Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 02 Mar 2019 08:35 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Ini Nih Hollywood Mini di Sleman

Jetrani Reza Dias
d'travelers
Foto 1 dari 5
Replika stasiun kereta api beserta lokomotif dan juga sungai
Replika stasiun kereta api beserta lokomotif dan juga sungai
detikTravel Community - Gamplong Studio Alam di Sleman menjadi lokasi syuting sejumlah film. Studio ini pun dijuluki sebagai Hollywood Mini.

Mendengar kata DI Yogyakarta, yang terbayang pasti destinasi wisata yang seolah tidak ada habisnya. Provinsi yang kental budaya ini menyimpan banyak destinasi wisata menarik. Bahkan saya yang asli orang Jogja saja, rasanya belum khatam berbagai tempat wisata di sini.

Sejak pindah ke Jakarta setahun belakangan, saya selalu menyempatkan diri untuk pulang ke Jogja guna menjenguk keluarga yang tinggal di sana sembari berwisata. Demi mewujudkan hal itu, saya selalu pesan tiket melalui aplikasi tiket.com yang ada di ponsel.

Adanya berbagai promo menarik serta fasilitas Smart Reschedule dan Smart Refund membuat perjalanan saya menjadi lebih tenang dan nyaman karena bila terjadi perubahan rencana secara mendadak, customer service tiket.com siap melayani 24 jam setiap hari.

Beragam pilihan moda transportasi dari mulai bus, pesawat, kereta, sewa mobil dan juga hotel tersedia di tiket.com. Saya paling sering mencari promo tiket kereta dan pesawat karena tiket.com selalu memberikan harga terbaik dan masih memberi diskon tambahan. Seperti kemarin, saya mendapat tiket pesawat Jogja-Jakarta PP hanya dengan Rp 741.000 saja, masih dipotong gift voucher yang saya miliki sebesar Rp 300.000.

Setibanya di Jogja, saya mendapat informasi bahwa ada destinasi wisata baru yang sedang dikembangkan bernama Gamplong Studio Alam di kawasan Desa Wisata Gamplong, Moyudan, Sleman. Berjarak sekitar 16 kilometer dari Titik Nol Yogyakarta, Gamplong Studio Alam ini jadi sorotan banyak orang lantaran dijuluki 'Mini Hollywood'.

Julukan ini tentu bukan tanpa alasan. Gamplong Studio Alam ternyata merupakan bekas lokasi syuting film besutan Hanung Bramantyo, yakni Sultan Agung The Untold Love Story kemudian Bumi Manusia, sebuah film yang diadaptasi dari novel fenomenal karya Pramodya Ananta Toer. Saya, ibu dan adik pun menuju ke sana sekitar jam 14.00 siang. Sebagai informasi, studio alam ini buka dari pukul 08.00 pagi hingga pukul 17.00 WIB setiap harinya.

Dari titik 0 kilometer Yogyakarta, saya langsung menuju arah barat, mengikuti jalan utama menuju Jalan Wates. Menyusuri Jalan Wates hingga kilometer 15, di pertigaan lampu merah Klangon saya belok ke kanan. Ikuti jalan terus hingga menyeberangi jembatan yang di bawahnya ada rel kereta, akan ada pertigaan kecil lalu belok ke kiri. Dari situ, tinggal mengikuti petunjuk hingga tiba di lokasi Gamplong Studio Alam.

Setibanya di sana, sudah nampak lahan asri yang dijaga beberapa orang. Lahan seluas kurang lebih 2 hektar yang semula tanah kas milik desa ini berhasil disulap menjadi kawasan Indonesia tahun 1900-an.

Untuk masuk ke sini, pengunjung ternyata tidak dipungut bayaran. Pengunjung dipersilakan memberikan uang kebersihan seikhlasnya di kotak yang telah disediakan tanpa paksaan. Hal ini cukup membuat saya bangga sebagai warga Jogja karena sudah jarang ada tempat wisata gratis seperti ini.

Karena berlatar Kebangkitan Nasional, begitu masuk nampak beberapa bangunan seperti Gerbang Keraton Kerajaan Mataram, Pendopo Keraton, Benteng Batavia beserta replika meriam, kompleks Kampung Mataram, kompleks Kampung Pecinan, dan rumah Jawa kuno. Tak ketinggalan area Kampung Belanda, replika bangunan stasiun dan kereta api serta replika kali beserta perahunya.

Hanung Bramantyo disebut total dalam membangun lokasi ini dengan harapan nantinya dapat digunakan lagi untuk syuting film lainnya. Khusus untuk film Bumi Manusia, oleh Hanung desa ini diubah menjadi Kota Surabaya tepatnya daerah Kranggan zaman dulu.

Menurut pengelola, selepas syuting film Sultan Agung dan Bumi Manusia selesai, studio alam ini dihibahkan untuk pengembangan desa wisata. Studio Alam Gamplong juga cocok untuk wisata edukasi karena para pengunjung bisa belajar budaya dan sejarah sembari menjelajahi setiap sudut bangunan tempo dulu.

Saya, ibu dan adik pun puas berfoto karena sore itu pengunjung tidak terlalu ramai. Kebersihan lokasi pun cukup terjaga karena pengelola menyediakan tempat sampah di berbagai titik. Semoga nanti jika lokasi ini semakin ramai, tidak ada aksi vandalisme maupun pengunjung yang membuang sampah sembarangan.

Untuk bulan depan, saya tidak pulang ke Jogja dulu karena gantian ibu saya yang akan ke Jakarta naik kereta. Semua proses pencarian tiket pun makin mudah karena sekarang #semuaadatiketnya di tiket.com.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED