuki hari kesebelas, saya menghirup panjang udara dingin di bandara Indira Gandhi, pertanda perjalanan ini hampir usai. Pengalaman travelling, baik dalam maupun luar negeri, selalu menyenangkan jika kita tahu cara menjalani dan mensyukurinya.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED