Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 19 Feb 2019 10:30 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Mengenal Sejarah Jakarta Lewat Menara Syahbandar

Bayu Fitri Hutami
d'travelers
Foto 1 dari 5
Plang nama Menara Syahbandar, Jl.Pasar Ikan No.1 Penjaringan Jakarta Utara
Plang nama Menara Syahbandar, Jl.Pasar Ikan No.1 Penjaringan Jakarta Utara
detikTravel Community - Jakarta atau Batavia dulu memiliki banyak sejarah menarik. Salah satunya dapat dilihat melalui Menara Syahbandar di Utara Jakarta.

Indonesia dengan dua pertiga terdiri dari perairan adalah negara kepulauan. Tidak heran jika nenek moyang bangsa Indonesia adalah pelaut tangguh yang menguasai dunia pelayaran. Di akhir pekan pertengahan Januari 2019, saya dan teman berangkat dari Bandung dengan tujuan menyelesaikan keperluan pekerjaan.

Setelah itu kami berencana mengunjungi Menara Syahbandar yang kebetulan tidak jauh dari lokasi tempat kami menyelesaikan keperluan pekerjaan. Langkah awal kami dari Bandung memesan tiket kereta api Argo Parahyangan melalui aplikasi tiket.com.

Tidak ada kendala ketika menjelajah aplikasi tiket.com karena aplikasi dibuat secara user friendly. Terlebih tiket.com sering memberikan diskon promo untuk pelanggan setianya. Langkah-langkahnya sangat mudah. Setelah mengisi jadwal perjalanan yang diinginkan, data penumpang dan jumlah tiket yang ingin dibeli, segera kami dapat kode booking untuk pembayaran.

Setelah selesai pembayaran, bukti pembayaran dan tket kereta api dengan barcode langsung dikirimkan melalui email. Pokoknya dengan tiket.com #semuaadatiketnya. Pada hari yang ditentukan kami berkumpul di stasiun kereta api Bandung,  dan pukul 06.30 WIB kami pun menaiki kereta Argo Parahyangan menuju Jakarta.

Setiba di Stasiun Gambir Jakarta pukul 09.30 WIB, menjelang pukul 14.00 setelah menyelesaikan pekerjaan kami langsung menuju menuju Menara Syahbandar. Ketertarikan kami mengunjungi menara ini selain kisah pelayarannya, karena kabarnya gedung menara ini dalam posisi miring.

Jejak peninggalan bangsa pelaut terlihat pada Menara Syahbandar yang dibangun pada tahun 1839. Menara Syahbandar terletak di Jl. Pakin, Pasar Ikan Pelabuhan Sunda Kelapa Jakarta Utara. Dahulu menara ini disebut Uitkijk Post yang berfungsi sebagai menara pemantau sekaligus kantor pabean yang memungut pajak kapal-kapal yang hilir mudik keluar masuk kota Batavia melalui pelabuhan Sunda Kelapa saat VOC berkuasa.

Di atas menara ada pos pantau yang digunakan petugas untuk memantau situasi lintas pelayaran pada saat itu. Karena menara ini dibangun di atas tanah rawa dan berada di pinggir jalan raya yang kerap dilalui kendaraan berat, maka seiring berjalannya waktu menara ini menjadi miring posisinya.

Jika berkunjung ke sini, terdapat ruang museum yang menyimpan berbagai model lampu mercu suar sejak jaman dahulu kala. Aneka jenis lampu mercusuar dipamerkan dengan berbagai keterangan. Ada lampu suar kristal yang ditempatkan di puncak rambu-rambu laut. Kemudian ada lampu mercusuar sebagai penerang kapal laut di malam hari serta ada lensa fresnel mercusuar yang berfungsi sebagai kaca pembesar.

Menara ini berukuran 4 x 8 meter dengan tinggi 12 meter.Terdapat 3 tingkat dengan ruangannya masing-masing. Di lantai dasar terdapat prasasti dengan tulisan Tionghoa berbunyi Garis Bujur Nol Batavia. Asal garis ini berdasarkan jawatan survey.

Di lantai dasar dahulu kabarnya digunakan sebagai tempat mengurung awak kapal yang melanggar aturan pelabuhan. Jika kita naik ke puncak Menara Syahbandar, disarankan secara bergantian karena kondisi bangunan yang sudah tua dan kemiringan tangga naiknya hampir tegak lurus.

Tingkat paling atas Menara ini berupa ruang pengamatan berbentuk loteng dengan empat jendela besar yang terbuka lebar. Dari atas sini kita bisa melihat pemandangan Galangan Kapal VOC, kampung Akuarium, pasar ikan sampai Pelabuhan Sunda Kelapa.

Di halaman Menara Syahbandar terdapat tugu Prasasti tahun 1977 yang ditandatangani oleh Gubernur Ali Sadikin. Prasasti ini sebagai penanda Kilometer Nol Jakarta pada waktu itu. Saat ini titik Nol Kilometer dipindahkan di Monumen Nasional Jakarta.

Di samping itu terdapat tujuh meriam tembak peninggalan VOC yang menghadap ke arah tertentu. Kabarnya meriam dipasang untuk menghalau musuh. Secara keseluruhan arsitektur bangunan ini masih dipertahankan menyerupai bentuk aslinya. Jadi ini adalah bangunan bersejarah yang sudah masuk cagar budaya. Seru ya!

BERITA TERKAIT
BACA JUGA