Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 25 Mar 2019 11:30 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Cerita Semalam Bersama Baduy Dalam

Foto 1 dari 5
Teman Teman Baru
Teman Teman Baru
detikTravel Community - Belajar kesedarhanaan bisa kamu dilihat dari kehidupan Suku Baduy Dalam. Kental akan tradisi dan jauh dari teknologi. Pengalaman yang baru!

Dalam Kesederhanaan, Ku Belajar dari Baduy. Terbawa kembali langkahku untuk terus mencari hal-hal baru dan pengalaman baru. Perjalanan ku mulai dari kota dimana saya merantau ya Kota Semarang. Tahun 2018 yang segera berakhir, aku tak mau hanya diam di kost yang selalu dibayangi oleh tugas kampus.

Banyak orang diluar sana lebih memilih untuk pergi ke tempat yang ramai dan pesta kembang api, banyak juga yang hanya dirumah bersama keluarga, tapi juga tak sedikit orang memilih untuk pergi ke tempat yang jauh dari kota. Tidak pikir panjang, Baduy menjadi salah satu tujuan untuk mengakhiri tahun 2018 dan memulai tahun 2019. Tidak begitu banyak tau tentang Baduy, bermodal nekat dan percaya diri aku berangkat ditemani satu teman seperantauan.

Dari stasiun Tawang sampai juga di stasiun tujuan Pasar Senen dan melanjutkan ke stasiun Tanah Abang dan dengan KRL ke arah Jurang Mangu, singkat cerita aku menginap semalam di rumah kawan. Tiba waktu yang ditunggu ku melanjutkan perjalanan menuju stasiun Rangkas Bitung. Stasiun ini memang menjadi transport apabila akan ke Baduy.

Di stasiun ini aku bertemu dengan peserta open trip yang lain dari berbagai kota. Pihak travel kemudian mengarahkan kita ke sebuah terminal kecil dan disitu sudah siap angkot yang akan mengantar kita ke Baduy. Perjalanan dari stasiun Rangkas Bitung menuju Ciboleger salah satu desa di Baduy sekitar 2 jam.

Desa Ciboleger menjadi pintu masuk apabila mau berkunjung ke Baduy Dalam. Setelah beristirahat sejenak untuk makan siang kami langsung memulai perjalanan yang amat panjang. Ternyata benar, disini jauh dari keramaian kota, tauh dari kata modern. Di setiap langkah rasanya ada saja yang selalu terkesan di hati tak jarang juga menjadi tamparan untuk intropeksi ke diri sendiri.

Setiap peristirahatan juga membawa banyak canda disana. Tak jarang juga ku menyapa warga-warga yang sedang bersantai menikmati hujan, ibu yang sedang menenun, anak kecil yang sedang berduduk disana, bapak yang memikul durian bahkan anak anak kecil yang juga memikul tak hanya satu dua buah durian. Hatiku rasanya teriris dan malu dengan diri sendiri.
Sewaktu istirahat, sempat bertanya ke anak kecil yang sebenarnya pertanyaan yang diluar akal tapi membuat penasaran. Waktu itu masih di Baduy Luar.

Ya, katanya perempuan di baduy diharuskan untuk bisa menenun, dan hasil tenunan dijual sebagai oleh oleh para wisatawan yang berkunjung ataupun untuk membuat pakaiannya sendiri. Masyarakat baduy dikenal dengan pakaian yang bewarna hitam dan putih dengan ikat kepala.

Tak terasa 20.000 lebih langkah kaki, sudah sekitar 6 jam lebih berjalan dengan medan yang berbatu dan licin karena hujan. Selama itu, ku menikamti suasana yang amat sangat damai, tenang dan dengan rasa gemira. Tak mudah untuk menuju ke Baduy Dalam, dengan tubuh yang sulit menyesuaikan suhu, pengalaman naik gunung tak terlalu banyak. Sampai juga disebuah rumah panggung yang terbuat dari kayu (sama dengan baduy luar).
Kami disambut oleh tuan rumah dengan ramah. Lagi dan lagi aku lupa nama tetehnya. Sebelum gelap, aku langsung bersih diri di sungai yang tak jauh dari rumah, hanya di belakang rumah. Yaa di sini tidak ada yang namanya toilet bahkan gaada yang namanya sabun, shampo, pasta gigi dan sikat gigi, apalagi mengenal skincare.

Di sini bener bener memanfaatkan alam yang ada. Kalo mau buang hajat atau mandi ya di sungai. Disini aku ga merasa jijik atau geli, memang aku terlahir di desa.

Sembari menikmati teh hangat yang disajikan di gelas dari bamboe. Di Cibeo, desa tempat aku tinggal semalam, masih menganut leluhur nenek moyang, banyak larangan juga untuk wisatawan yang menginap di baduy dalam. Ga menyalakan elektronik terutama handphone, dan di baduy dalam wisatawan tidak diperbolehkan mengambil gambar.

Di rumah itu benar benar kami menikmati kebersamaan, banyak ngobrol sesama peserta trip lain jadi makin deket. Padahal baru ketemu sehari. Banyak certia di ruang yang hanya di terangi dengan lentera. Sembari menanti makan malam siap. Ada yang unik disini, ya alat makan yang kami gunakan benar benar memanfaatkan dari alam, sendok bambu, gelas bambu, mangkuk bambu.

Pemilik rumah banyak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kami lontarkan karena banyak hal yang membuat kami penasaran. Ternyata kami menjadi tamu wisatawan yang beruntung, pasalnya dikabarkan bahwa terhitung dari Januari-Maret di Baduy Dalam tidak menerima tamu karena ada acara adat/ kawalu. Namun karena satu dan lain hal Kawalu di undur hingga bulan Febuari-April.

Alnuna suara merdu kecapi yang dimainkan Kang Sapri (pemilik rumah) suara gemuruh sungai yang terdengar membuat suasana di ruangan itu tenang dan damai hingga kami tertidur lelap. Dan fajar pun tiba, membawa kesedihan karena waktu cepat merlalu dan mengharuskan kami berpisah untuk kembali ke kota.

Cuaca yang buruk kami memutuskan untuk mengambil jalur tercepat yaitu jalur menuju Desa Cijahe yang ditempuh hanya 1-2 jam saja. Karena itu, kami tidak melewati jembatan akar yang menjadi salah satu icon jika berkunjung ke Baduy.

Baduy, terimakasih banyak atas semua perjalanan dan pelajaran untuk hidup ini. Terjawab semua pertanyaan pertanyaan yang membut saya terkagum dengan Baduy. Mulai dari kesederhanan, kebersamaan, kebahagiaan. Begitu tidak pentingnya teknologi di sana membuat lebih damai, saling membantu semua aku dapat di Baduy.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED